Abdul Roqib Halo semuanya. Perkenalkan nama saya Abdul Roqib. Seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sidoarjo. Ketertarikan saya pada blog sudah ada sejak 5 tahun yang lalu. Terutama bidang teknologi dan pendidikan.

Angka Jawa

4 min read

angka jawa

Angka Jawa Dalam berbicara tentang angka, tentunya tidak ada habisnya.

Di dalam kehidupan sehari-harinya, Kita selalu dihadapkan yang namanya angka.

Seperti membicarakan harga, waktu, uang, jumlah dan lain-lain tidak terlepas dari sebuah angka.

Untuk masyarakat yang khususnya ada di Jawa, tentunya Kita dituntut untuk mengenal yang namanya angka yang berbahasa Jawa berguna untuk melestarikan kebudayaan warisan nenek moyangnya yaitu warisan budaya Jawa.

Terlebih, angka yang Kita bahas ini karena masuk kurikulum pembelajaran Sekolah Dasar “SD” dan Sekolah Menengah Pertama “SMP” terkait dengan aksara Jawa.

Dalam materi Aksara Jawa sendiri ada yang namanya Aksara Swara, Aksara Murda, Aksara Wilangan dan Aksara Rekan.

Pengertian Angka Jawa

Pengertian Angka Jawa

Bersumber dari Wikipedia, arti Angka Jawa adalah sebuah simbol angka dari Jawa dengan sistem desimal Hindu-Arab. Cara penulisannya angka sedikit berbeda, tidak bisa serta merta ditulis begitu saja.

Angka ini biasanya digunakan secara bersamaan dengan Aksara Jawa, sehingga ada yang menyebutnya dengan sebutan aksara angka.

Meskipun demikian, faktanya adalah menyebutnya bahwa sepenuhnya aksara ini sudah digantikan dengan angka Arab.

Dalam kehidupan sehari-hari orang Jawa lebih sering menggunakan angka biasa, tetapi pengucapannya berbebeda. Secara bahasa, pengucapan angka berbeda dengan Bahasa Indonesia.

Bahkan, aksara ini mempunyai dua penyebut yang berbeda, yaitu secara ngoko atau kasar dan secara krama inggil atau secara halus.

Fungsi Angka Jawa

Fungsi aksara ini tentunya saja sama dengan angka-angka lain pada umumnya. Penulisannya digunakan untuk keperluan :

  • Menulis tanggal.
  • Menulis harga.
  • Menulis tahun.
  • Memulis jumlah.
  • Dan lain-lain.

Meskipun penulisan angka bisa dengan aksara carakan, contohnya adalah angka empat atau papat yang bisa ditulis dengan ꦥꦥꦠ꧀, namun adanya angka bisa membanrtu tulisannya lebih ringkas lagi.

Oleh karena itu, dalam aksara ini sudah ada cara penulisannya supaya lebih padat, singkat dan lebih jelas.

Penulisan Angka Jawa

Aturan Penulisan Angka Jawa

Penulisan aksara atau wilangan pada dasarnya sama dengan tulisan angka latin, sehingga untuk mempelajari sangatlah mudah.

Tulisan aksara wilangan tentunya tidak se sulit aksara murda atau aksara hanacaraka yang lainnya. Berikut ini addalah penulisan angka 1 sampai 9 :

Supaya semakin mudah untuk mengingat atau menghafalkannya, maka perhatikan petunjuk yang ada di bawah ini :

  • Untuk angka 1 merupakan aksara Jawa (Ga)yang di lelet.
  • Untuk angka 2 merupakan aksara Jawa (Nga)yang di lelet.
  • Untuk angka 3 merupakan aksara Jawa (Nga)yang dipengkal.
  • Untuk angka 4 merupakan aksara Jawa (Ma)yang miring.
  • Untuk angka 5 merupakan aksara Jawa (Ma)yang dikurung.
  • Untuk angka 6 merupakan aksara Jawa (e)
  • Untuk angka 7 merupakan aksara Jawa(La).
  • Untuk angka 8 merupakan aksara Jawa (Pa)
  • Untuk angka 9 merupakan aksara Jawa (Ya).
  • Untuk Angka 0 merupakan angka nol di dalam Bahasa Indonesia.

Aturan Penulisan Angka Jawa

Aturan Penulisan Angka Jawa

Jika lebih diperhatikan lagi tulisan angka pada tebel di atas, maka akan menemukan akasara yang sama dengan aksara hanacaraka.

Aksara tersebut adalah tulisan angka 1, 7, dan 9. Oleh karena itu, dibuatlah aturan penulisan aksara supaya tidak salah membacanya.

Berikut ini adalah aturannya : penulisan angka harus didahului serta di akhiri sandhangan pada pangkat ataupun disimbolkan dengan ‘ : ‘.

jika ada angka setelah ada angka Jawa maka angka ada koma atau titik, maka sandhangan pada pangkat cukup ditulis sekali saja untuk sebagai pemisah.

Sebagai contoh bilangan sekawan dasa gangsal “45” jika ditulis angka menjadi꧇꧔꧕꧇.

Filosofi Angka Jawa

Filosofi Angka Jawa

Penyebutan dari Angka Jawa berbeda dengan muklai dari angka 0 hingga tidak terhingga, urutannya sendiri seperti angka pada umumnya, yaitu sama.

Contohnya adalah angka 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya akan di baca siji, loro, telu, papat, lima dan seterusnya.

  • Angka Puluhan

Berbeda lagi untuk angka puluhan, jika belasan maka tingga menambahkan kata las di akhir kata seperti rolas, telulas, dan lain-lain.

Selanjutnya adalah untuk angka kepala dua jika di dalam Bahasa Indonesia.

Pengucapan puluhan ditambah angka yang satunya, seperti angka 21 di baca duapuluh satu.

Berbeda dengan angka bahasa Jawa, yang dimana pengucapannya tidak mengikuti angka sebelumnya ataupun sesudahnya.

Contohnya adalah ketika mengucapkan angka 20an, seperti angka 21, 22, 23, 24 dan seterusnya maka akan menjadi selikur, rolikur, telulikur, patlikur.

Uniknya lagi, perbedaan di dalam pelafalan ternyata mempunyai makna tersendiri yang mendalam tentang kehidupan ini.

Sebut saja dalam angka 20 yang selalu diakhiri dengan kata likur dan ternyata itu merupakan akronim dari lingguh kursi “duduk di kursi”. 

Lingguh kursi tertanya mempunyai arti, yang dimana pada fase 20an, yaitu angka 21 hingga 29 akan berada pada usia yang sedang jaya-jayanya seseorang.

Istilahnya adalah waktunya ketika mendapat sebuah tempat atau kepercayaan di masyarakat mengenai jabatan, profesi dan sejensinya.

  • Angka 25

Seperti layaknya angka kepala dua yang lainnya penyebutan selalu diakhiri dengan kata likur, melainkan selawe.

Karena angka ini mempunyai arti atau makna sendiri dan merupakan singkatan dari seneng-senenge wong lanang lan wong wedok.

Yang berarti suka-sukanya seorang pria dengan perempuan.

Kalimat tersebut mempunyai makna apabila seorang manusia akan berada di fase tertarik dengan lawan jenis, yaitu pria dan perempuan.

Pada umumnya seorang Jawa juga akan melangsungkan pernikahan pada usia tersebut, yang dimana di anggap sudah matang dan mampu dalam membina sebuah rumah tangga.

Oleh karena itu, di angka 25 disebut dengan selawe yang merupakan arti dari fase usia seseorang dan dianggap lebih dewasa.

  • Angka 30 an

Angka 30, 40, 70, 80, 90 pengucapannya masih tetap, yaitu sama seperti pelafalan angka di dalam Bahasa Indonesia.

Misalkan telung puluh atau 30, selanjutnya adalah angka 31 yang berarti telung puluh siji, yang intinya adalah untuk angka puluhan tinggal ditambahkan dengan satuannya.

Namun di sini ada pengecualian untuk angka 25, yang dimana penyebutannya bukan limo likur, melainkan selawe. Itu pun juga mempunyai filosofi yang mendalam, jadi bukan serta merta hanyalah sebuah pengucapan.

Di dalam angka bahasa Jawa, angka-angka unik dan mempunyai pengucapan berbeda dari yang lainnya adalah angka 25, 50, 60.

Misalkan angka 50 dan angka 60, yang dimana pengucapannya bukan lagi limo puluh atau enem puluh melainkan adalah seket dan sewidak.

  • Angka 50

Di dalam Bahasa Jawa seperti Bahasa Indonesia pada umumnya yaitu sampai menambahkan kata puluh setelah pengucapan pertama.

Ketika melafalkan angka 20, 30, 40 akan mejadi rongpuluh, telungpuluh, petangpuluh dan seterusnya.

Berbeda dengan angka 50, angka tersebut tidak disebut dengan limang puluh, tetapi diucapkannya adalah seket dan singkatan dari senenge kethuan. Yang artinya adalah sukanya menggunakan penutup kepala atau kethu.

Nah di angka 50 yang berarti usia seseorang menginjak ke 50 berarti semakin tua dan rumbut pun akan memutih semua.

Maka, orang Jawa kebanyakan suka menggunakan penutup kepala.

Selain itu, untuk mengingatkan seseorang sudah berusia lanjut, maka harus lebih lagi untuk mawas diri.

  • Angka 60

Seperti angka 50, 60 di sini juga mempunyai sebutan yang berbeda dari lainnya, yaitu angka sewidak “60”. Kata tersebut adalah kepanjangan dari sejatine wes wayahe tindak yang berarti sesungguhnya sudah saatnya untuk pergi.

Yang dimana umur 60 seseorang sudah tua dan pada umumnya akan kembali kepada Allah SWT meskipun usianya tidak ada yang tahu.

Di umur ini maka seseorang harus sadar, jika waktunya untuk pulang sudah dekat, maka harus menyiapkan diri untuk perbekalan yang cukup di akhirat nanti.

Arti yang unik dalam hal penyebutan ini syarat akan arti kehidupan. Meksipun tidak terbukti secara ilmiah dan histori, namun bisa menjadi pengingat buat Kita semuanya.

Contoh Soal Angka Jawa

Berikut ini adalah beberapa contoh soal diantaranya adalah :

  • Taun 2020

contoh soal angka jawa

  • Cacahe Siswa 168

contoh soal angka jawa

  • Nomer 17

  • Ndue 6 Pitik, 7 Sapi

contoh soal angka jawa

  • Saiki Tahun 2012

contoh soal angka jawa

  • Tuku Buku Rega 1.500 Rupiah

  • Bukune Ana 12, Anyar Kabeh

contoh soal angka jawa

  • Dhuwitku Ana 78.350

contoh soal angka jawa

Artikel ini sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-sehari tentang angka dan mengingat kehidup menuju akhirat.

Apabila ada kesalahan kata mohon untuk di maafkannya. Demian artikel ini semoga bisa menambah wawasan yang lebih luas lagi.

data-full-width-responsive="true"
Abdul Roqib Halo semuanya. Perkenalkan nama saya Abdul Roqib. Seorang mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Sidoarjo. Ketertarikan saya pada blog sudah ada sejak 5 tahun yang lalu. Terutama bidang teknologi dan pendidikan.

Weton Senin Kliwon

Abdul Roqib
4 min read

Weton Senin Pahing

Abdul Roqib
4 min read

Tembang Jawa

Abdul Roqib
3 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *