PENGERTIAN AQIDAH

Pengertian Aqidah : Definisi, Ruang Lingkup, Tujuan, Dalil Aqidah Islam

Pengertian aqidah –pengertian aqidah secara bahasa (etimologi) kata aqidah diambil dari kata dasar “al – aqdu” yaitu ar – rabth (ikatan), al – ibraamal – ihkam (pengesahan), (penguatan), at – tawatsuq (menjadi kokoh atau kuat), asy syaddu biquwwah (pengikatan yang kuat), at – tamaasuk (pengokohan), dan al – itsbatu (penetapan). Diantaranya juga memiliki arti al yaqiin (keyakinan) dan al jazmu (penetapan).

Al – aqdu (ikatan) lawan kata dari al – hallu (penguraian, pelepasan), dan kata itu diambil dari kata kerja “aqadahu ya’qiduhu” (mengikatnya), “aqdan” (ikatan sumpah), dan “uqdatun nikah” (ikatan menikah). Allah SWT berfirman “Allah tidak menghukum kamu disebabkan karena sumpah – sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu di sebabkan oleh sumpah – sumpah yang kamu sengaja..” (Al-Maa’idah : 89).

PENGERTIAN AQIDAH

PENGERTIAN AQIDAH
PENGERTIAN AQIDAH

Pengertian aqidah adalah suatu ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedangkan pengertian aqidah dalam agama maksudnya ialah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti contohnya awidah dengan adanya Allah dan diutusnya Rasul.

Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id (bisa dilihat dalam kamus bahasa : lisaanul Arab, Al-Qaamuusul Muhith dan Al-Mu’jamul Wasiith: (bab : aqada).

Jadi bisa diambil kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seseorang secara pasti adalah merupakan definisi dari aqidah, baik itu benar ataupun salah.

Dalam sebuah buku berjudul Management of Student Development yang ditulis oleh Sudirman Anwar bahwa pengertian akidah menurut istilah ialah suatu perkara yang wajib di benarkan oleh hati dan jiwa akan menjadi tentram karenanya, sehingga suatu kenyataan yang teguh dan kokoh yang tidak tercampur oleh keraguan serta kebimbangan.

Pengertian akidah dalam islam ditambahkan dalam buku tersebut tentang pengertian akidah oleh Sayyidul Hasan Al-Banna bahwa “Aqai’id ialah merupakan bentuk jamak dari kata aqidah yang merupakan beberapa perkara yang wajib diyakini akan kebenaranya oleh hati, yang akan mendatangkan ketentraman jiwa yang tidak tercampur sedikitpun dengan keraguan – keraguan.

Ditambahkan pula tentang pengertian aqidah oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy bahwa pengertian aqidah ialah sejumlah kebenaran yang bisa diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal sehat manusia, wahyu dan fitrah.

Kebenaran itu dipatrikan oleh manusia di dalam hati serta diyakini keshahihanya dan keberadaannya secara pasti serta di tolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran tersebut.

Terakhir disimpulkan dalam buku tersebut bahwa definisi aqidah ialah suatu pemikiran menyeluruh tentang alam, manusia, dan kehidupan mengenai tentang apa apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan di dunia.

Serta, suatu hubungan kehidupan dengan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan di dunia. Berdasarkan dengan menggunakan pemikiran tersebut, manusia mampu menguraikan uqdah al-kubra atau permasalah besar yang terdapat di dalam diri manusia.

Berikutnya ialah pengertian aqidah secara istilah (terminologi) yaitu merupakan suatu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa akan menjadi tentram karenanya, sehingga menjadi sebuah kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampur dengan keraguan dan kebimbangan.

Atau dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya. Serta harus sesui dengan kenyataannya, yang tidak menerima keraguan dan prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak disebut aqidah. Hal tersebut bisa disebut suatu aqidah, karena orang itu telah mengikat hatinya diatas hal tersebut.

RUANG LINGKUP AKIDAH

PENGERTIAN AQIDAH
PENGERTIAN AQIDAH

Dalam membahas tentang pengertian aqidah, ada sebuah sistematika mengenai ruang lingkup aqidah  yang dibuat oleh salah satu ulama bernama Hassan Al Banna. Ruang lingkup dari aqidah tersebut antara lain : Ilahiyat, Nubuwat, Rukhaniyat, dan Sam’iyat. penjelasannya ialah sebagai berikut :

1. Ilahiyat

Definisi dari Ilahiyat ialah merupakan pembahasan segala hal mengenai ilaah atau tuhan (Allah). Seperti misalnya : mengenai tentang wujud Allah, sifat – sifat, nama – nama Allah (asmaul husna), dan lain sebagainya.

2. Nubuwat

Pengertian Nubuwat adalam membahas tentang Nabi dan Rasul, termasuk di dalamnya mukjizat para Nabi dan Rasul, kitab – kitab Allah, dan lain sebagainya.

3. Rukhaniyat

Arti Rukhaniyat adalah membahas mengenai tentang alam metafisik. Seperti contohnya : jin, iblis, dan yang lainnya.

4. Sam’iyat

Pengertian Sam’iyat adalah suatu pembahasan mengenai hal – hal yang hanya bisa diketahui melalui sami’ yaitu dalil naqli yang berupa kitab suci al qur’an dan al hadits seperti tanda – tanda kiamat, neraka, surga, dan lain sebagainya.

TUJUAN MEMPELAJARI AQIDAH

PENGERTIAN AQIDAH
PENGERTIAN AQIDAH

Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa pengertian aqidah islam ialah keyakinan terhadap Allah dan yakin pada rukun iman.

Hal ini tentu sangat penting untuk diketahui serta dipelajari dengan tujuan untuk mendapatkan sebuah petunjuk dalam kehidupan serta mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Aqidah islam memiliki banyak tujuan yang baik yang harus di pegang diantaranya yaitu:

  • Untuk mengikhlaskan niat dan ibadah kepada Allah satu – satunya. Karena Dia merupakan Pencipta yang tidak ada sekutu bagi nya, maka tujuan dari ibadah haruslah diperuntukkan hanya kepadanya.
  • Membebaskan akal serta pikiran dari kekacauan yang timbul dari kosongnya hati dari akidah. Karena orang yang hatinya kosong dari akidah, adakalanya kosong hatinya dari setiap akidah serta bisa menyembah materi yang hanya dapat diindera saja dan adakalanya terjatuh pada berbagai kesesatan akidah dan khurafat.
  • Meluruskan tujuan serta perbuatan dari penyelewengan dalam beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan orang lain. Karena diantara dasar dari akidah ini ialah mengimani para rasul yang mengandung tujuan mengikuti jalan mereka yang lurus dalam suatu perbuatan dan tujuan.
  • Ketenangan jiwa serta pikiran, tidak cemas dalam jiwa dan tidak goncang dalam pikiran. Karena pada hakekatnya akidah ini akan menghubungkan orang mukmin dengan penciptanya lalu rela bahwa Dia sebagai Tuhan yang mengatur. Hakim yang membuat tasyri. Oleh sebab itu hatinya dapat menerima takdir, dadanya lapang untuk menyerah lalu tidak akan mencari pengganti yang lain.
  • Bersungguh – sungguh dalam segala sesuatu dengan tidak menghilangkan kesempatan dalam beramal baik kecuali digunakannya dengan mengharap pahala dan ridho darinya serta tidak melihat tempat dosa kecuali menjauhinya dengan rasa takut dari siksa kelak. Karena diantara dasar akidah ini ialah mengimani hari kebangkitan dan hari pembalasan terhadap seluruh perbuatan.

“dan masing – masing orang yang mendapatkan derajat – derajat sesuai dengan yang dikerjakannya dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. (Al An’am 132).

Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk dapat menghindarkan diri dari segala pengaruh pintu sesat dan kemusyrikan.

Tujuan lain dalam mempelajari aqidah islam adalah mampu meningkatkan ibadah kepada Allah, membersihkan akal, mengikuti tujuan, perbuatan atau sunnah – sunnah para rasul, beramal baik hanya semata – mata karena Allah SWT, dapat ikhlas dan berharap akan kebahagiaan dunia serta akhirat.

FUNGSI AQIDAH

PENGERTIAN AQIDAH
PENGERTIAN AQIDAH

Setelah memgulas tentang pengertian, ruang lingkup, dan tujuan selanjutnya akan membahas tentang fungsi dari akidah. Berikut adalah penjelasan mengenai Fungsi aqidah islam diantaranya sebagai berikut :

  1. Sebagai sebuah pondasi untuk mendirikan bangunan islam.
  2. Merupakan suatu awal dari akhlak yang mulia. Jika seseorang mempunyai sebuah aqidah yang kuat pasti tentunya akan melaksanakan ibadah dengan tertib, mempunyai akhlak yang mulia, dan bermu’amalat dengan baik.
  3. Semua ibadah yang kita kerjakan jika tanpa ada landasan aqidah maka ibadah kita tersebut tidak akan di terima oleh Allah SWT.

PERANAN AQIDAH

PENGERTIAN AQIDAH
PENGERTIAN AQIDAH

Berikutnya adalah peran aqidah di dalam islam diantaranya meliputi :

  1. Aqidah merupakan misi pertama yang di bawa oleh para rasul Allah.

Allah SWT berfirman : “dan sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada tiap – tiap umat (untuk menyeruku) sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An-Nahl : 36).

  1. Manusia diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah.

Allah berfirman :”dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah-ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56).

  1. Berpegang pada aqidah yang benar merupakan kewajiban dari manusia seumur hidup. Allah SWT berfirman :”sesungguhnya orang – orang yang mengatakan tuhan kami adalah Allah kemudian mereka beristiqomah (teguh di dalam pendirian mereka) maka para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata “janganlah kamu merasatakut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surge yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat : 30).
  2. Aqidah yang benar dibenarkan kepada setiap mukallaf.

Nabi Muhammad SAW bersabda :”aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwasannya tiada sesembahan yang sebenarnya selain Allah dan bahwasannya Muhammad ialah rasul utusan Allah”. (muttafaq ‘alaih).

  1. Aqidah merupakan suatu akhir kewajiban seseorang sebelum ia meninggalkan dunia yang fana ini. Nabi Muhammad SAW bersabda : “barang siapa yang akhir ucapannya “Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah niscaya dia akan masuk surga”. (HSR. Al-Hakim dan lainnya).
  2. Kebutuhan manusia akan aqidah yang benar melebihi segala kebutuhan lainnya karena aqidah merupakan suatu sumber kehidupan, ketenangan dan merupakan suatu kenikmatan hati seseorang. Dan semakin dalam serta sempurna pengenalan dan pengetahuan seorang hamba terhadap Allah, maka semakin sempurna pula dalam mangagungkan Allah dan mengikuti syari’at nya.
  3. Aqidah yang benar dapat mampu menciptakan generasi terbaik dalam sejarah umat manusia, yaitu generasi sahabat dan dua generasi setelah mereka.

Allah SWT berfirman : “Kamu adalah merupakan umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kamu menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan berfirman kepada Allah”. (QS. Ali-Imran : 110).

 

METODE AQIDAH UNTUK AKHLAK MANUSIA

PENGERTIAN AQIDAH
PENGERTIAN AQIDAH

Akhlak mendapatkan perhatian khusus dalam ajaran – ajaran akidah Islam.

Melalui cara ini, dalam usaha membentuk karakter dan sifat manusia yang berakhlak mulia dan terselamatkan dari dekadensi moral, akidah mengikuti sebuah metode – metode yang beraneka ragam demi mencapai hal tersebut. Berikut penjelasan mengenai metode – metode tersebut antara lain :

1. Menjanjikan Pahala Ukhrawi Bagi Orang yang Berakhlak Mulia.

Akidah menjanjikan sebuah pahala yang besar serta derajat yang tinggi di akhirat kelak bagi orang – orang yang berakhlak mulia, dan sebuah siksa yang pedih terhadap bagi orang – orang yang berakhlak tidak terpuji sesui yang telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul, dan menyembah hawa nafsunya.

Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ عَظِيْمَ دَرَجَاتِ اْلآخِرَةِ وَشَرَفِ الْمَنَازِلِ وَإِنَّهُ لَضَعِيْفُ الْعِبَادَةِ

“seorang hamba yang mempunyai akhlak yang mulia bisa mencapai derajat akhirat yang agung serta tempat yang mulia kendatipun sedikit ibadahnya”.

Dalam sebuah hadits yang lain beliau juga bersabda :

إِنَّ حَسَنَ الْخُلُقِ يَبْلُغُ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Artinya : ”orang – orang yang memiliki akhlak terpuji dapat menyamai derajat dari orang yang perpuasa dan shalat malam”.

Dan beliau juga berwasiat kepada bani Abdul Muthalib :

يَا بَنِي عَبدِ الْمُطَّلِبِ، أَفْشُوا السَّلاَمَ وَصِلُوا اْلأَرْحَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَطَيِّـبُوا الْكَلاَمَ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

“wahai bani Abdul Muthalib, sebarkanlah salam, sambunglah tali silaturahmi dan kekerabatan, berilah makan kepada orang – orang fakir dan bertutur katalah yang baik, niscaya kalian semua akan masuk surga dengan selamat”.

Belaiu juga bersabda :

إِنَّ الْخُلُقَ الْحَسَنَ يُمِيْثُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا تُمِيْثُ الشَّمْسُ الْجَلِيْدَ

“alkhlak yang tidak terpuji bisa mencairkan kejelekan sebagaimana matahari mencairkan es”.

Serta Imam Ash-Shadiq a.s juga berkata : “sesungguhnya Allah SWT akan memberikan sebuah pahala kepada hambanya karena akhlaknya yang terpuji seperti hal nya ia memberikan pahala kepada seorang mujahid di jalan Allah”.

2. Menjelaskan Efek – Efek Duniawi Akhlak

Seseorang yang memiliki akhlak terpuji akan mampu beradaptasi terhadap sesamanya, tentram, hidup bahagia,dan melangkah dengan mantap.

Adapun orang yang tidak memiliki nilai serta prinsip – prinsip moral, maka ia akan jatuh ke dalam jurang kegelapan, kebingungan sehingga dirinya akan tersiksa, hidup dalam kecemasan, tidak akan disenangi oleh sesamanya dan pada akhirnya akan terjerumus ke dalam jurang kesesatan yang tidak mempunyai akibat yang terpuji.

Rasulullah SAW bersabda :

حُسْنُ الْخُلُقِ يُثَبِّتُ الْمَوَدَّةَ

“akhlak yang terpuji bisa melanggengkan kecintaan”.

Imam Ali a.s berkata :

… وَفِي سَعَةِ اْلأَخْلاَقِ كُنُوْزُ اْلأَرْزَاقِ

“…dan di dalam sebuah akhlak yang mulia tersembunyi simpanan – simpanan riski”.

Imam Ash-Shadiq a.s berkata :

وَإِنْ شِئْتَ أَنْ تُكْرَمَ فَلِنْ، وَإِنْ شِئْتَ أَنْ تُهَانَ فَاخْشُنْ

“jika kalian ingin dihormati, maka berlemah lembutlah dan jika kalian ingin di hina, maka bersikap kasar”.

SEBAB PENYIMPANGAN DARI AQIDAH

PENGERTIAN AQIDAH
PENGERTIAN AQIDAH

Penyimpangan dari aqidah yang benar merupakan suatu petaka dan bencana. Seseorang yang tidak memiliki aqidah yang benar maka akan sangat rawan termakan oleh berbagai macam keraguan dan kerancuan dalam pemikirannya.

Sampai –sampai apabila mereka telah berputus asa maka mereka pun akan mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat mengenaskan yaitu dengan cara bunuh diri. Sebagaimana pernah kita tau atau dengar ada seorang remaja atau pemuda yang gantung diri gara – gara masalah yang sepele (percintaan).

Begitu pula dalam sebuah masyarakat yang tidak dibangun diatas pondasi akidah yang benar, maka akan sangat rawan terbius berbagai kotoran pemikiran materialism (segala – galanya diukur dengan materi), sehingga apabila mereka diajak untuk menghadiri sebuah pengajian – pengajian yang membahas tentang ilmu agama mereka pun malas, karena menurut mereka hal tersebut tidak dapat menghasilkan keuntungan materi.

Jadilah mereka budak – budak dunia, shalat pun yang merupakan kewajiban mereka tinggalkan, masjid – masjid pun sepi seolah – oalah kampong dimana masjid itu berada bukan merupakan kampungnya umat islam. Alangkah memprihatinkannya umat manusia tersebut.

Oleh sebab itu, aqidah mempunyai peranan yang sangat penting ini, maka kita juga harus mengetahui sebab – sebab penyimpangan aqidah yang benar. Diantara penyebab penyimpangan aqidah antara lain yaitu :

1. Masa bodoh terhadap prinsip – prinsip akidah yang benar. Hal tersebut bisa terjadi karena sikap tidak mau mempelajarinya, tidak mau mengajarkannya, atau karena begitu sedikitnya perhatian yang di curahkan untuknya.

Hal ini dapat mengakibatkan tumbuhnya sebuah generasi yang tidak memahami tentang akidah yang benar dan tidak mengerti perkara – perkara yang bertentangan dengannya, sehingga dapat berakibat hal yang benar dianggap batil dan yang batil dianggap benar.

Hal ini sebagaimana pernah di singgung oleh Umar bin Khattab r.a “jalinan agama islam itu akan terurai satu persatu, apabila di kalangan umat islam tersebut tumbuh sebuah generasi yang tidak mengerti hakikat jahiliyah”.

2. Ta’ashshub (fanatic) terhadap nenek moyang dan tetap mempertahankannya meskipun hal itu termasuk suatu kebatilan dan meninggalkan semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran nenek moyang meskupun hal tersebut termasuk kebenaran.

Keadaan ini seperti keadaan orang kafir yang dikisahkan Allah di dalan ayat nya : “Dan apabila dikatakan kepada mereka : ikutilah wahyu yang diturunkan Tuhan kepada kalian ! mereka justru mengatakan, “tidak, tetapi kami akan tetap mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek – nenek moyang kami” (Allah katakan) apakah mereka akan tetap mengikutinya meskipun nenek moyang mereka tidak mempunyai pemahaman sedikitpun dan juga tidak mendapatkan hidayah?” (QS. Al Baqarah : 170).

3. Taklid buta (mengikuti tanpa landasan dalil). Hal ini dapat terjadi dengan mengambil pendapat – pendapat orang dalam permasalahan akidah tanpa mengetahui landasan dalil serta kebenarannya.

Inilah sebuah kenyataan yang menimpa sekian banyak kelompok – kelompok sempalan seperti contohnya kaum jahmiyah, mu’tazilah dan lain sebagainya. Mereka mengikuti saja perkataan dari tokoh – tokoh sebelum mereka padalah mereka itu sesat.Maka mereka juga ikut – ikutan tersesat, dan jauh dari pemahaman akidah islam yang benar.

4. Berlebih – lebihan dalam menghormati para wali serta orang – orang saleh. Mereka mengangkatnya melebihi dari kedudukannya sebagai seorang manusia.

Hal seperti ini benar – benar terjadi hingga ada diantara mereka yang meyakini bahwa tokoh yang dikaguminya bisa mengetahui perkara yang gaib, padahal ilmu gaib hanya Allah yang dapat mengetahuinya.

Bahkan ada juga di antara mereka yang meyakini bahwa wali yang sudah meninggal bisa mendatangkan manfaat, melancarkan rezeki, serta bisa juga menolak bala’ dan musibah. Jadilah kubur – kubur para wali ramai dikunjungi untuk meminta – minta berbagai hajat mereka.

Hal itu mereka lakukan karena mereka beralasan mereka sebagai orang – orang yang banyak dosanya, sehingga tidak pantas menghadap Allah sendirian.

Karena itulah mereka menjadikan wali – wali yang telah meninggal sebagai perantara. Padahal perbuatan semacam ini jelas – jelas di larang oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda :

“Allah melaknat kaum yahudi dan nasrani karena mereka menjadikan kubur – kubur para nabi sebagai tempat ibadah”. (HR Bukhari). Beliau memperingatkan umat agar tidak melakukan perbuatan sebagaimana apa yang mereka lakukan. Kalua kubur – kubur para nabi saja tidak di perbolehkan lalu bagaimana dengan kubur selain nabi?

5. Lalai dari merenungkan ayat – ayat Allah, baik itu ayat kauniyah maupun ayat qur’aniyah. Ini terjadi karena terlalu mengagumi perkembangan kebudayaan materialistic yang bersumber dari orang – orang barat.

Sampai – sampai masyarakat mengira bahwa kemajuan itu diukur dari sejauh mana kita bisa meniru gaya hidup mereka.

Mereka mengira kecanggihan serta kekayaan materi adalah suatu ukuran kehebatan, sampai – sampai mereka terheran – heran atas kecerdasan mereka sendiri. Mereka lupa akan kekuasaan dan keluasan ilmu Allah yang telah menciptakan mereka dan memudahkan berbagai perkara untuk mencapai kemajuan semacam itu.

Padahal apa yang telah di capai oleh manusia itu tidaklah seberapa dibandingkan kebesaran alam semesta yang di ciptakan oleh Allah SWT. Allah berfirman yang artinya “Allah lah yang telah menciptakan kamu dan perbuatanmu”. (QS. Ash Shaffaat : 96).

6. Kebanyakan rumah tangga telah kehilangan bimbingan agama yang benar. Padahal peran akan orang tua sebagai Pembina putra – putrinya sangatlah besar. Sebagaimana telah digariskan oleh nabi “Setiap bayi di lahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi”. (HR. Bukhari)

7. Kebanyakan media informasi serta penyiaran yang melalaikan tugas penting yang mereka emban. Sebagian besar acara dan siaran yang di tampilkan tidak memperhatikan aturan agama. Ini berakibat fasilitas – fasilitas itu merubah menjadi sebuah sarana perusak dan penghancur generasi umat islam.

Acara yang mereka suguhkan sedikit sekali yang mengandung bimbingan akhlak mulia dan ajaran untuk menanamkan akidah yang benar. Sehingga hal tersebut menghasilkan sebuah generasi penerus yang sangat asing dari ajaran islam dan justru menjadi antek kebudayaan dari musuh – musuh islam.

Demikian artikel mengenai tentang aqidah semoga bisa bermanfaat serta dapat menambah wawasan  bagi kita semua. Terimakasih sudah mampir di web kami apabila ada salah kata atau kekurangan mohon dilengkapi sendiri ya..sekain dan terimakasih.

Pengertian Aqidah

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *