peta jambi

PETA JAMBI : Sejarah, Peninggalan Sejarah, Kabupaten Kota, Geografis

Peta Jambi – Jambi merupakan sebuah Provinsi Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah dari Pulau Sumatera.

Jambi merupakan salah satu dari tiga Provinsi di Indonesia yang mempunyai Ibukota yang sama dengan nama Provinsinya selai Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Bengkulu dan Gorontalo.

Jambi merupakan sebuah Provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera bagian tengah tetapi berada di bagian timur.

Secara jelasnya kita bisa melihat pada Peta Jambi yang akan kami paparkan di bawah ini dengan lengkap Kabupaten dan Kota yang ada.

Ibu Kota Jambi dari Provinsi Jambi adalah Jambi. Menurut sejarahnya dari sinilah Bangsa Melayu berasal, yaitu berasal dari Kerajaan Batang Hari dan Kerajaan Melayu.

GAMBAR PETA JAMBI

peta jambi
peta jambi

PETA JAMBI LENGKAP

peta jambi
peta jambi

PETA BUTA JAMBI

peta jambi
peta jambi

PETA ADMINISTRASI JAMBI

peta jambi
peta jambi

Provinsi Jambi sendiri sama dengan Provinsi-Provinsi lain di Indonesia, Provinsi Jambi juga mempunyai seni tradisi, yang salah satu terkenal dari Provinsi Jambi adalah sebuah tarian adat yang bernama Tari Rentak Besapih.

Tarian Rentak Besapih menggambarkan keserasian, keharmonisan, dan keseragaman pada menjalani kehidupan bermasyarakat.

Jika dilihat dari Peta, Provinsi Jambi mempunyai wilayah yang luas, mengenai batas-batas dari Provinsi Jambi untuk Bagian Utara berbatasan dengan Provinsi Riau, Bagian Barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu.

Sedangkan untuk Bagian Timur berbatasan dengan Selat Berhala dan Bagian Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan.

LETAK GEOGRAFIS JAMBI

peta jambi
peta jambi

Provinsi Jambi terletak di antara 0,45 derajat Lintang Utara, 2,46 derajat Lintang Selatan dan 101,10 derajat sampai 104,55 derajat BBT.Koordinat tersebut menunjukkan keberadaan Provinsi Jambi yang terletak di tengah-tengah Pulau Sumatera.

Secara geomorfologis Provinsi Jambi terletak di bagian barat cekungan Sumatera bagian selatan yang disebut dengan Sub-Cekungan Jambi, yang merupakan dataran rendah di Sumatera Timur.

Ditilik dari topografinya, Kota Jambi relatif datar dengan ketinggian mencapai 0-60 meter di atas permukaan laut. Bagian yang bergelombang terdapat di utara dan selatan Kota.

Sedangkan daerah yang rawa terdapat di sekitara aliran Sungai Batanghari, yang merupakan sungai yang terpanjang di Pulau Sumatera dengan panjang keseluruhannya mencapai 1.700 Km.

Dari Danau Atas samapai Danau Bawah (Sumatera Selatan) menuju ke Selat Berhala 11 Km yang berada di wilayah Kota Jambi dengan kelebaran kurang lebih 500 meter. Sungai Batanghari membelah Kota Jambi menjadi dua bagian disisi utara dan selatan.

Selama tahun 2013 rata-rata suhu di Kota Jambi berkisar antara 26,0 C sampai 27,7 C. Dengan suhu maksimum 34,9 C yang terjadi pada Bulan Juni dan suhu minimum 21,2 C terjadi pada Bulan Agustus sampai Bulan September.

Curah hujan di Kota Jambi selama tahun 2012 beragam antara 29,1 mm sampai 326 mm, dengan jumlah hari hujan antara 10 hari sampai 23 hari perbulannya.

Kecepatan angin di tiap bulan hampir merata antara 16 knots sampai 28 knots. Sedangkan rata-rata kelembaban udara Kota Jambi berkisar 80% sampai 86%.

Luas wilayah Kota Jambi kurang lebih sekitar 205.38 Km² menurut Undang-Undang No.6 Tahun 1986, dan berdasarkan catatan sensus Indonesia pada tahun 2010 jumlah penduduknya dari Jambi mencapai 3.088.618 jiwa.

Baca Juga :

Peta Sumatera Selatan

Peta Bengkulu

 

SEJARAH JAMBI

peta jambi
peta jambi

Provinsi Jambi sebagai daerah pemukiman dan pemusatan pendudukan bahkan sebagai pusat kedudukan Pemerintahan yang telah berjalan dari masa ke masa.

Sejarah Disnati Sung menguraikan bahwa Maharaja San-Fo-Tsi atau Swarnabhumi bersemayam di Chan-pi. Utusan dari Chan-pi untuk yang pertama kalinya di Istana Kaisar China pada tahun 853 Masehi.

Utusan yang kedua kalinya tiba pula pada tahun 871 Masehi. Informasi tersebut menorehkan bahwa Chan-pai yang diidentifikasi oleh Prof. Selamat Mulyana sebagai Jambi telah muncul di berita China pada tahun-tahun tersebut.

Dengan begitu Chan-pai atau Kota Jambi telah terdapat dan dikenal pada Zaman ke 9 Masehi, berita China Ling Pio Lui pada tahun 890-905 Masehi juga menyebutkan Chan-pi (Jambi) mengirimkan misi dagang ke Negara China.

Silsilah Raja-Raja dari Jambi ditulisan Ngebih Suto Dilago Priayi Rajo Sari pembesar dari kerajaan Jambi yang berbangsa 12, menuliskan Putri Selaro Pinang masak dari keturunan rajo turun dari Pagaruyung rajakan di Jambi.

Dari sebutan Pinang pada Bahasa Jawa atau Sunda dilapas sebagai Jambe sehingga ditenggarai banyak orang sebagai asal dari kata Jambi, jadi terdapat perubahan huruf dan nada dari Jambe menuju ke Jambi.

Identifikasi tersebut menginformasikan kata Jambe-Jambi terbuhul pada zaman ke 15 yaitu di masa Puteri Selaro Pinang Masak memerintahkann dikerajaan Jambi pada tahun 1460 sampai 1480.

Raden Syarif yang selalu diungkapkan lagi oleh Datuk Sulaiman Hasan dari Riwayat Tanjung Jabung Negeri Lamo yang mencatat bahwa Puteri Selaro Pinang masak mengilir dari Mangun Jayo ke Tanjung Jabung di pandu oleh sepasang itu besar atau angasa duo yang mupur ditanah pilih pada tanggal 28 bulan Mei 1401.

Legenda Tanah berbeda versi dengan Ngebi Suto Dilago. Silsilah dari Raja-Raja Jambi yang menyebut Orang Kayo Hitam (seorang Putra dari pasangan putri Selaro Pinang Masak dengan Ahmad Barus II atau Paduko Berhalo).

Yang mengilir mengikuti sepasang itik besak (Angsa Duo) pada saran petuah mertuanya Temenggung Merah Mato Raja Air Hitam Pauh. Prof. Moh Yamin berupaya mengidentifikasi Kota Jambi yang berada di sekitar Kantor Gubernur Jambi di Telanaipura.

Indikasi ini pada dasarnya mulai dari zona Masjid Agung Al Falah sampai ke Pamatang pinggiran Danau Sipin yang ditemukan di deretan struktur batuan bata candi yang diantaranya menunjukkan sebagai kompleks percandian yang lumayan besar di kawasan Kampung Legok.

Tidak menutup kemungkinan penemuan tanah pilih oleh sepasang Angso yang mupur ini adalah pembukaan kembali Kota Chan-pi yang ditinggal karena Kerajaan Swarna Bhumi (San-Fo-tsi) yang diserahkan oleh Singosari pada peristiwa Pamalayu pada tahun 1275 Masehi.

Kemudian dipindah ke pedalaman Batang Hari yang terus dikenal sebagai Darmasraya (Sumatera Barat). Dua dari Puteri Melayu atau Darmasraya yaitu adalah Dara Petak dan Dara Jingga diboyong oleh Mahisa Anabrang ke Singosari pada tahun 1292.

Ternyata di saat itulah Singosari telah runtuh oleh pemberontak dan terus mendapatkan serbuan tentara Khu Bilaikhan. Kerajaan Singosari berganti menjadi Kerajaan Majapahit dengan Rajanya bernama Raden Wijaya.

Salah satu seorang keturunan dari Puteri Melayu itu adalah dari pasangan Dara Jingga yaitu Adityawarman kembali ke Darmasraya yang terus mendirikan dan menjadi Raja di Pagaruyung pada tahun 1347-1375 Masehi.

Anaknya yang bernama Ananggawarman menyampaikan teratah Kerajaan Pagaruyung. Keturunan Ananggawarman merupakan salah satu Puteri Selaro Pinang Masak yang di Rajakan di Wilayah Jambi.

Setelah Orang Kayo Hitam dirajakan pusat Kerajaan di pindahkan dari ujung Jabung  sampai ke Tanah Pilih jambi disekitar dahulu zaman ke 16. Kemudian jadilah Jambi kembali sebagai tempat kedudukan Pemerintahan.

Pangeran Dipati Anom yang naik tahta di Kerajaan Jambi yang bergelar Sultan Agung Abdul Jalil tahun 1643 -1665 Masehi pernah memberika surat izin untuk mendirikan pasar zona jual beli di Muaro Sungai Asam pada seorang Belanda yang bernama Beschseven.

Izin Sultan pada tanggal 24 Juni 1657 yang dimana lektak yang akan diizinkan itu terus-menerus berpindah dari Muaro Sungai Asam ke sekitar Muaro Sungai yang dibawah area WTC Batang Hari.

Jambi sebagai pusat dari pemukiman dan zona kedudukan raja yang terus berlangsung. Istana yang dibangun di Bukit Tanah Pilih disebut sebagai Istana Tanah Pilih yang terakhir sebagai zona Sultan Thaha Saifuddin yang dilahirkan dan dilantik sebagai Sultan pada tahun 1855.

KABUPATEN DAN KOTA DI JAMBI

peta jambi
peta jambi
  1. Kota Jambi.
  2. Kota Sungaipenuh.
  3. Kabupaten Batanghari.
  4. Kabupaten Bungo.
  5. Kabupaten Kerinci.
  6. Kabupaten Marengin.
  7. Kabupaten Sarolangun.
  8. Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
  9. Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
  10. Kabupaten Tebo.
  11. Kabupaten Muaro Jambi

PENINGGALAN SEJARAH JAMBI

peta jambi
peta jambi

1. Bunker Jepang

Bunker Jepang adalah sejenis bagunan pertahanan Militer. Bunker Jepang biasanya di bangun di bawah tanah. Banyak bunker yang dibangun pada Perang Dunia I dan II.

Bunker Jepang di Jambi terletak di Kelurahan Pall Merah, Kec. Jambi Selatan, Kota Jambi. Lokasi bunker pada saat ini berada di dalam kompleks Bandar Udara Sultan Thaha Syaifuddin.

Bandar Udara tersebut dibangun pada masa penjajahan Belanda dan ketika tentara Jepang menduduki wilayah jambi pada masa Perang Asia Pasifik, salah satunya bagian dari sisi landasan pacu adalah didirikan bunker.

Bunker terbuat dari cor beton yang berdinding tebal, daun pintu masuk terbuat dari besi, berdenah persegi, untuk bagian atas dilengkapi dengan empat cerobong, sedangkan pada dinding yang menghadap ke landasan pacu mempunyai 3 jendela untuk penempatan senjata mesin.

2. Istana Abdurrahman Thaha Saifuddin

Istana Abdurrahman Thaha Saifuddin adalah Istana Kerajaan bekas peninggalan Raja Sultan Thaha Saifuddin. Istana tersebut terletak di Tanah Garo Muara Tambir Jambi. Beliau merupakan Raja terakhir dari Kerajaan Jambi yang juga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasionalisme.

Beliau meninggal dalam pertempuran melawan Belanda dengan semangat yang gigih untuk memperjuangkan tanah kelahirannya. Nama Harum Sultan Jambi terkenal hingga ke Negeri Turki. Pada tahun 1298 H Turki menghadiahkan Sultan Thaha Saifuddin dengen mendali bersegi tujuh,

Penghargaan juga datang dari dalam Negeri dengan mendirikan patung untuk mengenang Sultan Thaha Saifuddin di depan kantor Gubernur Jambi.

3. Kawasan Kota Lama Kolonial Belanda atau Kota Tua Batang Hari

Kawasan Kota Lama atau Kota Tua Batang Hari adalah tempat yang menjadikan cikal bakal Kota dari Tembesi, yang berada di Jalan Lintas Sumatera jalur Tengah atau disebut Jaliteng Batang Hari Jambi.

Pada masa penjajahan Belanda dibangun sebuah Kota yang bernuansa Netherland di tanah Jambi. Bangunan tersebut menjadi saksi bisu tentang masa-masa peralihan kekuasaan dari masa penjajahan ke masa kemerdekaan.

Sampai saat ini bangunan tersebut masih bisa dikunjungi, namun beberapa bagian dan sudut bangunan telah direnovasi oleh Pemerintahan Kota Jambi.

4. Makam Belanda atau Kerkhof Tahun 1900-1950

Makam tersbut terletak di Kelurahan Beringin, Kecamatan Beringin, Kota Jambi. Kerkhof adalah bagian dari saksi sejarah ketika Belanda berkuasa di Kota Jambi pada tahun 1833-1945. Di samping makam orang Belanda dan keturunannya juga terdapat makam tentara Jepang pada masa penjajahan di Jambi.

5. Makam Raden Muhammad Thahir (Raden Matthaher)

Raden Muhammad Thahir adalah salah satu pejuang dari Jambi saat melawan mauknya kolonialisme Belanda di Jambi, semasa hidupnya beliau melanjutkan perjuangan dari Sultan Thaha Saifuddin untuk terus bertempur menentang Belanda atas pendudukannya di Wilayah Kesultanan Jambi.

Setelah beliau wafat, dimakamkan dilokasi Jalan Kampung Baru, Kelurahan Solok Sipin, Kecamatan Telainapura, Kota Jambi atau masih satu kompleks dengan Taman Makam Rojo-Rojo.

6. Situs Candi Soloksipin

Situs Candi Soloksipin terletak di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Legok, Kota Jambi. Situs tersebut berasal dari periode Klasih di zaman Hindu-Budha. Didalam situs saat ini hanyalah tinggal puing-puing yang berupa pondasi bata bangunan candi.

Di Candi Soloksipin juga ditemukan arca Budha yang terbuat dari batu pasiram (sand stone) setinggi 1,72 meter yang digambarkan dalam posisi berdiri memakai pakaian jubah. Kemudian dua buah makara, stupa dan lapik.

Baik makara dan arca sampai sekarang tersimpan di Museum Negeri Jambi. Candi Soloksipin ditemukan kembali oleh orang Belanda yang pernah datang ke tanah Jambi. Berdasarkan tulisan yang terdapat pada arca Budha tersebut di perkirakan berasal dari abad 8 Masehi.

7. Situs Candi Muaro Jambi

Situs Candi Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian Agama Hindu-Budha yang terluas di Asia Tenggara, dengan luas mencapai 3982 Hektar. Yang kemungkinan besar adalah peninggalan Kerajaan Melayu dan Kerajaan Sriwijaya.

Kompleks perncandian tersebut terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, tepatnya di tepi Batang Hari, sekitar 26 Km dari arah timur Kota Jambi. Candi Muaro Jambi diperkirakan berasal dari abad ke 11 Masehi.

Candi Muaro Jambi adalah kompleks Candi yang terbesar dan yang paling terawat di Pulau Sumarera dan sejak tahun 2009 Kompleks Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadikan situs warisan dunia.

8. Rumah Dinas Gubernur Jambi

Rumah Dinas Gubernur Jambi merupakan tempat kelahiran Sultan Kerajaan Melayu Kesultanan Jambi, Sultan Abdurrahman Thaha Saifuddin yang lahir di salah satu kamar bagian tengah Rumah Dinas Residen Jambi yang pertama kali (Rumah Dinas Gubernur Jambi).

Raden Inu Kertopati di Tanah Putih, Kecamatan Pasar, Kota Jambi pada hari jumat tanggal 16 Juni 1950.

9. Prasasti Karang Brahi

Prasasti Karang Brahi merupakan sebuah prasasti dari zaman Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan pada tahun 1904 oleh Kontrolir L.M Berkhout di tepian Batang Marangin. Prasasti tersebut terletak di Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Kab. Maringin, Jambi.

Prasasti tersebut berangka tahun, namun teridentifikasi menggunakan Aksara Pallawa dan bahasanya Melayu Kuno. Isinya tentang kutukan bagi orang yang tidak tunduk atau tidak setia kepada Raja dan orang-orang yang berbuat jahat.

Kutukan padamisi prasasti tersebut mirip dengan yang terdapat pada Prasasti Telaga Batu dan Prasasti Kota Kapur.

10. Masjid Agung Al-Falah

Masjid Agung Al-Falah dikenal sebagai sebutan masjid seribu tiang, Masijdi Agung Al-Falah di bangun pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1980, dengan menghabiskan waktu 9 tahun untuk membangun masjid.

Masjid Agung yang terbesar di Kota Jambi, walaupun terkenal dengan sebutan Masjid Seribu Tiang, namun sebenarnya tiapa yang ada dalam masjid tersebut berjumlah 256 buah. Bentuk masjid yang sederhana, tanpa adanya dinding dan sekat, yang ada hanyalah tiang dan atap serta kubanya.

Bangunan masjid tersebut hanyalah sebuah pendopo yang terbuka dengan banyak tiang penyangga dan satu kuba yang besar di atasnya. Bentuk dari bangunan dengan konsep keterbukaan yang tanpa sekat karena konsep tersebut terlihat ramah.

Tanah tempat berdirinya Masjid Seribu Tiang adalah saksi sejarah perjuangan Raja Thaha Saifuddin yang melawan Belanda, pada tahun 1885, tanah dari Kerajaan Jambi dulunya terikat janji penguasaan oleh Belanda, namun ditentang Thaha Saifuddin.

Mendengar hal tersebut Belanda memutuskan akan menyerang Kerajaan Jambi, namun alangkah kagetnya Belanda belum sempat menyerang, ternyata mereka terlebih dahulu di serang oleh Pasukan Thaha Saifuddin.

Belanda pun melancarkan serangan balik dan memporak-porandakan Kerajaan Jambi.

Demikian penjelasan tentang Peta Jambi, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan bisa menambah wawasan kita semuanya. Kurang lebihnya mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah.

Peta Jambi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *