PETA KEPULAUAN RIAU : Sejarah, Geografis, Kabupatendan Kota !

Peta Kepulauan Riau – Pada pembahasan kali ini akan membahas tentang Provinsi Kepulauan Riau. Kepulauan Riau adalah salah satu dari 34 Provinsi di Negara Indonesia. Tetapi tidak salah, Provinsi Kepulauan Riau yang berbeda dengan Provinsi Riau.

Ibukota dari Provinsi Kepulauan Riau adalah Tanjung Pinang, dan bila kita lihat dari Peta Indonesia sendiri Provinsi tersebut terletak pada jalur kemudian lintas transportasi laut, bandar udara yang strategis dan terpadat pada tingkat Internasional serta pada bibir pasar dunia yang mempunyai peluang pasar.

GAMBAR PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU LENGKAP

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA BUTA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA ADMINISTRASI KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

Jika dihitung secara keseluruhan Wilayah Kepulauan Riau terdiri dari 5 Kabupaten, 2 Kota, 52 Kecamatan, dan 299 Kelurahan atau Desa dengan jumlah 2.408 pulau besar dan untuk 30% belum mempunyai nama, dan belum berpenduduk.

Mengenai luas wilayah dari kepulauan Riau sebesar 8.201,72 Km², sekitar 95% merupakan lautan dan 5% merupakan daratan. Batas-batas dari Kepulauan Riau, untuk bagian Utara, berbatasan dengan Kamboja dan Vietnam.

Bagian Timur, berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Barat dan Negara Malaysia, bagian Selatan berbatasan dengan Jambi dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan untuk bagian Barat berbatasan dengan Provinsi Riau, Negara Singapura dan Negara Malaysia.

Suku Bangsa yang terdapat di Provinsi Kepulauan Riau adalah Suku Jawa, Suku Melayu, Suku Batak, Arab, Orang Laut, Tionghoa, India, Bugis, Minangkabau, Sunda, Banjar, Aceh, Palembang, Jambi, Flores dan Dayak.

Berdasarkan Sensus Penduduk pada tahun 2005, presentase agama penduduk dari Provinsi Kepulauan Riau adalah Agama Islam mencapai 77.34%, Agama Kristen Protestan 12.28%, Agama Buddha 7.10%, Agama katolik 2,25%, Agama Konghucu 0,17% dan Agama Hindu 0,05%.

Bahasa yang di gunakan di Kepulauan Riau adalah Bahasa Indonesia yang resmi, Melayu (dominan), Melayu Baba, Melayu Riau, Banjar, Bugis, Jawa, Batak, Minangkabau, Arab, Hakka, Hokkien, Tamil, Tionghoa dan Yue.

Lagu Daerah di Kepulauan Riau adalah Hang Tuah, Pak Ngah Balek, Segantang Lada, dan Pulau Bitan. Sedangkan rumah tradisional disebut dengan Rumah Belah Bubung. Senjata tradisional Kepulauan Riau adalah Badik, Pedang Jenawi dan Keris Sempena Riau.

Peta Riau

GEOGRAFIS KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

Secara geografis Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan Negara tetangga, adalah Negara Malaysia, Negara Singapura dan Negara Vietnam yang memiliki luas wilayah mencapai 251.810,71 Km² dengan 96% merupakan perairan dengan 1.350 Pulau Besar.

Dan Pulau Kecil telah menunjukkan  kemajuan dalam penyelenggaraan kegiatan pembangunan, pemerintahan dan kemasyarakatan.

Ibukota dari Provinsi Kepulauan Riau berkedudukan di Tanjungpinang. Provinsi tersebut terletak pada jalur lalu lintas tranportasi laut, tranportasi udara yang strategis dan terpadat pada tingkat Internasional dan bibir pasar dunia yang mempunyai peluang pasar.

Titik yang tertinggi di Kepulauan Riau adalah Gunung Daik yang mencapai 1.165 Mdpl yang terdapat di wilayah Pulau Lingga.

Kepri memiliki potensi besar dari sumber daya alam mineral, energi yang relatif cukup besar dan bervariasi yang baik berupa bahan galian A seperti gas alam, dan minyak bumi, sementara bahan galian B seperti bauksit, timah, dan pasir besi, untuk galian C seperti pasir, granit, dan kuarsa.

Peta Jambi

SEJARAH KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

Masa sejarah di Kepulauan Riau dimulai dengan ditemukan Prasasti Pasir Panjang yang berada di Karimun yang mempunyai semboyan pemujaan melalui tapak kaki Buddha.

Hal tersebut diduga berhubungan dengan Kerajaan Melayu di Sumatera, Buddha diperkirakan masuk melalui perdagangan dari India dan Tiongkok.

Masa Islam di Kepulau Riau yang berkembang dengan berdirinya Kesultanan Riau Lingga. Kesultanan tersebut berasaskan Melayu Islam dan Islam sendiri dikenal setelah di bawah oleh pedagang yang berasal dari India, Gujarat dan Arab.

Pada masa kolonial sangatlah berpengaruh dalam sejarah Kepulauan Riau, julukan dari Hawaii Van Lingga yang diberikan kepada Pulau Penuba.

Penggunaan uang yang tersendiri bagi Kepulauan Riau, dan terbentuknya Keresidenan Riouw yang menjadikan bukti pengaruh kuat para kolonial Belandi di Kepulauan Riau.

Setelah masa kemerdekaan, Kepulauan Riau bergabung dengan wilayah Kesultanan Siak di daratan Sumatera sehingga bisa membentuk Provinsi Riau. Dahulunya, Kepulauan Riau juga menggunakan mata uang yang tersendiri bernama Uang Kepulauan Riau (KR).

Namun secara perlahan-lahan, pengguna mata uang tersebut dihentikan dan digantikan dengan mata uang rupiah.

Setelah lama bergabung dangan Provinsi Riau, Kepulauan Riau akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dengan membentuk Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR).

Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan pemekaran Provinsi Kepulauan Riau dari Provinsi Riau pada tanggal 24 September Tahun 2002.

Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau yang berdasarkan Undang-Undang Nomor.25 Tahun 2002 pada Tanggal 24 September Tahun 2002 tersebut telah disetujui dan ditindak lanjuti oleh Pemerintah Pusat dengan dikeluarkan keputusan Pemerintahan Kepres tanggal 1 Juli 2004 sebagai Provinsi baru yang ke 32.

Pada tanggal 1 Juli 2004, Meteri dalam Negeri yang bernama Hari Sabarno atas nama Presiden Republik Indonesia Ibu Megawati Soekarnoputri yang melantik Drs. H. Ismeth Abdullah yang sebagai pelaksanaan tuga menjadi Gubernur Kepulauan Riau.

Pada awalnya, Kepulauan Riau merupakan salah satu Kabupaten dari Provinsi Induk, yaitu Provinsi Riau, yang sudah terbentuk pada tahun 1958 berdasarkan Undang-Undang Nomor.61 Tahun 1958.

Waktu itu, Provinsi Riau yang semula masuk dalam Provinsi Sumatera Tengah dan beribukota di Bukittinggi, yang terdiri dari tingkat dua dari Kepulauan Riau, Kampar, Bengkalis, Indragiri, dan Kotapraja Pekanbaru.

Ibukota dari Provinsi Riau pada waktu itu adalah Tanjungpinang. Kemuadian dipindahkan ke Pekanbaru pada tahun 1959.

Pindahnya dari Ibukota dari Provinsi Riau dari Tanjungpinang ke Kota Pekanbaru merupakan suatu perubahan yang penting dalam sejarah perkembangan ekonomi, sosial dan politik di Kepulauan Riau.

Tanjungpinang yang awalnya merupakan pusat dari budaya, perdagangan dan sejarah selama berabad-abad, berubah menjadi kawasan pinggiran dari Provinsi Riau, bisa menyebabkan Kepulauan Riau tidak lagi menjadi bermakna dan penting dalam kejayaan di jalur pelayaran dagang di Selat Melaka yang sudah berlangsung sejak tahun 1722.

Setelah berakhirnya dari masa keemasannya Kerajaan Sriwijaya, Riau terus membangkitkan kembali tradisi kemaritiman Kerajaan Sriwijaya yang berlangsung selama berabad-abad.

Dengan perpindahan Ibukota Provinsi Riau waktu itu ke Pekanbaru, tradisi dari kemaritiman tersebut kini menjadi berubah. Pembangunan yang semula berorientasi maritime karena sesuai dengan letak geografis Kepulauan Riau kini berorientasikan benua atau dataran.

Kawasan seluasan mencapai 251.810,71 Km², 96% adalah laut dan 4% merupakan dataran, dengan sebaran 2.408 Pulau yang semula mempunyai peran ekonomi dan potensi yang sangatlah besar untuk dibangkitkan, dan cenderung makin untuk ditinggalkan.

Kawasan Pulau-Pulau nyaris tidak lagi tersentuh pembangunan, bahkan potensi dari Pulau Bintan dengan tambang bauksit singkep dengan kekayaan dari timahnya tidak terlalu diutamakan.

Sarana dan prasarana serta pembangunan fisik di bebagai Desa, Kecamatan dan Pulau-Pulau yang bertaburan sangatlah kurang, kalaupun itu ada, hanyalah dibangun oleh perusahaan.

KABUPATEN DAN KOTA DI KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

Provinsi Kepulauan Riau terbentuk setelah melewati perjuangan yang panjang dari masyarakatnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor.25 Tahun 2002 yang akhirnya kawasan tersebut dulunya dikenal sebagai pusat Kerajaan Melayu ini sekarang menjadi Provinsi Sendiri.

Kini pusat dari kejayaan Melayu itu lebih dikenal dengan nama Provinsi Kepulauan Riau yang terdiri dari 5 Kabupaten dan 2 Kota, diantaranya adalah :

  1. Kabupaten Karimun.
  2. Kabupaten Bintan Kepulauan.
  3. Kabupaten Lingga.
  4. Kabupaten Kepulauan Anambas.
  5. Kabupaten Natuna.
  6. Kota Tanjungpinang.
  7. Kota Batam.

PENINGGALAN SEJARAH KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

PETA KEPULAUAN RIAU

  1. Gurindam Dua Belas

Gurindam Dua Belas adalah puisi Melayu Lama, hasil karya dari Raja Ali Haji yang seorang Pahlawan Nasional dan seorang sastrawan dari Pulau Penyengat, Provinsi Kepulauan Riau.

Gurindam tersebut ditulis dan diselesaikan di Pulau Penyengat pada tanggal 23 Rajab 1264 Hijriah atau 1847 Masehi dan pada saat itu Raja Ali Haji berusia 38 tahun.

Karya ini terdiri dari 12 Fasal dan dikategorikan sebagai Syi’r Al-Irsyadi atau Puisi Didaktik, karena berisi petunjuk dan nasihat menuju hidup yang di ridhoi oleh Allah SWT. Selain itu terdapat pula pelajaran dasar dari Ilmu Tasawuf tentang tarekat, syariat, makrifat dan hakikat.

  1. Masjid Raya Sultan Riau

Masjid Raya Sultan Riau dibangun pada tahun 1761-1812 oleh Sultan Mahmud, pada awalnya, masjid tesebut hanya berupa bangunan kayu yang sederhana berlantai batu bata hanya dilengkapi dengan sebuah menara setinggi kurang lebih 6 meter.

Namun, seiring berjalannya waktu, Masjid tersebut tidak bisa lagi menampung jumlah anggota jemaah yang terus menerus bertambah sehingga yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman, Sultan Kerajaan Riau-Lingga pada tahun 1831-1844 berinisiatif untuk membesarkan dan meperbaiki masjid tersebut.

Masjid Raya Sultan Riau awalnya dibangun oleh Sultan Muhammada pada tahun 1803, kemudian pada amasa Pemerintahan yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman, pada tahun 1832 masjid tersebut direnovasi dalam bentuk yang terlihat pada saat ini.

Bangunan utama Masjid Raya Sultan Riau berukuran 18×20 meter yang ditopang dengan 4 tiang beton, di keempat sudut bangunan, terdapat menara untuk tempat Bilal mengumandangkan adzan.

Pada bangunan Masjid Sultan Riau terdapat 13 Kubah yang terbentuk seperti bawang, untuk jumlah keseluruhan kubah dan menara Masjid sebanyak 17 buah yang melambangkan jumlah rakaat shalat wajib 5 watu sehari semalam.

  1. Meriam Tegak

Meriam Tegak adalah salah satu cagar budaya yang ramai dikunjungi orang karena keunikannya. Meriam tersebut bisa dijumpai di Kecamatan Singkep, wilayah Pulau Singke di Kepulauan Riau.

Meriam ini adalah warisan sejarah masa lampau yang berada di Kota Dabo Singkep, menyimpan misteri yang belum bisa di toleransi oleh akal sehat manusia.

Karena dari dulu sampai sekarang meriam tegak tersebut tidak pernah bisa dicabut oleh manusia atau (Pemerintahan Daerah juga) walaupun telah mengerahkan alat berat sekalipun tetap tidak bisa tercabut.

  1. Bekas Istana Damnah

Istana Damnah didirikan oleh Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, yang Dipertuan Muda Riau X tahun 1857-1899 Masehi. Mendirikan Istana Damnah pada tahun 1860 Masehi untuk kediaman Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II.

Yang tersisa dari bangunan yang dahulu sangatlah megah hanyalah tangga muka, tiang-tiang dari sebagian tembok pagarnya yang keseluruhannya adalah dari beton. Sekarang puing Istana terletak di dalam hutan belantara yang disebut dengan Kampung Damnah.

  1. Kerajaan Riau Lingga

Kesultanan Lingga adalah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di wilayah Lingga, Kepulauan Riu, berdasarkan Tuhfat Al-Nafis, Sultan Lingga adalah pewaris dari Sultan Johor, dengan wilayah mencakup Johor dan Kepulauan Riau.

Kerajaan tersebut diakui keberadaannya oleh Belanda dan Inggris setelah mereka menyepakati Perjanjian London pada tahun 1824, kemudian membagi berkas wilayah Kesultanan Johor setelah sebelumnya wilayah itu dilepas oleh Siak Sri Inderapura kepada Inggris pada tahun 1818.

Namun kemudian diklaim oleh Belanda sebagai wilayah kolonialisasinya, Sultan Abdul Rahman Muazzm Syah adalah Sultan yang pertama di Kerajaan ini. Kemudian pada tahun yang ke 3 Februari 1911, Kesultanan tersebut dihapus oleh Pemerintahan Hindia-Belanda.

Kesultanan ini mempunyai peran penting dalam perkembangan Bahasa Melayu, hingga menjadi betuknya sekarang menjadi Bahasa Indonesia. Pada masa Kesultanan Bahasa Melayu menjadi Bahasa standar yang sejajar dengan bahasa-bahasa lain di dunia.

Yang kaya dengan sastranya dan mempunyai kamus ekabahasa. Tokoh besar di belakang perkembangan pesat dari Bahasa Melayu adalah Raja Ali Haji, seorang sejarawan dan pujangga keturunan Bugis.

Kota Kerajaan Lingga berpusat di Daik, yang pada saat ini adalah Ibukota Kecamatan Lingga, termasuk dalam wilayah Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

Secara astronomis Keseluruhan Daik Lingga terletak antara 00 13’ – 00 14’ Lintang Selatan dan 1040 36’ – 1040 41 BT (Rencana Kota Daik, 1991).

Sampai saat ini tinggalan arkeologis di bekas Kerajaan Lingga yang cukup lengkap, diantaranya adalah beberapa bangunan monumental, seperti makam, masjid, benteng-benteng pertahanan, bekas istana, dan tinggalan artefaktula yang lainnya.

  1. Benteng Tanah Bukit Cening

Benteng Tanah ini berjaraj seiktar 3 Km di sebelah Selatan Ibukota Kecamatan Lingga, yang tepatnya di Kampung Seranggo, Kelurahan Daik, pada jarak 1 kilometer terakhir menuju benteng, adalah jalan setapak yang hanya bisa dicapai dengan jalan kaki.

Benteng tersebut dibangun di atas bukit, menghadap ke tenggara, dengan pintu masuk berada di sebelah utara, bagian selatan benteng merupakan tebing yang menghadap ke Selat Kolombok, sebelah utara tampak Gunung Daik dan Sepican, barat daya tampak Pulau Mepar.

Sedangkan sebelah barat laut adalah dataran dan lokasi Istana Sultan Lingga. Benteng ini menyerupai tanggul, berukuran 30×32 m, berdenah persegi empat, tebal 4 meter dengan ketinggian mencapai 1-1,5 meter.

Didalam benteng terdapat 19 buah meriam yang diletakkan berjajaran di sisi selatan. Meriam-meriam yang ada di benteng dapat diklasifikasikan sebagai meriam yang berukuran sedang dan besar, dengan ukuran panjang meriam antara 2-2,80 m.

Lubang larang berdiameter mencapai 8-12 cm. Pada meriam-meriam tersebut terdapat tulisan yang terletak di bagian pangkal atau pada pengaitannya, sebagaian dalam keadaan aus.

  1. Balai Adat Pulau Penyengat

Balai Adat yang dulunya oleh Pemerintahan setempat digunakan untuk acara kebudayaan. Dibangunan tersebut dapat pelaminan Melayu sehingga pengunjung bisa berfoto di atas pelaminan tersebut.

Dibawah Balai Adat terdapat sebuah sumur yang airnya rasanya tawar dan bening. Ini bukti legenda yang dahulunya orang mengenal Pulau Penyengat adalah Pulau Air tawar. Balai Adat Pulau Penyengat merupakan replika rumah adat Melayu yang pernah ada di Pulau Penyengat.

Bangunan Balai Adat adalah rumah panggung Khas Melayu yang rumahnya terbuat dari kayu. Balai Adat difungsikan untuk mengadakan perjamuan bagi orang-orang yang peting dan menyambut tamu.

Didalam gedung, kita bisa melihat tata ruang dan beberapa benda perlengkapan adat resam Melayu, dan berbagai perlengkapan atraksi kesenian yang digunakan untuk menjamu tamu-tamu yang tertentu.

Untuk bagian bawah Balai Adat terdapat sumur air tawar yang konon katanya sudah berabad lamanya dan samapai saat ini airnya masih mengalir dan bisa langsung diminum.

  1. Mushaf Al-Qur’an

Terdapat dua buah Al-Quran tulisan tangan yang tersimpan rampi di dalam Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat. Salah satunya yang diperlihatkan kepada pengunjung adalah hasil dari goresan tangah Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu Agama Islam.

Kemudian kembali lagi dia menjadi guru dan terkenal dengan sebutan Khat gaya Istanbul. Al-Quran tersebut diselesaikan pada tahun 1867 sambil mengajar. Keistimewaan dari Al-Quran Mushaf Abdurrahman Stambul adalah banyaknya penggunaan Ya Busra.

Dan beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja untuk disamarkan sehingga membacanya cenderung berdasarkan interprestasi individu yang sesuai dengan akal dan ilmunya.

Disisi kiri dan kanan bagian Masjid terdapat bangunan tambahan tempat pertemuan atau disebut dengan Rumah Sotoh. Menurut sejarah, masjid ini dibangun dengan menggunakan capuran kapur, putih telur, tanah liat dan pasir

Demikian penjelasan tentang Peta Kepulauan Riau, mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua dan bisa menambah wawasan kita semuanya. Kurang lebihnya mohon maaf apabila ada kata-kata yang salah.

Peta kepulauan riau

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply