PETA LAMPUNG

Peta Lampung : Gambar Peta Lampung, Sejarah, Letak Geografis !

Peta Lampung – Lampung adalah salah satu Provinsi yang berada di Indonesia tepatnya terletak di Pulau Sumatera. Letaknya berada di paling selatan, namum Lampung bukan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan.

Dulunya Daerah Lampung adalah bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, tapi pada perkembangan selanjutnya beridiri sendiri menjadi sebuah Provinsi yang bernama Provinsi Lampung, tepatnya lahir pada tanggal 18 Maret Tahun 1964.

Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang Provinsi Lampung. Oke dibawah ini akan dijelaskan mengenai Provinsi Lampung yang perlu kita ketahui semua.

GAMBAR PETA LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

PETA LAMPUNG LENGKAP

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

PETA BUTA LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

PETA ADMINISTRASI LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

Lampung (Aksara Lampung) adalah sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera, dengan Ibukota Bandar Lampung. Provinsi ini memiliki 2 Kota yaitu adalah Bandar Lampung dan Kota Metro serta 13 Kabupaten.

Provinsi Lampung mempunyai pelabuhan penting yang bernama Pelabuhan Bakauheni dan Pelabuhan Panjang serta Bandar Udara penting yaitu adalah Radin Inten II yang terletak 28 Km dari Ibukota Provinsi Lampung.

Lampung memiliki luas wilayah kurang lebih sekitar 35.587 Km², populasi di Provinsi Lampung mencapai lebih dari 8 juta jiwa. Sedikit lebih besar dari pada luas Provinsi di Jawa Tengah atau 1,75% seluruh Wilayah Indonesia.

Lampung bagian Barat berbatasan dengan Samudera Hindia, bagian Timur berbatasan dengan Laut Jawa, bagian Utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan bagian Selatan berbatasan dengan Selat Sunda.

GEOGRAFIS LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

Secara Geografis Provinsi Lampung terletak diantara 103 ͦ 40’ – 105  ͦ 50’ Bujur Timur Utara dan 6  ͦ 45’ sampai 35  ͦ 45’ Lintang Selatan. Lapangan terbang yang penting di Lampung adalah Radin Inten II dan lapangan terbang AURI yang berada di Menggala dengan nama Astra Ksetra.

Dengan posisi yang demikian, Provinsi Lampung menjadi penghubung utama dari lalu lintas antara Pulau Sumateran dan Pulau jawa maupun sebaliknya.

Bahasanya yang digunakan adalah Bahasa Lampung, Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, Bahasa bali dan Bahasa Jawa.

IKLIM LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

Provinsi Lampung merupakan daerah yang beriklim tropis, dengan ciri-ciri yang cukup panas dan banyak turun hujan. Di musim kemarau yang berlangsung antara Bulan Mei sampai Bulan September sedangkan untuk musim hujan antara Bulan November sampai Bulan Mei.

Angka hujan mencapai rata-rata pertahun mencapai 2.000 sampai 3.000 mm, bahkan di bagian barat mencapai sekitar 3.000 samapai 4.000 mm pertahun sedangkan di bagian timur Lampung Selatan mencapai 1.000 sampai 2.000 mm pertahun.

Sedangkan untuk daerah ketinggian mencapai 30-60 m, untuk suhu rata-rata berkisar antara 26  ͦ C – 28  ͦ C. Suhu maksimum 33  ͦ C dan suhu minimum mencapai 22  ͦ C. Rata-rata kelembaban udara Provinsi Lampung antara 80% – 88% dan pada derah yang lebih tinggi kelembaban juga akan lebih tinggi pula.

PEMBAGIAN WILAYAH LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

1. Lampung Utara

Lampung Utara merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Kabupaten ini memiliki luas wilayah kurang lebih sebanyak 2.725,63 Km². Sementara jumlah dari penduduknya mencapai kurang lebih 600 ribu jiwa.

Dikutip dari Wikipedia, Kecamatan di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Tanjung Raja, Kecamatan Sungaki Tengah, Kecamatan Sungaki Utara, Sungaki Tengah, Sungkai Barat, Sungkai Selatan, Sungkai Jaya, Muara Sungkai.

Kota Bumi Utara, Kotabumi, Kotabumi Selatan, Hulu Sungkai, Bukit Kemuning, Bunga Mayang, Blambang Pagar, Abung Timur, Abung Tengah, Abung Tinggi, Abung Semuli, Abung Surakarta, Abung Selatan, Abung Kunang, Abung Pekurun dan Abung Barat.

2. Lampung Barat

Lampung Barat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung. Ibukota dari Lampung Barat adalah Liwa. Luas wilayah Lampung Barat kurang lebih sekitar 2.141,57 Km². Sementara untuk jumlah populasinya mencapai sekitar 293.105 jiwa.

Kabupaten Lampung Barat mempunyai 15 Kecamatan. Meliputi Sumber Jaya, Tenong, Sukau, Suoh, Pagar Dewa, Sekincau, Kebun Tebu, Lumbok Seminung, Belalau, Gedung Surian, Batu Ketulis, Bandar Negeri Suoh, Batu Brak, Air Hitam dan Balik Bukit.

3. Lampung Timur

Lampung Timur memiliki luas wilayah kurang lebih sekitar 5.325,03 Km². Populasi di Lampung Timur mencapai 1 juta jiwa. Kabupaten ini memiliki 24 Kecamatan, yang meliputi:

Way Jepara, Waway Karya, Way Bungar, Sukadana, Sekampung Udik, Sekampung, Purbolinggo, Raman Utara, Pekalongan, Metro Kibang, Pasar Sakti, Mataram Baru, Melintang, Marga Sekampung, Margatiga, Labuhan Ratu, Labuhan Maringgai, Jabung.

Gunung Pelindung, Bumi Agung, Batanghari Nuban, Braja Slebah, dan Bandar Sribhawono.

4. Lampung Selatan

Lampung Selatan memiliki luas wilayah kurang lebih sekitar 2007.01 Km². Sementara untuk jumlah populasinya lebih dari 900 ribu jiwa, Kabuten ini mempunyai kurang lebih 17 Kecamatan.

Antara lain adalah Way Panji, Way Sulan, Tanjungsari, Sragi, Tanjung Bintang, Sidomulyo, Panengahan, Rajabasa, Natar, Palas, Ketapang, Marbau Mataram, Kalinda, Katibung, Candipuro, Jati Agung dan Bakauheni.

SEJARAH LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

Provinsi Lampung sendiri memiliki Pelabuhan utama yang bernama Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni dan pelabuhan nelayan seperti Pasar Ikan (di Teluk Betung), Kalianda di Teluk Lampung dan Tarahan.

Bandar udara yang penting adalah Radin Inten II, yaitu adalah nama modern yang dari Branti, 28 Km dari Ibukota yang menggunakan jalan Negara menuju Kotabumi, Pesisir Barat, Kiemas di Krui, Bandar Udara Gatot Soebroto di Kabupaten Way Kanan dan Lapangan Terbang AURI di temukan di Menggala yang mempunyai nama Astra Ksetra.

Disamping itu, Kota Menggala juga bisa dikunjungi oleh kapal-kapal nelayan dengan menyusuri sungai Way Tulang Bawang, yang mengenai di perairan Indonesia di temukan di Pelabuhan Krui.

Provinsi Lampung berdiri pada tanggal 18 Maret tahun 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintahan Nomor 3 Tahun 1964 yang terus menjadi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung adalah Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan.

Kendatipun dengan Provinsi Lampung sebelumnya pada tanggal 18 Maret tahun 1964 tersebut secara manajerial masih adalah bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, yang akan tetapi daerah ini sangat jauh sebelum Indonesia merdeka.

Baca Juga : Peta Bengkulu

Sebenarnya sudah menunjukkan potensi yang paling besar dan corak warna dari kebudayaan tersendiri yang bisa menambah khasanah norma dari Budaya yang ada di Nusantara yang tercinta ini.

Oleh karena itu pada masa VOC daerah Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Negara Belanda.

Lampung pernah menjadi Wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Sunda sampai pada abad ke 16, masa Kesultanan Banten menghancurkan Pajajaran, Ibukota dari Kerajaan Sunda. Sultan Banten adalah Hasanuddin,  kemudian mengambil alih kekuasaan atas Lampung.

Dibawah pimpinan Sultan Ageng Tirta pada tahun 1651-1683 Banten berhasil menjadi pusat dari perdagangan yang bisa menyaingi VOC di perairan Pulau Jawa, Sumatra dan Maluku.

Dalam masa pemerintahnnya, Sultan Ageng Tirta selalu berupaya meluaskan wilayah kekuasaan Banten yang terus mendapat hambatan karena dihalangi oleh VOC yang bercokol di Batavia.

VOC yang tidak suka dengan perkembangan Sultan Ageng Tirta Banten mencoba untuk berbagai cara supaya bisa menguasai termasuk mencoba membujuk Sultan Haji, Putra dari Sultan Ageng Tirta untuk melawan ayahnya sendiri.

Dalam perlawanan untuk menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Haji meminta bantuan kepada VOC dan sebagai imbalan ia menjanjikan kepada mereka akan menyerahkan penguasaan atas daerah Lampung kepada VOC.

Akhirnya pada tanggal 17 April tahun 1682 Sultan Ageng Tirtayasa disingkirkan oleh Sultan Haji dan Sultan Haji dinobatkan menjadi Sultan di Banten.

Dari perundingan-perundingan antara VOC dengan Sultan Haji menghasilkan sebuah piagam dari Sultan Haji yang tertanggal pada 27 Agustus tahun 1682 yang berisi antara lain :

menyebutkan bahwa sejak saat itu pengawasan perdagangan rempah-rempah atas daerah Lampung akan di serahkan oleh Sultan Banten kepada VOC yang sekaligus mendapatkan monopoli perdagangan di daerah Lampung.

Pada tanggal 29 Agustus tahun 1682 iring-iringan dengan armada VOC dan Banten membuang sauh di Tanjung Tiram. Armada tersebut di pimpin oleh Vander Schuur dengan membawa surat mandat yang dari Sultan Haji yang diwakili oleh Sultan Banten.

Ekspedisi Vander Schuur yang pertama kali tidak berhasil dan ia tidak mendapatkan lada yang ia cari. Perdagangan langsung antara VOC dengan Lampung mengalami kegagalan yang disebabkan karena tidak semua penguasa Lampung langsung tunduk kepada kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni.

Sebagaian mereka masih mengakui Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Sultan Banten dan menganggapnya kompeni adalah tetap sebagai musuhnya.

Sementara itu timbul rasa keraguan dari VOC yang mengenai status penguasaan Lampung di bahwa kekuasaan Kesultanan Banten, kemudian baru diketahui bahwa Penguasaan Banten atas Lampung tidaklah mutlak.

Penempatan dari wakil-wakil Sultan Banten di Lampung yang disebut dengan (jenang) atau kadang-kadang disebut dengan Gubernur hanyalah dalam mengurus kepentingan perdagangan hasil dari bumi (lada).

Sedangkan para penguasa dari Lampung asli terpencar pada tiap-tiap Desa atau tiap-tiap Kota yang disebut dengan (Adipati) secara hierarki tidak berada di bawah koordinasi penguasaan Gubernur atau Jenang.

Disimpulkan penguasaan Sultan Banten atas Lampung hanya dalam hal garis pantai saja dalam rangka menguasai monopoli dari arus keluarnya hasil bumi terutama hasil dari lada.

Dengan demikian jelas hubungan Banten dan Lampung merupakan hubungan yang saling membutuhkan satu dengan lainnya.

Selanjutnya pada masa Raffles yang berkuasa pada tahun 1811 adalah menduduki daerah semangka dan tidak mau melepaskan daerah Lampung terhadap Belanda karena Raffles beranggapan bahwasannya Lampung bukanlah jajahan Belanda.

Namun setelah Raffles meninggalkan Kota Lampung baru kemudian pada tahun 1829 ditunjuk kepada Residen Belanda untuk Lampung.

Pada masa itu, sejak tahun 1817 posisi dari Radin Inten, pejuang perlawanan Lampung semakin kuat dan membuat Belanda menjadi khawatir dan mengirimkan ekspedisi kecil yang dipimpin oleh Asisten Residen Krusemen yang menghasilkan persetujuan bahwa:

  • Radin Inten memperoleh bantuan keuangan dari Belanda sebesar f. 1.200 setahun.
  • Yang kedua saudara Radin Inten masing-masing akan memperoleh bantuan pula sebesar f.600 setiap tahunnya.
  • Radin inten tidak diperkenankan meluaskan lagi wilayah selain dari Desa-Desa yang sampai saat itu berada di bawah pengaruhnya.

Tetapi persetujuan itu tidak pernah dipatuhi oleh Radin Inten dan ia tetap melaksanakan perlawanan terhadap Belanda.

Sehingga pada tahun 1825 Belanda memerintahkan Leliever untuk menangkap Radin Inten, namun dengan cerdik Radin Inten bisa menyerbu benteng dari Belanda dan membunuh Liliever dan anak buahnya.

Belanda yang ketika itu juga tengah menghadapi Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830, dibuat tidak berkutik terhadap perlawanan tersebut. Pada tahun 1825 Radin Inten meninggal dunia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Radin Imba Kusuma.

Setelah Perang Diponegoro telah usai pada tahun 1830 Belanda menyerbu Radin Imba Kusuma bertempatan di daerah Semangka, dilanjutkan pada tahun 1833 Belanda kembali menyerang benteng Radin Imba Kusuma, yang semuanya menemui kegagalannya.

Baru pada tahun 1834 setelah Asisten Residen diganti dengan Perwira Militer Belanda yang didukung dengan kekuatan penuh, maka benteng Radin Imba Kusuma berhasil dikuasainya.

Radin Imba Kusuma menyingkir ke daerah Lingga, namum penduduk daerah lingga tersebut menyerahkan dan menangkapnya kepada Belanda, Radin Imba Kusuma kemudian di ke Pulau Timor.

Belanda juga kian genjar mendekati rakyat di pedalaman melalui Jalan Halus dengan memberikan berbagai hadiah kepada pemimpin perlawanan rakyat Lampung yang ternyata tidak membawakan hasil sama sekali.

Sehingga akhirnya Belanda membentuk tentara sewaan yang terdiri dari orang-orang Lampung sendiri berguna untuk melindungi kepentingan Belanda di daerah Teluk Betung dan di sekitarnya.

Dilai sisi perlawan rakyat yang digerakkan oleh Putra Radin Imba Kusuma yang bernama Radin Inten II yang terus berlangsung, sampai akhirnya Radin Inten II ditangkap dan dibunuh oleh tentara-tentara Belanda yang khusus untuk didatangkan dari Batavia.

Sejak itu Belanda mulai leluasa menancapkan kakinya di daerah Lampung, perkebunan mulai di kembangkan adalah penanaman tembakau, kaitsyuk, karet, kopi dan kelapa sawit.

Untuk kepentingan pengangkutan hasil dari perkebunan itu pada tahun 1913 yang dibangun jalan kerata api dari Teluk Betung menuju ke Pelembang.

Hingga menjelang Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus tahun 1945 pada periode perjuangan fisik setelah itu, Putra Lampung tidak ketinggalan untuk ikut terlibat dan merasakan betapa pahitnya perjuangannya melawan penindasan penjajah yang silih untuk bergantian.

Sampai akhirnya sebagai mana dikemukakan pada awal uraian tersebut pada tahun 1964 Keresidenan Lampung ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat I Provisin Lampung.

Kejayaan Lampung sebagai dari sumber lada hitam pun mengilhami para senimannya sehingga bisa tercipta lagu Tanoh Lada, bahkan ketika Lampung diresmikan menjadi Provinsi pada tanggal 18 Maret tahun 1964.

Lada hitam menjadikan salah satu bagian lambang daerah tersebut. Namun sayang saat ini kejayaanya tersebut sudah pudar.

NAMA PULAU DI PROVINSI LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

Luas Provinsi Lampung kurang lebih sekitar 35.376,50 Km². Sebelah Barat dari Lampung berbatasan dengan Selat Sunda, sedangkan di sebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa, Pulau-Pulau kecil yang termasuk pada Wilayah Provinsi ini antara lain adalah:

  1. Pulau Legundi
  2. Pulau Tegal
  3. Pulau Darot
  4. Pulau Sebuku
  5. Pulau Sebesi
  6. Pulau Krakatau
  7. Pulau Ketagian
  8. Pulau Poahawang
  9. Pulau Tabuan
  10. Pulau Putus
  11. Pulau Pisang
  12. Pulau Tampang

Dibagian Barat di sepanjang Pantai Provinsi Lampung adalah daerah berbukit yang rangkaiannya adalah Bukit Barisan. Di wilayah tengan dengan dataran rendah dan sebelah timur adalah perairan yang luas dari Laut Jawa.

NAMA GUNUNG DI LAMPUNG

PETA LAMPUNG
PETA LAMPUNG

Tak berlainan dengan Provinsi yang lain di Sumatera, Lampung juga memiliki banyak gunung, diantaranya adalah:

  1. Gunung Pesagi, tingginya mencapai 2.262 Mdpl di Liwa, Lampung Barat.
  2. Gunung Tanggamus, tingginya mencapai 2.156 Mdpl di Kotaagung. Tanggamus.
  3. Gunung Tebak, tingginya mencapai 2.115 Mdpl di Sumber Jaya, Lampung Barat.
  4. Gunung Seminung, tingginya mencapai 1.881 Mdpl di Sukau, Lampung Barat.
  5. Gunung Sekincau, tingginya mencapai 1.718 Mdpl di Liwa, Lampung Barat.
  6. Gunung Rantai, tingginya mencapai 1.681 Mdpl di Padang Cermin, Pesawaran.
  7. Gunung Pesawaran, tingginya mencapai 1.662 Mdpl di Kedondong, Pesawaran.
  8. Gunung Rindingan, tingginya mencapai 1.506 Mdpl di Pulau Panggung, Tanggamus.
  9. Gunung Rajabasa, tingginya mencapai 1.261 Mdpl di Kalianda, Lampung Selatan.
  10. Gunung Betung, tingginya mencapai 1.240 Mdpl di Pesawaran dan di Bandar Lampung.
  11. Gunung Krakatau, tingginya mencapai 813 Mdpl di Selat Sunda, Lampung Selatan.

Terdapat pula sungai-sungai, diantaranya adalah:

  1. Way Sekampung, sepangjang mencapai 265 Km.
  2. Way Semaka, sepanjang mencapai 90 Km.
  3. Way Seputih, sepanjang mencapai 190 Km.
  4. Way Jepara, sepanjang mencapai 50 Km.
  5. Way Tulang Bawang, sepanjang mencapai 136 Km.
  6. Way Mesuji, sepanjang mencapai 220 Km.

Demikian penjelasan tentang Peta Lampung , semoga dengan adanya artikel ini kita bisa menambah wawasan dan bermanfaat bagi kita semua, kurang lebihnya mohon maaf yang sebesar besarnya.

Peta Lampung

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *