Mengenal Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah Adat Sulawesi Selatan – Rumah Adat ini sebagai bagian dari kebudayaan yang tentunya mempunyai keberagaman dengan ciri khasnya masing-masing rumah adat tersebut.

Begitu juga dengan Provinsi Sulawesi Selatan yang juga memiliki rumah adat yang bermacam-macam dan sesuai dengan suku-suku dalam satu kesatuan rumah adat di wilayah Sulawesi Selatan.

Rumah adat bagi masyarakat di Provinsi Sulawesi Selatan dianggap sebagai sesuatu yang sangat sakral dikarenakan di setiap bagian mempunyai filosofi rumah adat itu sendiri.

Terlepas dari itu, rumah adat ini mempunyai nilai artistik yang sangatlah tinggi. Dengan arsitektur yang khas dari timur dan pengaruh dari lainnya menjadikan keberagaman rumah adat ini menjadi semakin unik.

Rumah adat Sulawesi Selatan mempunyai keberagaman yang berdasarkan sukunya masing-masing di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Rumah Adat Suku Bugis

Rumah Adat Suku Bugis di dalam pembangunnanya selain dipengaruhi oleh buday tradisional mereka juga di pengaruhi oleh budaya agama islam.

Hal ini dikarenakan Agama Islam sudah membudaya serta bisa dilihat dari mereka yang membangun rumah adat yang kebanyakan berorientasi ke arah kiblat.

Rumah Adat Suku Bugis yang satu ini bentuknya cukup unik. Pasalnya rumah adat ini dibuat oleh masyarakat Bugis tidak menggunakan paku sama sekali, melainkan digantikan oleh kayu ataupun besi.

Rumah adat ini dibangun berdasarkan dari status sosial mereka. Untuk rumah saoraja digunakan untuk kalangan bangsawan, sedangkan untuk bola digunakan untuk rakyat biasa. Baik rumah adat saorja atau rumah adat boal memiliki 3 bagian, diantaranya adalah :

  • Kalle Bala atau Bola adalah ruangan khusus seperti ruang tidur, ruang tamu, ataupun ruang dapur.
  • Pemmakang (Makassar) atau Rakkaeng (Bugi), digunakan untuk menyimoan bahan makanan, benda pusaka, perak, emas, ataupun perhiasan.
  • Passiringan atau Awasao ruangan digunakan untuk menyimpan alat pertanian atau untuk ternak

Di bagian menarik yang lainnya dari rumah Adat Suku Bugis adalah di sisi ornamennya. Ornamen tersebut tidak hanyak digunakan untuk sebagai hiasan saja, lebih dari itu, orname melambangkan sebuah simbol dari status pemilik rumah tersebut.

2. Rumah Adat Suku Makassar

Rumah Adat Suku Makassar berbeda dengan suku yang lainnya. Masyarakat di wilayah Makassar menyebut rumah adatnya dengan sebutan Balla.

Rumah Suku Makassar berbentuk panggung dan tingginya mencapai 3 meter dari permukaan tanah. Rumah ada ini disangga dengan kayu yang berjumlah 5 penyanggah ke arah belakang dan 5 penyanggah lagi ke arah samping.

Berbeda dengan rumah yang seorang bangsawan yang tingkatan perekonomiannya tinggi, maka biasanya ukurannya lebih besar. Selain itu, jumlah penyangga biasanya berjumlah 5 penyangga ke arah samping dan berjumah 6 atau lebih penyanggah ke arah belakang.

Untuk atap rumah Adat Makassar ini berbentuk pelana bersudut lancip yang menghadap ke arah bawah. Atap rumah adat ini bsa terbuat dari bahan rumbia, nipah, ijuk, bambu, atau alang-alang.

Uniknya lagi, dibagian puncak atap yang berbatasan dengan dinding ada bentuk segitiga yang dinamakan dengan timbaksela.

Tibaksela yang ada di puncak atap ini mempunyai simbol tersendiri bagi masyarakat wilayah Makassar yaitu menandakan derajat kebangsawanan mereka.

Timbaksela yang tidak tersusun dimiliki oleh warga yang biasa sedangkan untuk yang bersusun tiga ke atas miliki seorang bangsawan, sedangkan susunan berjumlah 5 ke tas milik bangsawan yang mengemban jabatan sebagai pemerintahan.

Ada juga yang dinamakan tukak, yaitu tangga yang digunakan di dalam rumah adat. Untuk seorang bangsawan, tukak mereka terdiri 3 atau 4 anak induk tangga dengan pegangannya “coccorang”. Sedangkan warga yang biasanya tukak jumlahnya ganjil dan tidak memiliki coccorang.

Aturan dalam rumah adat Makassar biasanya di bagian atas bawah atap dibuatkan loteng berguna untuk menyimpan barang, misalkan menyimpan padi. Sedangkan di bagian bawah rumah adat dibuatkan siring yang berfungsi sebagai gudang.

Baca Juga : Rumah Adat di Indonesia

Bagian- Bagian Ruangan Rumah Adat Suku Makassar

  • Timbaksela

Timbaksela adalah bentuk segitiga di bagian pucuk atap rumah, ini adalah penandaan derajat dari kebangsawanan seseorang.

  • Dego-Dego

Dego-dogo atau teras adalah ruangan kecil di dekat tanggan sebelum masuk kedalam rumah, biasanya digunakan tamu untuk menunggu pemilik rumah yang sedang keluar.

  • Kale Balla

Kale Balla atau badan rumah yang terdiri dari ruangan atau paddangserang. Di sampingnya terdapat lorong atau tambing tetapi letaknya lebih rendah.

  • Paddaserang Dallekang

Paddaserang Dallekang atau ruang tamu, tempatnya berada di bagian depan dan digunakan untuk menerima tamu.

  • Paddaserang Riboko

Paddaserang Riboko atau ruangan belakang biasanya untuk digunakan sebagai kamar dan terutamanya kamar anak gadis.

  • Paddaserang Tangnga

Paddaserang Tangnga atau ruangan tengah, biasanya digunakan untuk aktivitas yang menjaga privasi.

  • Pammakkang

Pammakkang atau loteng adalah digunakan untuk menyimpan bahan makanan, benda pusaka dan benda-benda yang lainnya.

  • Balla Pallu

Balla Pallu atau dapur adalah tempatnya yang lebih rendah daripada paddaserang dan bisanya digunakan untuk menyimpan kebutuhan dapur dan kegiatan memasak sehari-harinya.

  • Siring

Siring atau bagian bawah rumah biasanya digunakan untuk gudang.

3. Rumah Adat Suku Mandar

Rumah Adat khas dari Suku Mandar ini dinamakan dengan rumah boyang. Dengan gaya arsitekur rumahnya yang unik.

Rumah Adat Suku Mandar mempunyai bentuk yang sama dengan rumah adat Suku Bugis dan rumah adat Makassar.

Rumah panggung ini terdiri dari material kayu dan ditopang dengan tiang penyangga. Rumah adat boyang ini terdiri dari dua jenis, yaitu Boyang Beasa untuk tempat tinggal rakyat biasa dan Boyang Adaq untuk tempat tinggal bangsawan.

Untuk Boang Adaq akan diberikan ornamen tertentu yang melambangkan identitas dari status sosial yang menghuni rumah adat tersebut.

Ornamen ini bisa Anda lihat dari penutung bumbungan, yang mempunyai tiga sampai tuju susun. Bisa dibilang semakin banyak tumpukan tersebut, maka semakin tinggi juga derajat statusnya.

Namun, bisa kita lihat perebedaannya yang terletak pada bagian terasnya “lego” yang lebih besar. Selain itu, jika kita lihat dari atapnya, maka bentukknya seperti ember yang miring kedepan.

Pada umumnya rumah adat khas suku Mandar akan warnanya gelap, namun ada juga yang mepertahankan warna asli kayu seperti warna coklat ataupun warna coklat tua.

Rumah adat suku Mandar ini juga mempunyai bentuk atap segitiga, serta bertumpuk. Tentunya ketika Anda mengunjungi rumah adat Suku Mandar ini, rasanya nyaman dan dingin yang bisa dirasakan secara langsung.

Baca Juga : Rumah Adat Jawa Tengah

4. Rumah Adat Suku Luwuk

Rumah Adat Suku Luwuk dahulunya adalah rumah Raja Luwu. Raja Luwu adalah rumah adat di wilayah Sulawesi Selatan dibangun dengan 88 tiang yang berbahan utamanya adalah dari kayu.

Bentuk rumah adat ini persegi empat yang dimana antara pintu dan jendela ukurannya sama. Selain itu, rumah adat Suku Luwuk mempunyai 3 sampai 5 bubungan sebagai penanda dari pemilik rumah tersebut.

Di bagian pertama dari rumah adat ini terlihat dari ruang yang luas yang dimana dahulunya digunakan untuk membahas masalah kerajaan dengan rakyaktnya.

Dibagian kedua sesudah ruangan tersebut akan kita temukan dua kamar namun untuk ukurannya adalah lebih kecil.

Yang membedakannya rumah adat ini dengan rumah adat yang lainnya adalah pahatan dan ukiran ornamennya. Ornamen rumah adat ini disebut dengan bunga prengreng yang melambangkan filosofi hidup yang menjalar ke induk tangga, anjang “ tutup bangunan” dan papan jendela.

5. Rumah Adat Suku Toraja

Rumah Adat Suku Toraja dinamakan dengan “Tongkonan”. Tongkonan yang berdiri di atas tumpukan kayu dengan ukurian yang berwarna hitam, merah dan kuning.

Tongkonan melambangkan hubungan dengan leluhur mereka sehingga digunakan untuk sebagai pusat spiritual mereka.

Rumah adat ini adalah rumah panggung yang bahannya dari kayu dan memiliki 3 bagian. Bagiannya terdiri dari kalle benuda “badan rumah”, ulu banua “atap” dan suluk banua “kaki rumah”.

Sedangkan untuk tata ruangan sendiri ada ruangan tengah “ruang keluarga, ruang utara “ruang tamu”, dan ruang selatan “ambung”. Tongkonan dikenal dengan 3 jenis, yaitu :

  • Tongkonan batu, tongkonan batu in digunakan oleh warga biasa masyarakat Suku Toraja.
  • Tongkonan Pekanberan “Pekaindoran”. Pekaindoran biasanya dimiliki oleh anggota keluarga yang mempunyai kedudukan dalam adat.
  • Tongkonan Layuk. Untuk tongkonan layuk berfungsi sebagai tempat kekuasaan tertinggi karena sebagai pusat pemerintahan suku Toraja.

Seperti rumah adat yang lainnya, ornamen di dalam rumah adat Toraja ini menunjukkan konsep keagamaan yang disebut dengan passura “peyampaian”. Di setiap guratan ukiran pada kayu mengandung nilai yang magis bagi si pemiliknya.

6. Rumah Adat Model Bola

Apabila rumah Adat Saoraja menjadi tempat tingga para bangsawan sedangkan rumah adat model bola sendiri adalah rumah adat biasa yang menjadi tempat tinggal dari rakyat yang biasa.

Sedangkan untuk interior dan ukuran dari rumah adat tersebut tergolong jauh lebih kecil dibandingkan rumah adat yang ada sebelumnya.

Dimana rumah adat bola ini mempunyai jumlah tiang sekitar 20 – 30 tiang dan memiliki timba lanja yang bisa di perbesar atau dibuat dengan polos.

Sedangkan untuk tangga-tangga yang dibuat pada rumah adat balon sendiri tidaklah terlalu tinggi serta dibuka dengan bermacam macam ornamen, seperti berikut ini :

  • Ornamen dan Flora

Ornamen dan Flora dimana cara tersebut memiliki hiasan yang berupa daun dan bunga yang sangat dipercaya bisa membantu rezeki yang tidak terputus.

  • Corak Alam

Corak alam sendiri menjadi salah satu hiasan yang cukup sering kali digunakan rumah adat dimana cara alami memiliki hiasan kaligrafi dari pertenakan islam.

  • Corak Fauna Asli

Corak fauna asli biasanya akan memakai kepala kerbau yang menjadi simbol bumi. Simbol dari penunjuk jalan, simbol dari status sosial para penghuninya dan simbol binatang tunggangan.

Tak hanya itu saja corak naga yang sering kali di pakai yang memiliki arti wanita yang lemah lembut dan memiliki kekuatan.

Sedangkan untuk bentuk simbol ayam janta yang mana memiliki arti dari kerajinan dan kekayaan sehingga hiduppun bisa selalu lebih baik dan bisa membawa sebuah keberuntungan.

Baca Juga : Rumah Adat Sulawesi Utara

7. Rumah Adat Model Panggung

Rumah Adat Model Panggung adalah salah satu rumah adat yang berasal dari Suku Bugis yang memiliki bentuk persegi empat, dengan bentuknya yang memanjang ke bagian belakang.

Rumah adat yang berasal dari Sulawesi Selatan ini sendiri bentuknya memanjang sengaja dibuat dengan lepas, karena supaya rumah adat ini bisa dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

Masyarakat dari Suku Bugis sendiri biasanya akan membahasan tentang berbedaan sosial yang dimana memang sangatlah menentuksn desain dari rumah adat ini yang dimiliki oleh beberapa keluarga, yang dimana hal tersebut akan ditandai dengan beberapa simbol yang tertentu.

Dari beberapa jenis lapisan sosial yang natinya akan sangat kompetaibel dari desain rumah adat yang hendak akan dibuat.

Untuk rumah Sewa Rodja memiliki ukuran yang cukup besar dan mempunyai jumlah tiang kurang lebih sekitar berjumlah 40 tiang, bahkan bisa saja jumlah kayu tiang tersebut sebanyak 40 % dari bangunan rumah tersebut.

Rumah Sewa Rodja sendiri memiliki timpa laja dengan tingkat mencapai 3 sampai 5 tingkat dan memiliki tangga kurang lebih mencapai 2 meter.

Selain itu pada rumah-rumah di Suku Bugis biasanya disebut dengan pemakang, yang dimana pemakang tersebut adalah bahasa dari Makassar yang tempat untuk menyimpan dalam berbagai macam benda pusaka.

Bahkan ruangan tersebut menjadi ruangan khusus yang digunakan untuk ruang istirahat, ruang tamu, dan ruang makan.

Sedangkan untuk sebutan dari awasao atau pasiringan menjadi tempat untuk menyimpan hewan ternak dan mennyimpan alat untuk bertani.

Rumah Adat Sulawesi Selatan sendiri memiliki banyak fungsi hiasan yang mempunyai pola fauna dan flora dan memiliki corak alam yang bisa menambahkan keunikan dan keindahan dari rumah adat sulawesi selatan tersebut.

Rumah Adat Sulawesi Selatan Yang Unik

Rumah adat khas dari pulau Sulawesi Selatan memang mempunyai ciri khas yang dimana rumah tersebut dari Suku Luwuk yang biasanya disebut dengan rumah adat langkanae.

Rumah adat tersebut mempunyai ciri khas yang bahan dasar pembuatan terbuat dari bahan kayu dan memiliki kurang lebih 100 cm buah.

Terlebihnya lagi pada saat pemerintahan Belanda, sudah banyak rumah adat suku Luwuk yang dihancurkan sehingga jejak dari sejarah rumah adat Sulawesi Selatan tidak kenal di kalangan masyarakat .

Namun perlu Anda untuk ketahui Jika masih ada juga beberapa rumah adat dari Provinsi Sulawesi Selatan yang masih bisa kita pelajari.

Bila Anda ingin melihat berbagai jenis rumah adat, maka rumah Adat ini identik dengan rumah panggung yang memiliki tinggi kurang lebih mencapai 3 meter dari permukaan tanah.

Rumah adat ini ditopang dengan menggunakan beberapa tiang kayu yang ditata dengan rapi, rumah adat ini memang memiliki desain yang bentuknya segi empat dengan menggunakan tiang penyangga yang menghadap ke belakang dan mempunyai 5 tiang penyangga yang mengadap ke arah samping.

Sedangkan untuk rumah yang digunakan untuk tempat tinggal para Bangsawan akan memiliki atap yang mirip dengan kuda pelana yang dimana di bagian ujungnya sangatlah rungcing.

Ada beberapa hal yang unik lainnya, yaitu di bagian atap menggunakan bahan rumbia, alang-alang tau nipah. Namun, untuk rumah masyarakat yang saat ini sudah menggunakan atap dengan bahan seng atau genteng.

Sedangakan di bagian atap yang belakang serta di bagian depan memiliki puncak dengan berbentuk segitiga yang mempunyai nama di timbak sela.

Timbak sela tersebuta nantinya akan dipakai secara bersusun dan hal ini menjadikan tanda jika rumah adat ini adalah tempat tinggal dari kalangan seorang bangsawan.

Apabila semakin banyak susunan dari timbak sela maka semakin banyak dipastikan akan semakin tinggi pula derajatnya dari penghuni rumah adat tersebut.

Ciri Khas dan Penjelasan dari Rumah Adat Sulawesi Selatan

  • Rumah Adat Tukak

Rumah Adat Tukak adalah rumah adat yang terbuat dari kayu dengan mempunyai tiga tangga, biasanya tangga tersebut akan digunakan untuk para rakyat biasanya sehingga tidak dilengkapi dengan adanya cocorang, atau tegangan dan yang pasti rumah fuku ini mempunyai anak tangga yang berjumlah ganjil.

  • Rumah Adat Sapana

Rumah Adat Sapana memiliki cocorang yang pegangannya berada di bagian samping dan pada umumnya tegangan tersebut akan ada di rumah adat para bangsawan.

Sedangkan untuk tangganya sendiri akan menggunakan bahan baku bambu yang berjumlah tangga di sekitar 3 atau 4 yang semua anak tangganya dibuat dengan cara dianyam.

Baca Juga : Rumah Adat Jawa Barat

Itulah ragam rumah adat di Wilayah Sulawesi Selatam yang masing-masing berbeda antara satu suku dengan suku yang lainnya. Perbedaan inilah yang memperkaya ragam dakn kebudayaan di wilayah Sulawesi Selatan dalam rumah adat tersebut.

Rumah adat tidak hanya untuk sebagai tempat tinggal saja melainkan ada juga filosofi tersendiri di setiap bagian rumah adat tersebut.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply