Suku Bajo ‘Sang Pelaut’ Yang Suka Petualangan

Suku Bajo – Anekaragam suku yang ada di Indonesia mencerminkan sebuah kekayaan budaya yang dimiliki negara kesatuan ini.

Setiap suku di Indonesia memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri yang berbeda satu sama lain.

Jika pulau Jawa memiliki suku Jawa dengan sebaran yang membentang dari Barat hingga Timur, maka di wilayah Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara didiami oleh suku Bajo.

Suku Bajo merupakan kumpulan masyarakat yang dikenal sebagai pelaut ulung atau sea gysies serta disebut pula sea nomads.

Sebagai pelaut, mereka selalu berpindah-pindah dari satu muara ke muara lain.

Biasanya suku ini akan mudah ditemukan di daerah pesisir dan muara wilayah Asia Tenggara mulai dari Filipina, Indonesia, Malaysia, Myanmar, dsb.

Untuk lebih mengetahui informasi lengkapnya, yuk simak penjelasan berikut!

Asal Muasal Suku Bajo

sejarah suku bajo

Asal muasal suku Bajo belum diketahui secara pasti oleh para peneliti dan sejarawan.

Hal ini dikarenakan orang-orag Bajo tidak memiliki tempat tinggal yang tetap.

Mereka selalu berkelana mengarungi laut dari satu tempat ke tempat lain dan tidak hanya di Indonesia saja.

Pada zaman nenek moyang terdahulu, suku Bajo ini menggunakan perahu kayu yang disebut pek atau bidak sebagai sarana untuk berkelana.

Kebiasaan hidup di laut membuat mereka menjadi suku yang dikenal hebat dalam berenang dan menyelam tanpa ada alat pernapasan tambahan.

Baca Juga : Suku Di Indonesia

Mata Pencaharian Suku Bajo

suku bajo

Berdasarkan asal muasal nenek moyang suku Bajo yang identik dengan laut, maka suku ini memilki mata pencaharian utama sebagai nelayan.

Mereka berlayar setiap hari untuk mendapatkan ikan yang nantinya digunakan sendiri mauoun dijual atau ditukarkan dengan bahan makanan lainnya.

Kehidupan sederhana yang ditonjolkan suku ini akibat cara hidup mereka yang nomaden.

Pada zaman dahulu, suku ini masih menganut sistem kerja antara punggawe / bos dan sawi / buruh.

Sistem ini berlaku dalam kurun waktu yang lama karena saling menguntungkan.

Tugas punggawe adalah menyiapkan peralatan berlayar, sedangkan sawi bertugas untuk menangkap ikan dengan sewa alat dari si punggawe.

Namun, adanya perkembangan teknolongi yang semakin canggih di era sekarang membuat  beberapa orang asli Bajo tidak hanya berprofesi sebagai nelayan saja.

Meskipun mereka tetap tinggal di daerah pesisir pantai, namun mereka juga bertani dan berladang di lahan yang masih kosong. Selain itu, ada pula yang menjadi pegawai sipil bahkan pengusaha.

Bahasa Sehari-hari Suku Bajo

suku bajo

Sebagian besar suku Bajo yang masih tinggal di daerah pesisir menggunakan bahasa keseharian yang dinamakan sama bajau.

Bahasa ini tidak hanya digunakan oleh orang Bajo yang tinggal di Indonesia saja tetapi juga digunakan oleh orang Bajo yang tinggal di wilayah lain.

Namun beberapa generasi muda suku Bajo sudah mulai menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian mereka.

Pantangan Suku Bajo

suku bajo

Sebagai masyarakat yang terbiasa hidup di pesisir dan memliki mata pencaharian sebagai nelayan, maka ada aturan tertentu yang mengikat para suku Bajo. Pantangan yang tidak boleh dilanggar leh suku ini adalah:

1. Berkata kotor

Berkata kotor saat mencari ikan di laut  menurut kepercayaan suku Bajo bisa menyebabkan celaka.

Hal ini karena dianggap tidak memiliki sopan santun kepada leluhur dan alam semesta.

Keyakinan ini muncul karena mereka sedari awal sudah hidup di pesisir laut.

2. Membawa jeruk

Jika Anda berada di wilayah suku asli Bajo dan ikut mereka mencari ikan, pasti Anda akan dilarang untuk membawa jeruk.

Hal ini dikarenakan buah jeruk dianggap sebagai buah yang dikeramatkan da tidak boleh berada di wilayah laut.

3. Takabur

Saat sedang mencari ikan, Anda tidak boleh memiliki sifat takabur.

Hal ini dikarenakan bisa memancing penguasa laut untuk mencelakakan Anda. kepercayaan orang Bajo ini tetap dilestarikan sampai sekarang sehingga mereka sebisa mungkin menjadi pribadi yang sederhana.

4. Membuang abu dapur

Selain untuk menjaga kelestarian biota laut, pantangan membuang abu dapur di masyarakat suku Bajo juga diyakini bisa memberikan keselamatan saat mencari ikan.

Membuang abu dapur dapat memunculkan amarah penguasa laut yang bisa berpengaruh pada hasil tangkapan maupun keselamatan nelayan.

Baca Juga : Suku Betawi

Sistem Kepercayaan Suku Bajo

suku bajo

Sistem kepercayaan yang dianut oleh suku Bajo mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.

Namun, ada beberapa adat istiadat yang masih berjalan hingga sekarang.

Mereka menyebut sistem kepercayaannya dengan life cycle atau upacara peralihan. Berikut keterangan lebih lengkapnya:

1. Upacara sangadna atau Sakina

Upacara ini dilaksanakan saat seorang perempuan sedang hamil di usia 2 hingga 3 bulan.

Adapun pelaksanaan upacar ini bertujuan untuk memohon kelancaran dan kesehatan atas ibu dan bayi yang dikandung.

Selain itu juga untuk menghindarkan ibu dari keguguran dan keburukan yang ada di alam dunia.

Upacara Sangkina diadakan dalam 2 bentuk yakni meriah dan sederhana.

Pada upacara sederhana, perlengkapan yang harus disiapkan adalah 1 butir telur kampung, 2 sisir pisang dan 4 lembar daun sirih.

Kemudian dukun suku Bajo akan membacakan mantra-mantra khusus.

selanjutnya perlengkapan tadi digantung di kamar yang pada sore harinya dilarung ke laut.

Sedangkan upacara yang meriah harus menyiapkan nasi kuning, ketan hitam dan putih, telur ayam kampung, 7 lembar daun sirih, dan 3 sisir pisang.

Upacara ini biasanya dilakukan oleh golongan lolo Bajo atau yang memiliki strata sosial yang tinggi.

Prosesi upacaranya hampir sama dengan yang sederhana tetapi sang wanita yang hamil diberikan kalung manik-manik.

2. Upacara Campaniga

Ketika seorang perempuan hamil suku Bajo merasa akan segera melahirkan, pihak keluarga akan membuat tenda dari train yang dipasang didepan rumah.

Setelah bayi lahir, maka sang ibu akan memandikannya dengan air laut.

Hal ini bertujuan sebagai pengenalan awal bahwa nenek moyang mereka adalah seorang pelaut ulung.

Ari-ari bayi yang baru lahir akan dicamour dengan asam, garam dan bahan lain yang kemudian dibungkus kain putih dan diletakkan kedalam tempurung kelapa.

Setelah semuanya dibungkus rapi, tempurung kelapa tersebut dilarung ke laut.

Orang-orang Bajo berkeyakinan bahwa bayi adalah titipan Tuhan hingga 40 hari.

Rangkaian upacara kelahiran juga meliputi upacara aqiqah layaknya umat muslim yang dilakukan pada hari ke tujuh.

Selain menyembelih kambing, orang Bajo juga menyiapkan hidangan lain seperti ketan hitam, jagung, telur ayam kampung sebagai sajen untuk sang leluhur.

Baca Juga : Suku Bugis

3. Upacara Khitan

Fase selanjutnya yang masuk dalam upacara adat suku Bajo adalah upcara khitan.

Upacara ini dapat dilakukan ketika anak memasuki usia 5 hingga 6 tahun.

Yang melaksanakan khitan biasanya dilakukan oleh dukun setempat.

Pihak keluarga hanya menyiapkan air di gentong yang nantinya akan dibacakan mantra oleh sang dukun.

Setelah proses khitan selesai, pihak keluarga akan mengadakan pesta meriah dengan mengundang tetangga dan sanak saudara.

Lagu wajib yang harus didendangkan saat pesta ini adalah lakadandido dan relaalmuah.

Selain itu bender aula rulak juga harus dipasang didepan rumah.

Anak perempuan juga wajib melakukan khitan.

Namun, bagi anak perempuan diharuskan diam didalam rumah selama 3 hari 3 malam guna menjaga kesehatan mereka hingga pulih.

Prosesi yang dilakukan saat mengkhitankan anak perempuan sama halnya dengan anak laki-laki.

4. Upacara Pernikahan

Upacara perkawinan bagi suku Bajo dianggap fase yang sakral dan pribadi.

Setiap pasangan yang akan menikah harus mendapatkan restu dari semua pihak keluarga bahkan tetangga terdekat.

Ada beberapa fase upacara pernikahan yang harus dilalui orang Bajo, diantaranya yakni:

  • Mamea atau Penyelidikan
  • Napare patikcu atau penjajakan
  • Moduta atau lamaran
  • Ninde alay atau kesepakatan
  • Napat botte atau pesta
  • Ziarah kubur leluhur

5. Upacara Matulla Bala

Upacara ini diadakan dengan tujuan agar kehidupan suku Bajo dijauhkan dari segala marabahaya.

Upacara ini tidak hanya dilakukan sekali saja, namun bisa beberapa kali karena pengadaan upacara Matulla Bala jika sang pemimpin adat mendapatkan mimpi atau firasat buruk.

6. Upacara berlayar ke Laut

Dikarenakan mata pencaharian sebagian besar suku Bajo adalah nelayan dan membuat mereka selalu berada di laut setiap harinya, maka kepercayaan mereka adalah menjaga kelestarian laut sebaik mungkin.

Sebelum mereka berangkat melaut, para nelayan pasti menyiapkan sajen berupa telur ayam kampung dan daun sirih untuk dilarung.

Para nelayan dari Bajo percaya bahwa jika mereka memberikan sajen kepada penguasa laut atau pangangroak, mereka akan diberikan keselamatan selama mencari ikan dan hasil tangkapanya juga lebih banyak.

Selain itu juga menjadi bukti penghormatan kepada para leluhur mereka yang sudah sangat berjasa dalam mengajarkan ilmu kehidupan.

7. Upacara Perahu Baru

Ketika ada masyarakat yang memiliki perahu baru, maka wajib melaksanakan upacara untuk selamatan perahu tersebut.

Hal ini dimaksudkan agar perahu baru bisa membawa keberuntungan bagi pemiliknya dan hasil tangkapan ikan lebih melimpah.

Upacara perahu baru dipimpin oleh tetua adat atau panre mugai.

Sang pemilik perlu menyiapkan perlengkapan mulai dari buah pinang,nasi ketan, daun sirih, kapur sirih dan 2 ayam jantan juga 1 ayam betina.

Prosesi upacara dimulai dengan mendorong perahu ke laut, kemudian memasukkan sajen berupa daun sirih, kapur sirih, ketan dan buah pinang kedalam perahu baru.

Prosesi dilanjutkan dengan mengoleskan darah ayam ke perahu tersebut.

Sisa ayam yang masih hidup dibiarkan terlepas hingga ada masyarakat yang menangkapnya.

8. Upacara Kematian

Upacara terakhir dari sistem kepercayaan suku Bajo adalah upacara kematian.

Meskipun ada banyak upacara adat yangtidak boleh ditinggalkan, namun masyarakat Bajo merupakan penganut islam yang cukup taat.

Mereka akan melaksanakan upacara kematian layaknya syariat islam yang berlaku.

Ajaran islam mengenai menyegerakan kubur orang yang meninggal juga dilaksanakan oleh suku ini.

Keluarga dan kerabat akan segera memandikan, mensholatkan dan mengubur jenazah.

Mereka juga akan mengadakan doa bersama di malam ke 3, ke 7 hingga ke 400.

Upacara kematian yang dilakukan oleh masyarakat Bajo disebut dengan ngala beangi

Keistimewaan dan keunikan yang dimiliki setiap suku di Indonesia tidak pernah ada habisnya untuk terus digali, termasuk suku Bajo yang mendiami wilayah pesisir pulau Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Akankah Anda akan berkunjung ke wilayah orang-orang Bajo untuk mengekplor lebih jauh mengenai kebudayaan mereka?

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply