Kebudayaan Suku Banjar

Suku Banjar – Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua merupakan semboyan bangsa Indonesia.

Semboyan tersebut mencerminkan keadaan bangsa Indonesia yang memiliki banyak keragaman salah satunya yaitu keragaman suku bangsa.

Hampir di setiap daerah di Indonesia mempunyai suku bangsa, salah satunya yaitu suku Banjar, berikut ulasan mengenai suku ini.

Asal Usul dan Penyebaran

sejarah suku banjar

Menurut suatu sumber suku Banjar merupakan campuran antara orang Melayu purba dengan Bahasa Melayik dengan Dayak Barito-Meratus dari suku Dayak Maanyan, Dayak Meratus, dan Dayak Ngaju.

Suku-suku ini berasimilasi dan menghasilkan suku ini.

Suku Banjar merupakan suku yang tinggal di daerah Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Selain itu suku ini juga menempati daerah Riau, Jambi, Sumatra Utara, dan Semenanjung Malaysia penyebaran ini terjadi karena adanya migrasi yang dilakukan suku ini pada abad  ke-19 M.

Rumah Adat

rumah adat suku banjar

Rumah Bumbungan Tinggi  atau Ba-Bubungan Tinggi merupakan rumah adat dari suku Banjar.

Rumah ini dulu dikhususkan untuk sentral dari kediaman raja, namun saat ini Rumah Bumbungan Tinggi telah dikenal sebagai simbol kebanggaan oleh suku ini.

Secara umum rumah ini serupa dengan rumah adat Betawi (Rumah Bapang) perbedaanya terletak pada konstruksi panggung dan penambahan anjung.

Berikut adalah ciri-ciri Rumah Bumbungan Tinggi:

  1. Adanya atap Sindang Langit tanpa menggunakan plafon
  2. Tangga naik yang jumlahnya selalu ganjil
  3. Pamedangan yang diberi lapangan dengan kandang disekelilingnya
  4. Adanya rasi yang berukir
  5. Menggunakan Konstruksi Sunting
  6. Menggunakan konstruksi dari bahan kayu

Rumah ini menggunakan konstruksi Sunting yang sangat khas, konstruksi ini dibagi atas beberapa bagian yaitu:

1. Anjung

Merupakan bangunan yang menempel pada bagian kiri dan kanan.

2. Bumbungan Tinggi

Merupakan bumbungan atap yang tinggi dan melancip

3. Atap Sindang Langit

Merupakan bumbungan atap sengkuap yang letaknya memanjang kedepan.

4. Atap Hambin Awan

Merupakan bumbungan atap yang letaknya memanjang kebelakang.

5. Bangunan induk

Merupakan tubuh dari bangunan dengan bentuk memanjang lurus ke depan. Bangunan ini dibagi atas beberapa bagian ruangan yang berjenjang lantainya, ruangan-ruangan ini yaitu:

  • Palatar/Pamedangan (teras atau pendopo)
  • Pacira (ruang transisi)
  • Panampik Kecil (ruang tamu muka)
  • Panampik Tangah (ruang tamu tengah)
  • Panampik Basar (ruangtamu utama)
  • Palidangan atau Ambin Dalam (ruang bagian dalam)
  • Panampik Dalam/Panampik Bawah (ruangan bagian dalam)
  • Padapuran/Padu (ruangan bagian belakang biasanya untuk memasak)

Baca Juga : Suku Di Indonesia

Kesenian Adat

Suku Banjar memiliki berbagai kesenian adat yang berkembang di lingkungan masyarakatnya, berikut ulasannya:

1. Tarian

kesenian adat banjar

Tari adat suku Banjar terbagi menjadi 2 bagian yaitu tari yang berkembang di wilayah kerajaan atau biasa dikenal dengan sebutan Baksa dan tari yang berkembang di wilayah masyarakat atau biasa dikenal dengan sebutan Radab.

Tarian adat ini mirip dengan tarian adat Jawa yang mengusung rasa alem, pelan, dan luwes. Sehingga sangat berbeda dengan tarian tradisional dari daerah pulau Sumatra maupun Papua.

Tarian adat ini biasanya disajikan dalam upacara-upacara tertentu yang kerap dilakukan oleh suku ini.

2. Teater

kesenian adat banjar

Dalam suku ini teater biasa dikenal dengan Mamanda.

Mamanda sendiri yaitu teater rakyat yang biasanya menyajikan latar kerajaan melayu Banjar, latar ini dipengaruhi oleh kepercayaan bahwa pada mulanya suku ini berasal dari daerah melayu yang melakukan migrasi.

Kesenian ini berfungsi sebagai hiburan dan pertunjukan bagi masyarakat.

3. Musik

kesenian adat banjar

Dalam masyarakat kesenian musik yang berkembang yaitu “Gamelan Banjar”.

Hampir sama seperti gamelan di Jawa, perangkat musik yang digunakan pada suku ini yaitu gong, kendang, sarun, kanung, kongsi, seruling, dan masih banyak lagi.

Seni Gamelan Banjar ini biasanya dipertunjukkan pada acara-acara kerajaan dan acara-acara tertentu.

4. Tradisi Lisan

kesenian adat banjar

Kesenian yang terkenal yaitu “Madihin”.

Madah merupakan asal dari kata madihin yang berarti nasihat.

Kesenian Madihin yaitu kesenian untuk berpantun serta bersyair.

Kesenian ini biasa dipertunjukkan dengan rima-rima tertentu dan ditampilkan dengan berkelompok.

Upacara Adat dan Mitos yang Berkembang

Kepercayaan yang dianut oleh suku Banjar pada akhirnya menghasilkan berbagai upacara adat yang di lakukan secara turun temurun oleh suku ini, berikut beberapa upacara adat yang kerap dilakukan:

1. Upacara Adat Pernikahan

upacara adat suku banjar

  • Basa suluh

Basa suluh bertujuan untuk saling mengenal antar calon atau dalam tradisi Islam dikenal dengan istilah taaruf.

  • Badatang

Merupakan acara dimana calon pengantin pria dan keluarganya mendatangi keluarga dari calon pengantin wanita untuk menyampaikan maksud dan tujuannya yaitu untuk meminang calon pengantin wanita.

Acara ini biasanya dikenal dengan istilah lamaran.

  • Meantar Jujuran

Merupakan acara akad nikah sesuai dengan hukum agama yang berlaku dan dianut oleh calon pengantin.

  • Batimung

Merupakan acara mandi uap yang dilakukan oleh kedua pengantin suku Banjar biasanya dilakukan 3 hari sebelum upacara Meantar Jujuran dan resepsi, bertujuan untuk membersihkan dan menguras keringat calon pengantin.

  • Badudus

Merupakan acara mandi kembang bagi calon pengantin agar harum sebelum pernikahan, upacara ini hanya dilakukan oleh calon pengantin wanita.

Acara ini mirip dengan acara siraman pada adat Jawa.

  • BatapungTawar

Merupakan acara yang dilakukan bersamaan dengan upacara badudus, upacara ini dilakukan untuk penebusan atas berakhirnya masa perawan bagi seorang wanita. .

Dalam upacara ini disiapkan berbagai alat rumah tangga lalu dimasukkan keranjang lalu diserahkan kepada tetua adat.

  • Walimahan

Acara ini merupakan pesta pernikahan yang direncanakan untuk sanak saudara dan tetangga dari kedua calon, pada acara ini suasana kekeluargaan dan gotong royong sangat terasa.

  • Petataian

Yaitu acara menghias kursi dan hiasan pelaminan untuk pengantin ketika menyambut tamu.

  • Batataian

Merupakan puncak acara resepsi dimana pengantin duduk di petataian yang telah disiapkan.

2. Upacara Baayun Mulud (Baayun Anak)

upacara adat suku banjar

Pada upacara ini terjadi perpaduan antara tradisi suku Banjar kuno dengan tradisi kebudayaan Islam.

Kegiatannya yaitu mengayun anak bayi dengan diiringi shalawat kepada Nabi.

Upacara ini dilakukan secara massal pada bulan Maulid yang dipimpin oleh seorang tokoh ulama yang terkenal, biasanya upacara ini juga diramaikan dengan adanya rebana.

Berikut peralatan yang digunakan pada tradisi ini:

  • Ayunan

Ayunan atau biasa dikenal suku ini dengan baayun yang dihias dengan berbagai ornamen.

  • Piduduk

Merupakan bahan-bahan mentah seperti beras, gula, garam, dan minyak (khusus wanita).

  • Sesaji

Terdiri dari telur, nasi ketan, dan berbagai jenis kue tradisional seperti apem, cucur, pisang, dan lain sebagainya.

3. Tradisi Pasar terapung

upacara adat suku banjarq

Upacara ini merupakan upacara turun-temurun yang dilakukan oleh para pedagang suku Banjar.

Pada upacara ini kegiatan jual beli yang biasa dilakukan masyarakat di pasar, dipindahkan ke Sungai Barito yang besar.

Salah satu kepercayaan atau mitos yang dikenal oleh suku ini yaitu adanya Hantu api.

Kepercayaan ini berkaitan dengan seringnya terjadi kebakaran di lingkungan masyarakat.

Kepercayaan ini berkembang dari mulut ke mulut dan menjadi perbincangan hangat di masyarakat suku ini.

Ada beberapa masyarakat yang menyatakan dirinya telah melihat hantu api tersebut.

Kesaksian beberapa orang ini memperkuat kepercayaan masyarakat akan adanya sosok Hantu api yang menjadi penyebab kebakaran di lingkungan masyarakat Banjar.

Baca Juga : Suku Melayu

Kain Tradisional dan Pakaian Adat

pakaian adat suku bajar

Masyarakat suku Banjar sangatlah kreatif dan berbudaya terbukti dengan banyaknya hasil karya masyarakatnya, salah satunya yaitu kain tradisional.

Kain yang sering dikenal salah satunya yaitu sasirangan.

Sasirangan merupakan kain yang dibuat dengan proses yang alami dan menggunakan bahan-bahan dari alam.

Kain ini hanya digunakan pada saat upacara adat tertentu saja.

Manyirang yang berarti menjelujur merupakan asal dari kata sasirangan.

Maksudnya yaitu dalam proses pembuatannya kain akan dijelujur lalu diikat dengan tali dan dicelupkan pada pewarna alam yang telah disiapkan.

Pada awalnya sasirangan hanya digunakan untuk suatu penyembuhan penyakit dan harus dipesan secara khusus.

Namun pada akhirnya penggunaan tersebut berkembang hingga dikenal sebagai kain sakral suku Banjar.

Warna kain sasirangan mempunyai makna yang berbeda-beda untuk tiap warnanya.

Seperti warna kuning untuk penyembuhan penyakit kuning, sasirangan merah untuk penyakit insomnia dan sakit kepala, sasirangan hitam untuk penyakit kulit, gatal-gatal, demam, dan lain sebagainya.

Dalam kegiatan upacara-upacara adat suku ini juga tak lepas dari tradisi penggunaan pakaian adat, pakaian-pakaian tersebut kemudian menjadi simbol atau ciri khas dari suku ini.

Ada beberapa jenis pakaian adat yang dikenal dan kerap dipakai yaitu:

1. Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut

Pakaian ini adalah pakaian yang digunakan untuk pengantin suku Banjar pada pernikahannya, pakaian ini sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu pada masa lampau.

Mempelai wanita menggunakan kemban yang dikenal dengan udat dan ditambah dengan hiasan bungamelati yang dikenal dengan karang jagung.

2. Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari Busana

Pada pakaian ini, pengantin dibalut dengan baju yang gemerlap dan mewah layaknya sinar matahari. Pakaian ini dipengaruhi oleh adat Hindu dan Jawa.

Kesan mewah semakin bertambah dengan adanya berbagai aksesori dari benang emas dan ditambah roncean bogam penghias kepala.

Pengantin Babaju Kun Galung Pacinan

Pakaian ini merupakan paduan dari Timur Tengah dengan Cina.

Pakaian ini didominasi oleh warna-warni dan detail yang indah.

Pengantin pria menggunakan kopiah alpe, baju gamis, serta jubah layaknya orang-orang Timur Tengah.

Sementara pengantin wanita menggunakan kebaya cheong sam dengan rok pias dan sulaman khas cina.

Pangantin Babaju Kubaya Panjang

Pengantin wanita menggunakan baju poko, lengkap dengan selendangnya. Terkadang juga diganti dengan menggunakan kebaya menyesuaikan keinginan.

Baca Juga : Suku Nias

SenjataTradisional

senjata tradisional suku banjar

Senjata dulu digunakan oleh suku Banjar untuk alat bertahan hidup dari serangan makhluk buas dan sebagai alat untuk pertanian dan berburu. Ada beberapa jenis senjata tradisional suku ini, berikut ulasannya:

1. Sungga

Sungga yaitu senjata yang biasa digunakan masyarakat saat berperang. Biasanya senjata ini diletakkan di bawah jembatan yang berfungsi sebagai perangkap, ketika jembatan tersebut runtuh maka lawan akan terkena sungga tersebut.

2. Keris Banjar

Merupakan senjata yang terbuat dari besi ataupun campuran lainnya.

Keris Banjar memiliki bentuk yang mirip dengan keris-keris di daerah lain, perbedaannya terletak pada ukiran-ukirannya

3. Sarapang

Sarapang merupakan tombak yang memiliki 3 mata cabang, dikenal juga dengan sebutan trisula.

Alat ini biasanya digunakan untuk menangkap ikan atau hewan besar.

Alat ini terbuat dari bahan bambu, dan sebuah ujung tombak dari besi atau kuningan.

Parang

Merupakan bilah tipis dan pipih serta tajam, biasanya digunakan untuk senjata, alat pertanian, berburu dan lain sebagainya.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply