Suku Bugis Yang Mengalami Sejarah Panjang

Suku Bugis – Keberagaman bangsa di suatu negara bisa dilihat dari berbagai ras dan suku yang mendiami suatu daerah atau negara tersebut.

Perbedaan yang ada tidak untuk membuat batasan antara satu suku dengan suku yang lain, tetapi sebagai pemersatu bangsa.

Indonesia memiliki ragam suku mulai dari suku Aceh, suku Bugis, suku Sunda, suku Jawa, suku Dayak hingga suku Papua.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki ragam suku dari ujung barat hingga ujung timur.

Dalam satu pulau saja terdiri dari berbagai macam suku yang berbeda, misalnya di pulau Sulawesi tidak dihuni oleh suku Bugis.

Orang-orang Bugis ini juga tersebar di pulau Kalimatan. Apa keistimewaan dari suku ini? Mari simak penjelasan berikut!

Sejarah Suku Bugis

sejarah suku bugis

Sebelum mengenal lebih jauh tentang suku Bugis, Anda perlu mengetahui asal muasal suku Bugis yang saat ini tetap eksis.

Mengapa harus mengetahui terlebih dahulu tentang asal muasalnya? Hal ini dikarenakan masyarakat Bugis memiliki sejarah yang cukup panjang mulai dari perkembangan suku Melayu hingga masyarakat Bugis yang kita kenal saat ini.

Ada beberapa tahapan sejarah yang harus Anda ketahui, yaitu:

1. Permulaan

Orang-orang suku Bugis diawali dari masuknya suku Melayu Deutero ke bumi Nusantara ini.

Mereka melakukan migrasi dari daratan Asia atau lebih tepatnya Yunan.

Nama Bugis diambil dari kata To Ugi atau bermakna orang Bugis.

Nama tersebut dipilih berdasarkan pemimpin kerajaan Cina La Sattumpugi yang ada di wilayah Pammana, Wajo.

Raja La Sattumpugi memiliki ikatan saudara dengan Batara Lattu lewat penikahan anaknya bernama  We Cudai dan Sawerigading.

Dari pernikahan tersebut, lahirlah beberapa anak, salah satunya adalah La Galigo yang sampai sekarang karya sastranya dikenal masyarakat dunia.

Bagi masyarakat Bugis sendiri, kisah sawerigading sangat bermakna bagi kehidupan mereka.

2. Perkembangan Suku Bugis

Seiring berjalannya waktu, suku Bugis ini berkembang menjadi beberapa kerajaan.

Dari kerajaan yang muncul ini, lahirlah pula ragam bahasa, aksara dan budaya serta sistem pemerintahan.

Kerajaan Bugis klasik yang ada pada masa itu adalah Soppeng, Wajo, Luwu, Bone, Sawitto, Suppa, Rappang dan Sidenreng.

Akibat pecahnya suku Bugis kedalam beberapa kerajaan, proses pernikahan yang semula hanya antar kelompok sejenis menjadi antar kelompok dari suku yang berbeda.

Hal ini dibuktikan dengan pertalian darah antara orang-orang asli Bugis yang menikah dengan suku lain di  Mandar dan Makasar.

Proses pernikahan antar suku yang terjadi mengakibatkan masyarakat Bugis tersebar ke beberapa daerah mulai dari Soppeng, Luwu, Bone, Sidrap, Barru, dan Pinrang.

Persebaran orang Bugis dengan Mandar meliputi Pinrang dan Polmas, sedangkan persebaran orang Bugis dan Makasar meliputi wilayah Maros, Sinjai, Pangkajene, dan Bulukumba.

Baca Juga : Suku Di Indonesia

3. Masa Kerajaan Suku Bugis

Eksistensi Suku Bugis terlihat dari kerajaan Luwu yang merupakan kerajaan paling tua di wilayah Sulawesi Selatan.

Kerajaan ini menjadi asal berdirinya kerajaan lain yang ada di masyarakat Bugis.

Pada masa kerajaan ini, sistem mata pencaharian mereka adalah berdagang.

Hal ini dipengaruhi oleh Cina sebagai pendiri kerajaan. Berikut beberapa kerajaan setelah Luwu lengser:

  • Kerajaan Bone

Hilangnya eksistensi kerajaan Luwu memunculkan kerajaan lain bernama Bone.

Sebelumnya, wilayah ini mengalami keributan cukup lama hingga akhirnya muncul To Manurung.

To Manurung mampu pendamaikan suasana sehingga diangkat menjadi raja dan diberi nama Arumpone

Setelah raja To Manurung wafat, kekuasaan kerajaan Bone diambil alih oleh putranya bernama La Ummasa’ Petta Panre Bessie.

Dari hari ke hari eksistensi kerajaan ini semakin kuat dengan ditandainya wilayah kekuasaan yang lebih luas yakni mencakup barat, utara dan selatan.

  • Kerajaan Gowa / Makasar

Selain kerajaan Bone, muncul juga kerajaan lain bernama Gowa atau Makasar.

Kerajaan ini ada diawal abad 12 hingga 14.

Kerajaan Gowa sempat mengalami goyah karena krisi sosial yang terjadi di tengah masyarakat sehingga sangraja mendirikan kerajaan pendamping bernama kerajaan Tallo.

Akan tetapi, pada akhirnya kedua kerajaan menjadi satu dan diberi nama kerajaan Makasar.

  • Kerajaan Soppeng

Kerajaan Soppeng berdiri karena adanya kekacauan berkepanjangan di wilayah Sulawesi.

Sebelum bernama kerajaan Soppeng, kerajaan ini merupakan gabungan dari 2 kerajaan bernama kerajaan Ri Aja yang dipmpin oleh Manurunge ri Goarie dan kerajaan ri Lau yang dipimpin oleh La Temmamala Manurunge ri Sekkanyili

  • Kerajaan Wajo

Kerajaan lain yang berdiri sebagai napak tilas suku Bugis adalah kerajaan Wajo.

Kerajaan ini merupakan gabungan dari komune berbagai arah di wilayah Lampulengeng.

Masyarakat sekitar mempercayai dunia supranatural sebagai sistem kepercayaan mereka.

4. Masa Konflik Kerajaan

Adanya kerajaan yang muncul setelah kerajaan Luwu lengser membuat masing-masing kerajaan mengklaim batas wilayah mereka sendiri.

Hal ini menjadi titik awal konflik antar kerajaan Gowa, Bone, Soppeng dan Wajo.

Keempat kerajaan ini saling berebut hingga akhirnya dibuatkan aliansi Tellumpoccoe.

5. Masuknya Budaya Islam

Setelah sebelumnya masyarakat suku Bugis menganut sistem kepercayaan supranatural, akhirnya di abad 17 awal masuklah agama Islam yang dibawa oleh ulama dari Minangkabau.

Penyiar agama Islam ini mendapatkan mandate dari Sultan Iskandar Muda. Penyiar agar yang bertugas adalah Suleiman/ Datuk Patimang, Nurdin Ariyani/ Datuk ri Tiro dan Abdul Makmur/ datuk ri Bandang.

6. Kolonial Belanda Berseteru dengan Suku Bugis

Penyebaran agama Islam diawal abad 17 bersamaan pula dengan konflik antara colonial Belanda atau VOC dengan masyarakat Gowa.

Perseturuan dan peperangan pun tidak dapat terhindarkan sehingga munculkan perjanjian Bongaya akibat kalahnya masyarakat Gowa.

Setelah peperagan besar yang terjadi, kerajaan suku Bugis mengalami kekosongan pemimpin, sehingga pihak Belanda mengangkat pemimpin hanya untuk menjalankan pemerintahan kolonial Belanda yang saat itu masih menguasai Indonesia.

Baca Juga : Suku Sunda

7. Kemerdekaan Indonesia

Tiba pada akhirnya Indonesia meraih kemerdekaan di tanggal 17 Agustus 1945 setelah mampu mengusir penjajah Jepang dari Indonesia.

Pemerintahan yang baru segera dibuat oleh presiden Soekarno dengan meminta para raja-raja di seluruh Nusantara mau meleburkan kerajaannya menjadi satu kesatuan negara yang disebut NKRI.

Bahasa Sehari-hari Suku Bugis

suku bugis

Bahasa yang digunakan oleh suku Bugis dalanm berkomunikasi sehari-hari adalah bahasa Bugis.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, banyak generasi muda yang memilih bahasa Indonesia atau melayu sebagai bahasa keseharian mereka.

Meskipun sudah jarang digunakan, tetapi masih ada beberapa daerah yang tetap menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa keseharian.

Mata Pencaharian Suku Bugis

mata pencaharian suku bugis

Jika dilihat dari sejarah panjang suku Bugis,awal mula mata pencaharian mereka adalah sebagai pedagang karena dibawa oleh misionaris dari China.

Namun saat ini sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan petani karena lokasinya berada di daerah pesisir dan dataran rendah nan subur.

Selain itu ada beberapa mata pencahariaan lain yang harus Anda ketahui, diantaranya yakni:

1. Perompak

Perjanjian Bongaya di masa colonial Belanda membuat suku Bugis dianggap sebagai sekutu bebas.

Hal ini berarti masyarakat Bugis bisa dalam melakukan hal apa saja karena mendapatkan kebebasan bergerak oleh pemerintah Belanda.

Akibat dari perjanjian ini, masyarakat Bugis menyalahgunakannya untuk menjadi seorang perompak.

Para perompak dari Bugis ini menjarah dan mengganggu jalur perdagangan Indonesia bagian Timur.

Mereka menguasai jalur perdagangan di Samarinda, Johor dan Benteng Malaka.

Tujuan mereka adalah menjarah harta sultan Kalimantan dan Sultan Johor.

2. Serdadu Upah

Mata pencaharian lain orang-orang Bugis di masa penjajahan adalah sebagai serdadu penerima upah.

Pekerjaan ini sudah dikenal masyarakat karena dulunya para orang-orang Bugis adalah serdadu paling setia dari penjajah Belanda.

Mereka banyak melakukan serangan kepada suku lain yang menentang Belanda.

Sistem Kepercayan Suku Bugis

kepercayaan suku bugis

Sistem kepercayaan yang dianut suku Bugis dimulai dari tidak adanya kepercayaan.

Kemudian kedatangan bangsa Cina membuat, masyarakat Bugis percaya dengan dunia supranatural.

Ketika Belanda mulai menjajah Indonesia, masyarakat Bugis masih mempercayai dunia supranatural tersebut tetapi juga ada yang ikut dengan kepercayaan orang-orang Belanda.

Pada abad 17 awal, mulailah agama Islam masuk ke masyarakat Bugis melalui penyiar agama yang ditugaskan oleh Sultan Aceh. Ada 3 penyiar yang ditugaskan. Masing-masing dari mereka memiliki daerah persebaran yang berbeda.

Persebaran Suku Bugis

pesebaran suku bugis

Suku Bugis dikenal sebagai orang yang piawai dalam migrasi dan merantau.

Mereka terbiasa mengarungi samudara hingga ke negeri tetangga seperti Thailand, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Madagaskar serta Afrika Selatan.

Beberapa orang Bugis yang sudah menetap di Afrika Selatan atau tepatnya di Cape Town membuat sebuah suburb bernama Maccasar. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan kepada nenek moyang.

Dari cerita yang sudah ada, maka tidak heran jika suku ini juga menyebar ke pulau lain di Indonesia.

Catatan sejarah ditemukan dalam mushaf Quran kuno yang menyebutkan bahwa suku Bugis menyebar ke wilayah Riau, Bali, Sumbawa, Bima, dan pulau Sumatera serta Kalimantan.

Mengapa mereka suka merantau? Dan dimana sajakah persebaran suku ini?

1. Alasan Merantau

Konflik berkepanjangan yang terjadi antara orang Bugis dan Makasar menjadi salah satu alasan yang membuat masyarakatnya lebih memilih merantau dan mencari kehidupan yang lebih nyaman.

Selain konflik antar suku, pertikaian antar sesama kerajaan juga menjadi alasan kuat untuk mereka meninggalkan tanah kelahiran.

Kebebasan hidup, kemerdekaan dan kebahagiaan adalah salah satu cita-cita yang ingin mereka wujudkan.

Suku Bugis Di KalimanatanTimur

Perjanjian Bongaya yang dianggap memberatkan oleh beberapa suku asli Bugis membuat mereka hengkang dari tanah kelahirannya.

Orang Bugis dari kerajaan Gowa dan Wajo memilih untuk bermigrasi ke pulau Kalimantan tepatnya di kerajaan Kutai, Kalimantan Timur.

Proses migrasi ini dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkong dan disambut baik Sultan Kutai.

Sang pemimpin orang-orang Bugis dapat meyakinkan Sultan Kutai sehingga sang Sultan memberikan tempat di wilayah Melantai.

Balasan untuk kerajaan Kutai sendiri adalah orang-orang Bugis harus ikut dalam menghadapi musuh dari Belanda yang akan mengancam keberadaan kerajaaan.

Suku Bugis di Jambi

Pulau Kaimantan bukan menjadi satu-satunya tujuan  untuk merantau.

Mereka juga memilih Jambi sebagai tempat perantauan.

Wilayah Jambi yang dihuni oleh orang Bugis meliputi  Tanjung Jabung Timur dan Barat, Tanjung Solok, Alang-Alang, Lambur, Kampung Laut, Simbur Naik, Tangkit baru dan wilayah lainnya.

Informasi seputar suku asli Bugis diatas merupakan sebagian kecil dari informasi yang ada.

Masih ada informasi penting lainnya yang membahas lebih detail mengenai  masyarakat Bugis.

Anda juga bisa melakukan penelitian mendalam tentang sistem bahasa hingga kebudayaan yang ada pada masyarakat Bugis.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply