Mengenal Lebih Dekat Suku Gayo

Suku Gayo merupakan salah satu dari banyaknya suku yang terdapat di Indonesia.

Mayoritas suku ini terletak di dataran tinggi provinsi Aceh bagian tengah. Selain itu, Suku asli Gayo ini juga mendiami bagian lain daerah Aceh yaitu Aceh Tenggara, Aceh Tamiang dan Aceh timur.

Sedangkan wilayah tradisional  dari suku ini meliputi Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tengah.

Suku ini menganut agama Islam sebagai kepercayaan mereka dan dikenal taat dalam menjalankan ajaran agamanya.

Jadi tidaklah heran jika dalam menjalankan adat istiadat dan ajaran dibangku sekolah berlandaskan ajaran agama islam.

Apa saja keistimewaan dari suku Gayo ini? Mari simak penjelasan lengkapnya sebagai berikut!

Sejarah Asal Muasal Suku Gayo

sejarah suku gayo

Adanya suku Gayo diawali dengan berdirinya kerajaan Linge.

Kerajaan Linge berdiri sejak abad 11 dengan pemimpin atau raja bernama Sultan Makhdum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kesultanan Perlak.

Hal ini diketahui dari keterangan yang diberikan Raja Uyem dan Raja Cik Bebesan yang merupakan anaknya Raja Ranta dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejuruan Bukit yang pernah berkuasa di era colonial Belanda.

Raja Johan memiliki keturunan sebanyak 4 orang anak. Anak pertamanya merupakan wanita tangguh bernama Datu Beru/Empu Beru atau Datu Beru.

Anak keduanya adalah seorang lelaki bernama Sebayak Lingga (Ali Syah). Yang ketiga bernama Meurah Johan (Johan Syah) dan yang terakhir bernama Meurah Lingga (Malam syah).

Sebayak Lingga (Ali Syah) kemudian pergi merantau untuk membuka negeri sendiri diatas tanah Karo dan dia dikenal dengan Raja Lingga Sebayak.

Sedangkan sang adik ketiga yakni Meurah Johan (Johan Syah) memutuskan untuk merantau ke Aceh Besar untuk mendirikan kerajaan bernama Lam Krak atau Lam Oeii, kerajaan ini juga dikenal bernama degan Lamuri atau Kesultanan Lamuri.

Anak terakhir dari Raja Johan yakni Meurah Lingga lebih memilih untuk tetap tinggal di Linge, kekuasaan kerajaan Linge akhirnya diturunkan kepada anak-anak raja Johan.

Pergantian kekuasaan secara turun temurun ini dilakukan hingga cucu dan cicit raja Johan.

Namun ada beberapa keturunan yang lebih memilih untuk menjadi rakyat biasa dan melebur dengan masyarakat sekitar.

Baca Juga : Suku Di Indonesia

Bahasa Sehari-hari Suku Gayo

bahasa suku gayo

Dalam kehidupan sehari-hari suku ini menggunakan Bahasa Gayo sebagai bahasa asli mereka.

Bahasa masyarakat Gayo saling terkait dengan bahasa Batak Karo di Sumatera Utara.

Kaitannya juga pada yang kelompok bahasa “Northwest Sumatera Barrier Island” dari rumpun bahasa Austronesia.

Bahasa Gayo memiliki variasi dialek yang berbeda dalam prakteknya yang dipengaruhi oleh bahasa luar Gayo.

Suku Gayo yang ada di kawasan Lokop memiliki bahasa yang sedikit berbeda dengan wilayah di Gayo Kalul, Gayo Lues, Gayo Linge, dan Gayo Lut.

Hal tersebut dikarenakan pengaruh besar dari bahasa Aceh Timur yang dibawa oleh para perantau.

Sama halnya dengan wilayah di Aceh Tamiang yang biasanya menggunakan bahasa gayo kalul, tetapi mereka terpengaruh dengan bahasa Melayu.

Hal ini disebabkan karena lokasinya berada lebih dekat dengan Sumatera Utara.

Sedangkan Gayo Lues yang terpengaruh oleh bahasa Alas dan bahasa Karo.

Pengaruh itu dikarenakan seringnya Suku Gayo berinteraksi dengan kedua suku tersebut, terlebih lagi pada komunitas Gayo yang terdapat di Kabupaten Aceh Tenggara.

Dalam bahasa Gayo, untuk memanggil seseorang memiliki tingkatan tertentu.

Antara yang lebih tua atau yang lebih muda biasa menggunakan panggilan yang berbeda.

Perbedaan tersebut dimaksudkan sebagai bentuk tata karma, sopan santun dan rasa hormat.

Dialek Gayo Lut merupakan bahasa Gayo yang paling halus dalam tataran penuturannya.

Pemakaian kata KO dan KAM yang digunakan sebagai tingkatan untuk memanggil seseorang mempunyai makna anda (kamu).

Panggilan KAM lebih sopan dibandingkan dengan KO yang  biasa digunakan dari yang muda untuk memanggil orang yang yang lebih tua.

Sedangkan panggilan KO biasa digunakan dari orang tua untuk memanggil yang lebih muda.

Kesenian Khas Suku Gayo

kesenian khas suku gayo

Sebagai sebuah suku, masyarakat gayo tentu memiliki seni dan budaya tradisional yang mereka pertahankan hingga sekarang diantaranya adalah Tari Saman dan Didong (seni bertutur).

Tidak hanya itu, banyak tarian lain yang juga menjadi warisan seni dari Gayo seperti tari Guel, tari bines, Tari Munalu, dan sebagainya.

Ragam seni dan budaya yang dimiliki suku Gayo tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga melingkupi sisi ritual, pendidikan, sekaligus sarana dalam mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial di masyarakat.

Masyarakat Gayo mempunyai dan menjaga nilai budaya yang berkembang sebagai pedoman tingkah laku dalam mewujudkan ketertiban, kedisiplinan, kesetiakawanan, gotong royong dan rajin (mutentu).

Nilai-nilai kebudayaan yang diamalkan oleh suku Gayo merupakan wujud dari nilai-nilai masyarakat yang perlu dijaga kelestariannya Nilai tersebut diwujudkan dalam berbagai macam aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi, kekerabatan, kesenian dan pendidikan yang bersumber dari agama islam dan adat istiadat yang dianut orang Gayo.

Baca Juga : Suku Betawi

Makanan khas

Sebagai sebuah etnis suku bangsa, Suku Gayo memiiliki beberapa makanan tradisional.

Seperti halnya makanan lain, makanan khas dari Gayo pun mempunyai ciri dan cita rasa tersendiri.

Beberapa makanan tersebut antara lain

1. Cecah

makanan khas gayo

Cecah adalah makanan khas suku Gayo yang berupa rujak. Makanan ini tergolong dalam makanan ringan.

Sambal dari cecah ini sangat khas dan berbeda dengan rujak yang ada di pulau Jawa. isian rujak terdiri dari jambu kluthuk, bajik dan pisang muda.

2. Gegaluh

makanan khas gayo

Gegaluh merupakan makanan khas masyarakat Gayo di masa lampau khususnya dijadikan sebagai makanan ringan atau camilan untuk menemani saat bersantai.

Makanan ini terbuat dari biji padi yang hampir matang.

Pengolahannya cukup mudah dan simple.

Biasanya para petani sudah menyiapkan makanan ini dikala menjelang panen.

3. Gutel

makanan khas gayo

Makanan khas Gayo ini terbuat dari tepung beras, air, gula dan garam serta kelapa.

Makanan ini biasanya disajikan saat pesta masyarakat.

Perpaduan rasa manis dan gurih membuat siapa saja yang memakannya akan ketagihan.

Bentuk gutel dibuat lonjong dan ukurannya seperti telur ayam.

Baca Juga : Suku Sunda

4. Lepat

makanan khas gayo

Salah satu kudapan masyarakat Gayo dan sekitarnya dalah lepat.

Makanan ini terbuat dari beras ketan yang dicampurkan dengan bahan lain seperti santan dan kacang.

Lepat dibungkus dengan janur agar memiliki cita rasa yang lebih nikmat,.

5. Masam Jaeng

makanan khas gayo

Tidak hanya memiliki makanan khas berupa kudapan saja, masyarakat Gayo juga memiliki makanan khas berupa masakan berat yakni olahan ikan mujair.

Bahan yang diperlukan hanya ikan mujair, bawang merah, bawah putih, gegarang, empan, kunyit, dan cabe merah. Cara masaknya juga sangat mudah dan bisa Anda coba sendiri dirumah.

6. Pulut bekuah

makanan khas gayo

Makanan yang satu ini terbuat dari beras ketan yang disajikan dengan kuah manis atau asin dan bisa juga dimakan dengan serundeng.

Cara pembuatannya yakni mengukus beras ketan hingga matang kemudian tinggal menyiramnya dengan kuah atau serundeng.

7. Pengat

makanan khas gayo

Pengat merupakan olahan makanan dari ikan yang disajikan dengan campuran kecombranf.

Makanan khas Gayo ini menjadi makanan favorit masyarakat setempat.

Ikan yang biasa digunakan untuk pengat adalah ikan mujair karena memiliki rasa yang gurih.

Bahan-bahan yang harus Anda siapkan yakni 600 gr ikan mujair atau nila, kecombrang 2 buah, daun jeruk 2 helai, jeruk nipis, garam dan gula sesuai selera, empan atau andaliman, air secukupnya.

Ikan yang digunakan bisa Anda pilih sesuai selera.

Kehidupan sosial

suku gayo

Masyarakat Suku Gayo hidup dalam kumpulan komunitas kecil (kampong) yang dipimpin oleh seorang gecik.

Kemudian beberapa kampong dipimpin juga oleh seorang mukim.

Kumpuan kampong ini disebut dengan kemukiman.

Sistem pemerintahan yang dijalankan suku Gayo dinamai sarak opat atau dipimpin oleh seorang raja.

Dalam setiap kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok masyarakat yang masih kadangkala masih bersaudara.

Masyarakat yang tinggal 1 kampong harus mengenal satu smaa lain.

Kumpulan dari beberapa kemukiman saat ini disebut dengan kecamatan.

Struktur kepemimpinan kecamatan ini mulai dari gecik, wakil gecik dan cerdik pandai atau rakyat biasa.

Garis keturunan yang dianut oleh suku Gayo adalah patrilineal yakni berasal dari garis keturunan ayah.

Jadi ketika Anda merupakan keturunan orang Gayo, maka silsilahnya berada pada garis ayah.

Sedangkan pada sistem perkawinan yang dianut suku ini adalah eksogami belah yakni dilakukan berdasarkan tradisi suku yang berlaku.

Sistem perkawinan eksogami belah merupakan tradisi bahwa setelah pasangan laki-laki dan perempuan resmi menikah, mereka menetap di sebuah tempat tinggal dengan pilihan patrilokal atau matrilokal.

Keduanya disesuaikan dengan adat yang dianut oleh sebuah keluarga.

Sistem kekerabatan bagi suku Gayo sangatlah pribadi dan intim. Maksudnya yakni mereka mengenal kelompok kerabat inti atau sara ine sebagai keluarga inti dan kumpulan dari sara ine yang disebut sara dapur.

Jika dalam satu rumah dihuni oleh sara dapur, maka rumah yang digunakan juga berukuran besar dan luas.

Namun, saat ini sistem tinggal bersama dalam satu atap antara beberapa sara dapur sudah mulai ditinggalkan oleh suku Gayo.

Mereka lebih memilih membangun rumah sendiri  dengan ukuran yang lebih kecil untuk keluarga inti saja.

Mata pencaharian yang dilakukan oleh nenek moyang suku Gayo adalah bertani dan berkebun.

Hampir setiap keluarga pasti memiliki sawah yang cukup luas dan ladang yang subur.

Selain itu di masa lampau, para leluhur orang Gayo juga berprofesi sebagai penangkap ikan, meramu jamu, tenun kain, menganyam hingga membuat keramik.

Sungguh sangat beragam bukan?

Namun saat ini, mata pencaharian masyarakat Gayo lebih banyak adalah berkebun, dengan hasil kebun yang utama adalah tanaman Kopi Gayo yang khas dengan cita rasanya.

Ada sumber yang menyatakan bahwa kerajinan keramik dan anyaman yang dibuat oleh suku Gayo semakin punah karena tidak adanya generasi muda yang meneruskannya juga merosotnya minat pembeli.

Tetapi, dengan dijadikannya daerah Gayo sebagai salah satu tujuan wisata di Aceh oleh pemerintah, kerajinan membuat keramik dan anyaman mulai dikembangkan kembali.

Ada juga pengembangan kerajinan lain yang turut diperhatikan oleh pemerintah adalah seni sulaman kerawang dengan motif khas masyarakat Gayo.

Informasi mengenai suku Gayo yang dijelaskan diatas mulai dari asal muasal, bahasa yang digunakan, kesenian yang ada hingga sistem sosialnya diharapkan mampu memberikan gambaran kepada Anda tentang keistimewaan suku asli Gayo.

Anda juga masih bisa mencari referensi lain melalui internet atau jurnal penelitian.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply