Suku Madura, Sejarah Hingga Pakaian Adat Masyarakatnya

Suku Madura – Provinsi Jawa Timur memiliki satu pulau yang dinamakan Pulau Madura, disana tinggal suku Madura yang sudah menetap sejak ratusan tahun lalu.

Banyak hal menarik seputar sejarah, tradisi, sampai karakter dari masyarakatnya yang sangat berbeda dari suku lain yang ada di nusantara. Kalau Anda penasaran, simak saja informasi lengkapnya di bawah ini.

Sejarah

sejarah suku madura

Perjalanan leluhur dari suku ini dimulai sejak menyebarnya masyarakat Asia Tenggara di zaman purba sekitar 4000 tahun sebelum masehi.

Hal ini dipicu membengkaknya populasi masyarakat China pada dinasti masa itu, yang menyebabkan banyak warga yang melakukan migrasi dan mencari tempat hidup lain yang lebih layak.

Karena persamaan fisik, kebiasaan dan cara hidup, akhirnya sekelompok manusia tinggal bersama di sebuah pulau di Jawa Timur.

Walaupun menetap di pulau Jawa namun suku Madura punya budaya sendiri yang berbeda dari adat Jawa, bisa dilihat dari bahasa yang dipakai, pakaian, sampai karakter dari masyarakatnya.

Hingga saat ini jumlah warga dari suku ini sudah mencapai sekitar 7 juta jiwa yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai mancanegara.

Alasannya karena mereka memiliki kebiasaan merantau dan mencoba hal-hal baru, jadi bukan hal yang aneh jika Anda punya tetangga orang Madura, atau bahkan penjual berbagai makanan khas Jawa di daerah Anda berasal dari Madura.

Baca Juga : Suku Mante

Budaya

budaya suku madura

Karena keunikannya baik dari segi bahasa, keyakinan, kekerabatan siapa saja akan mudah mengenali warga yang asalnya dari suku Madura.

Walaupun begitu warga ini terkenal dengan budaya yang sangat kental dan selalu dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.

  • Bahasa

Madura memiliki bahasa dengan tiga tingkatan, sama halnya dengan bahasa Jawa atau Sunda.

Ada tingkatan paling halus yang biasa digunakan untuk berkomunikasi dengan petinggi atau orang-orang terhormat, ada bahasa menengah yang bisa dipakai untuk berbicara dalam forum resmi atau tidak resmi, dan ada bahasa kasar yang dipakai untuk komunikasi sehari-hari.

  • Keyakinan

Soal keyakinan masyarakat suku Madura mayoritas beragama Islam, wajar saja ketika banyak kiyai dan pemuka adatnya yang berasal dari pondok pesantren dan menjadi penyebar agama Islam di Indonesia.

Selain itu mereka juga memiliki budaya menghormati empat sosok penting dalam hidup yaitu Buppa atau ayah, Babu atau ibu, Guruh atau guru dan Ban Ratoh yaitu pemimpin dari sistem pemerintahan.

  • Kekerabatan

Warga asli Madura ini memiliki sistem kekerabatan patrilineal atau mengikuti garis keturunan pihak laki-laki, makanya gelar pusaka akan jatuh ke tangan laki-laki jika saatnya tiba.

Dalam kehidupan bermasyarakat ada yang namanya Tanean Lanjeng yaitu kampung yang berisikan masyarakat asli Madura dari empat generasi yang jumlah keluarhanya berkisar 20.

Adalagi yang namanya Pemengkang yaitu kampung yang isinya tiga generasi masyarakat dengan jumlah rumah maksimal lima buah.

Kampung Meji adalah territorial masyarakat Madura yang tinggal terpencil dan berisikan maksimal 20 kepala keluarga. Lalu ada yang namanya Koren yaitu daerah yang berisikan 10 keluarga dengan garis keturunan yang sama.

Tradisi

Sama halnya dengan suku lain di Indonesia, suku Madura juga memiliki banyak tradisi yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya.

Bahkan beberapa menjadi ikon Madura membuat wisatawan selalu kepincut untuk datang ke daerah tersebut sesering mungkin.

Mau tahu apa saja tradisi tersebut?

1. Nadar

tradisi suku madura

Tradisi ini dilakukan untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggal, dalam setahun akan dilakukan sebanyak tiga kali dan semuanya selalu dimulai pada pukul 16.00 WIB.

Warga yang akan melakukan ritual ini akan datang ke makam bersama-sama, mereka membawa sesajen, kelengkapan upacara penghormatan, dan bunga yang akan ditabur di seluruh area makam.

Pada malam harinya warga suku Madura akan tidur di kawasan makam atau rumah warga di sekitar makam, barulah besoknya mereka akan melakukan acara masak bersama untuk dibagikan pada upacara selamatan.

Jika bersisa biasanya makanan akan diberikan kepada warga kurang mampu dan warga yang tak hadir pada upacara tersebut.

2. Karapan Sapi

tradisi suku madura

Dahulunya tradisi ini dilakukan untuk memilih sapi yang akan digunakan untuk membajak sawah, hal ini dilakukan setelah Syeh Ahmad Baidawi yang merupakan ulama dari Sumenep memperkenalkan cara bertanam dengan bambu yang dikenal dengan nama Nanggala.

Untuk memilih sapi maka dilakukanlah pacuan sapi yang masih dilestarikan sampai sekarang.

Tradisi ini dimulai dengan mempersiapkan dua sapi yang dihubungkan dengan kayu khusus dan di antara sapi terdapat tempat joki yang akan mengarahkan sapi ke garis finish.

Dalam perlombaan ini ada empat tahapan, yaitu pertarungan awal, kemudian pertarungan sapi-sapi menang, lalu pertarungan sapi kalah dan final.

3. Petik Laut

tradisi suku madura

Merupakan tradisi suku Madura yang bertujuan mengungkapkan rasa terima kasih dan syukur kepada tuhan atas nikmat dan rezeki yang diberikan.

Dalam acara ini sesaji berupa ketan, ikan, tumpeng dan hasil alam lainnya akan dihanyutkan ke laut setelah acara tahlilan bersama dilakukan.

Warga akan menggunapan perahu untuk menghanyutkan sesaji tersebut.

Baca Juga : Suku Dani

4. Ojung

tradisi suku madura

Pada musim kemarau ada tradisi meminta hujan yang dilakukan oleh warga Madura dinamakan Ojung.

Tradisi ini lebih mirip sebuah permainan dimana dua orang pria akan saling pukul menggunakan rotan dengan panjang satu meter.

Selain mohon hujan, ritual ini juga dilakukan untuk menjauhkan marabahaya dari masyakarat.

Selama permainan berlangsung alunan musik dari dung-dung, yang terbuat dari akar pohon jenis Siwalan dengan lubang di tengahnya akan membahana.

Bunyinya mirip dengan alat music kerca dan bas dan dimainkan oleh tiga orang warga suku Madura yang memang sudah mahir memainkan dung-dung.

5. Toktok

tradisi suku madura

Merupakan adu sapi yang dilakukan oleh warga Madura dengan tujuan mempererat silaturahmi. Acara ini dipimpin oleh seseorang yang sudah mahir mengendalikan sapi yang berseteru.

Adu sapi akan berhenti jika salah satu sapi sudah menyerah dan terkapar atau lari dari arena pertandingan.

Selain untuk silaturahmi sesama warga suku Madura tradisi ini juga jadi ajang memperlihatkan sapi-sapi berkualitas oleh para peternak atau pemilik sapi.

Tak jarang akan terjadi transaksi jual beli sapi setelah acara selesai jika ada pihak yang berminat membeli sapi yang diadu sebelumnya

Rumah Adat

rumah adat suku madura

Sebagai salah satu suku terbesar di Jawa Timur Madura memiliki pengaruh besar dalam budaya di daerah tersebut. salah satunya adalah dalam arsitektur bangunan adat yang biasa dikenal dengan nama Tanean Lanjhang yang artinya halaman panjang.

Rumah ini dibuat memanjang sesuai arah matahari terbit dan tenggelam, dengan beberapa karakteristik uniknya.

Pertama yaitu dibangun di dekat lahan yang digarap oleh warga suku Madura atau sumber air seperti sungai dan dibatasi dengan pagar yang terbuat dari tumbuhan hidup untuk memisahkannya dari tanah garapan warga.

Kedua, dalam satu kompleks Tanean Lanjhang terdapat maksimal 10 rumah yang menjadi tempat tinggal satu keluarga yang memiliki kekerabatan dekat.

Ketiga, susunan rumah di mulai dari Barat dan dihuni oleh generasi tertua dari keluarga tersebut seperti pasangan kakek dan nenek, saudara lebih tua dari pihak ibu ataupun ayah, kemudian dilanjutkan dengan generasi selanjutnya hingga bagian timur ujung yang meruakan generasi paling muda.

Keempat, rumah komplek ini juga dilengkapi masjid dan kandang untuk ternak yang dipelihara oleh anggota keluarga.

Kelima, bangunan komplek Tanean Lanjhang milik suku Madura didominasi bentuk persegi panjang, mulai dari langgar dengan ukuran 23,1 meter, lalu halaman yang panjangnya bisa mencapai 90 meter dari arah barat menuju timur, Kandang juga memiliki bentuk persegi panjang dengan ukuran berkisar 6,6 meter x 5,9 meter. Rumah hunian juga dibuat memanjang dengan ukuran 6,6 meter x 11 meter.

Baca Juga : Suku Dayak

Pakaian Adat

pakaian adat suku madura

Dalam berpakaian masyarakat Madura asli juga memiliki pakaian khusus dan sudah diwariskan secara turun temurun.

Pakaian ini juga memiliki filosofi yang sangat bermakna dan mencerminkan karakter  dari masyarakat Madura itu sendiri.

  • Pakaian Pria

Nama pakaian adat pria suku Madura adalah Pesa’an yang berupa baju berwarna hitam yang dibuat longgar, dipadu dengan pakaian di bagian dalamnya berjenis kaos dengan motif belang merah hitam atau merah putih yang melambangkan keberanian dan tegas.

Pelengkapnya adalah celana yang disebut gomboran yang menutupi hingga betis atau mata kaki seorang pria.

Pada bagian kepala akan dipakai ikat kepala yang disebut Odheng. Filosofinya terletak pada puncak yang tegak atau tidak, jika puncak tegak berari orang tersebut memiliki derajat tinggi di tengah masyarakat.

Jika terkulai ke bawah berarti merupakan masyarakat biasa.

  • Pakaian Wanita

Untuk wanita suku Madura pakaian adatnya berupa kebaya jenis Kutu Baru atau Rancongan yang transparan, di dalamnya wanita memakai bra dengan warna kontras dan pas di badan.

Filosofinya adalah wanita Madura sangat menghargai kecantikan dan keindahan tubuh mereka. Konon katanya sejak muda wanita asli suku ini sudah mulai menjaga tubuh dengan minum jamu.

Bawahan dari kebaya tersebut biasanya dipakai sarung batik dengan berbagai motif, yang dilengkapi dengan stagen atau Odhet agar pinggang terlihat ramping dengan panjang 1,5 meter dan lebar 15 sentimeter.

Cara menggunakannya adalah dengan dililitkan pada bagian perut dan kemudian diikat hingga benar-benar kuat.

  • Aksesoris

Pada pakaian pria biasanya dilengkapi dengan beberapa aksesoris seperti Samper Kembeng atau kain panjang, Sap-osap atau sapu tangan, Selo’ atau sisir, Geleng Akar atau gelang yang terbuat dari akar, jam rantai, tongkat dan Rasughan Totop atau jas berwarna polos.

Aksesoris ini biasanya dipakai oleh kalangan bangsawan atau petinggi adat Madura di acara-acara tertentu.

Aksesoris pakaian wanita suku Madura cukup banyak, mulai dari cucuk dinar atau sisir yang ditusukkan pada bagian rambut yang sudah disanggul.

Lalu ada tutup kepala dari kain tebal yang disebut Leng Oleng, Shentar Penthol atau anting emas untuk bagian teliga, kalung emas dengan mata sebesar biji jagung dan liontin biasanya berbentuk bunga matahari atau uang logam.

Tak hanya itu, wanita Madura juga biasanya menggunakan gelang atau cincin berbahan emas dengan motif potongan tebu, pada kaki juga diberi aksesoris berupa gelang dari emas atau pun perak. Untuk alas kaki biasanya dipakai sandal tertutup.

Baca Juga : Suku Jawa

Masih banyak keunikan suku Madura yang akan membuat banyak orang berdecak kagum, informasi di atas hanya sebagian kecil namun sudah mampu menambah wawasan siapa saja tentang bagaimana hebatnya suku yang terkenal dengan karakter masyarakat yang sangat terbuka dan pemberani ini.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply