Ajaran Suku Samin Yang Fenomenal

Suku Samin – Ragam budaya yang dimiliki oleh Indonesia sangatlah beranekaragam mulai dari perbedaan suku, ras, bahasa hingga agama.

Indonesia sendiri merupakan negara kesatuan yang terdiri dari kumpulan pulau dan suku yang berbeda.

Salah satu suku unik yang dimiliki bangsa Indonesia adalah suku Samin.

Suku ini dikenal masyarakat luas khususnya karena ajaran samin yang dibawa oleh Samin Surosentiko.

Suku Samin atau masyarakat Samin ini ada karena rasa ingin bebas dari penjajahan kolonial Belanda.

Sang pembawa ajaran bernama Samin tersebut menyebarkan ajarannya kepada warga sekitar hingga banyak yang mengikutinya.

Berawal dari sebuah komunitas, pada akhirnya mereka menyebut kelompok komunitas tersebut sebagai masyarakat Samin atau Suku asli Samin.

Agar informasinya lebih jelas, mari simak penjelasan berikut!

Lokasi Secara Geografis Suku Samin

lokasi suku samin

Suku Samin berada di kawasan Jawa Tengah atau lebih tepatnya di kabupaten Blora.

Kabupaten ini berada diantara 2 pegunungan yakni pegunungan Kendeng Selatan dan pegunungan Kapur Utara.

Secara administrasi, Blora terbagi atas 295 desa dengan luas kurang lebih 270 hektar.

Secara astronomi, lokasi kabupaten Blora ada di 110’50 BT dan 7’20 LS.

Batas wilayah kabupaten Blora bagian selatan adalah Ngawi, bagian utara adalah kabupaten Rembang, bagian timurnya adalah kabupaten Bojonegoro dan bagian barat berbatasan dengan Grobogan.

Sebesar 45% wilayah Blora adalah kawasan hutan kayu jati.

Sehingga tidak heran jika banyak produk mebel yang dihasilkan dari kabupaten ini.

Baca Juga : Suku DI Indonesia

Asal Muasal Suku Samin di Blora

sejarah suku samin

Eksistensi suku Samin yang masih ada hingga saat ini dimulai dari penyebaran ajaran Samin di kabupaten Blora.

Berdasarkan cerita rakyat yang dipercaya masyarakat sekitar, asal usul nama kabupaten Blora berasal dari kata Belor yang bermakna lumpur.

Kabupaten ini dikenal memiliki tanah yang subur dan menyimpan sumber daya alam yang melimpah, salah satunya adalah minyak bumi.

Asal muasal suku Samin dari Blora ini melalui beberapa tahapan hingga menjadi salah satu suku unik yang ada di Indonesia.

Apakah Anda mengetahui bagaimana suku ini ada dan tetap eksis ? Berikut penjelasan lengkap yang harus Anda ketahui:

1. Kehidupan yang makmur

Asal muasal suku Samin dimulai di kawasan Jawa Tengah atau lebih tepatnya kabupaten Blora.

Kawasan ini dikenal sangat subur dan makmur khususnya dalam hasil pertanian dan hutan kayu jati.

Namun kemakmuran masyarakat sekitar tidak berlangsung lama karena munculnya para penjajah yang datang ke Indonesia.

2. Krisis ekonomi yang melanda

Setelah menikmati kemakmuran yang cukup singkat, masyarakat Blora mengalami krisi ekonomi yang cukup lama karena hutan kayu Jati diambil alih oleh pihak Belanda.

Para warga juga diharuskan membayar pajak yang tinggi sehingga banyak warga yang berusaha untuk kabur dari desa.

3. Kemunculan Samin Surosentiko

Tidak lama dari krisis ekonomi yang melanda masyarakat Blora, akhirnya muncul seorang tokok bernama Raden Kohar.

Namun, beliau mengganti namanya menjadi Samin Surosentiko agar lebih merakyat dan mudah diingat.

Tokoh inilah yang mengajarkan falsafah hidup yang membentuk suku Samin seperti sekarang ini.

4. Ajaran Samin

Raden Kohar mulai mengajarkan ajaran Samin setelah mendapatkan wangsit jimat Kalimasada dari Pandawa melalui laku tapa nya selama 3 hari.

Ajaran ini berisi mengenai pandangan hidup berbudi luhur yang harus dijalankan masyarakat Blora.

Semakin lama, pengikut ajaran ini semakin banyak dan berkembang.

5. Gerakan Samin

Ajaran Samin yang mulai berkembang dan semakin banyak pengikutnya ini melahirkan sebuah gerakan Samin yang kuat sehingga mampu menentang penjajah khususnya dalam hal pembebasan pajak tani yang dirasa memberatkan masyarakat.

Dari gerakan inilah, mereka menyebut diri mereka sebagai suku Samin yang patut diakui.

6. Persebaran Samin

Persebaran suku Samin tidak hanya berada di kawasn Blora saja melainkan sudah merambah ke wilayah Jawa Tengah lainnya seperti Rembang.

Orang-orang Samin ini menjaga kekerabatan dengan baik dan memiliki prinsip hidup yang teguh

Ajaran Samin di Blora

ajaran suku samin

Ajaran samin mulai dikenalkan oleh seorang tokoh masyarakat di Blora bernama Samin Surosentiko.

Beliau merupakan anak dari Raden Surowijaya atau disebut juga Samin Sepuh.

Samin Surosentiko sendiri memiliki nama asli yakni Raden Kohar.

Penggantian nama Raden Kohar menjadi Samin karena dianggap lebih merakyat dan bisa melebur di masyarakat.

Samin juga masih memiliki darah keturunan dari Kyai Keti yang dikenal mashur dari tanah  Rajegwesi kabupaten Bojonegoro.

Beliau ini juga merupakan keturunan dari Pangeran Kusumoningayu dari kabupaten Sumoroto yang sekarang menjadi bagian wilayah kabupaten Tulungaagung.

Dari informasi ini sudah dipastikan memang Samin bukanlah sosok biasa yang bisa memberikan ajaran baik kepada masyarakat.

Ajaran yang dibawa Samin ini bertujuan untuk membentuk karakter manusia sempurna atau Jawata.

Karakter sempurna yang dimiliki manusia diawali dengan sikep.

Sikep atau sikap ini berarti bahwa manusia harus berbuat sesuai dengan norma yang ada dan menepati semua ucapan yang sudah dilontarkan.

Beberapa kata yang harus dimiliki suku Samin dalam ajaran ini diantaranya:

Baca Juga : Suku Lingon

1. Sing dititeni wong iku rak unine

Maksud dari kalimat diatas adalah ucapanlah yang dipercaya orang.

Maka sebagai manusia harus selalu senantiasa menjaga ucapannya dan tidak pernah ingkar janji dengan ucapan tersebut.

Ajaran ini sebagai langkah awal dalam membangun hubungan yang baik dengan diri sendiri dan sesama manusia.

2. Jujur marang awake dhewe

Maksud kalimat diatas adalah setiap manusia wajib berlaku jujur pada dirinya sendiri.

Jika seorang maanusia mampu jujur atas segala hal tentang dirinya, maka bisa dipastikan akan berlaku jujur pula pada sesamanya.

3. Sing penting iku isine, udu njabane

Maksud kalimat diatas adalah batin seseorang lebih penting daripada tampilan lahiriyahnya.

Manusia harus mampu menjaga kebersihan hati agar segala tindak tanduk yang dilakukan tidak menyalahi aturan.

Penampilan luar hanya sebagai bungkus yang bisa menipu banyak orang, sedangkan hati yang baik juga akan tercermin dalam penampilan yang baik pula.

Ajaran Samin mengedepankan sikap berbudi luhur yang harus dijalankan oleh manusia.

Dalam bahasa Jawa, ilmu ini disebut dengan ilmu lelakoning urip.

Keselarasan hidup yang baik akan menjamin kebaikan pada hidup seseorang.

Manusia harus memiliki budi pekerti seperti gotong royong dan saling peduli juga menghormati kepada sesamanya.

Berdasarkan sikap gotong royong atau kebersamaan yang diajarkan kepada suku Samin, maka lahirlah sebutan ajaran Samin yakni berasal dari kata sami-sami (bersama-sama).

Sami-sami yang dimaksudkan disini juga berarti bahwa manusia berasal dari dzat yang sama.

Suku Samin percaya dengan adanya hukum karma.

Kata karma sendiri diambil dari bahasa Sansekerta ‘kr’ yang memiliki arti berbuat.

Jika diberikan makna secara luas, karma berarti segala akibat yang akan muncul dari perbuatan manusia.

Hal ini didukung dengan falsafah hidup orang Samin yang berbunyi ‘ wong iku bakal ngunduh wohing pakarti’ yang berarti seseorang akan mendapatkan hasil sesuai dengan perbuatan yang dia tanam.

Falsafah lain yang dianut suku Samin adalah ‘becik ketitik ala ketoro’ yang bermakna perilaku baik akan dibalas kebaikan, sedangkan perilaku buruk akan dibalas pula dengan keburukan.

Selain beberapa falsafah yang dianut, suku ini juga percaya adanya reinkarnasi atau perwujudan kembali orang yang sudah meninggal.

Baca Juga : Suku Sunda

Sistem Perkawinan Suku Samin

perkawinan suku samin

Sistem perkawinan yang ada di suku Samin hampir sama dengan suku lainnya khususnya Jawa.

Namun, orang-orang Samin memaknai sebuah perkawinan sebagai fase hidup yang mulia.

Perkawinan orang Samin tidak hanya sekedar mempersatukan cinta seorang lelaki dan perempuan, melainkan sebagai sarana dalam menuju keluhuran budi.

Keluhuran budi dalam perkawinan orang Samin adalah mampu melahirkan anak yang mulia atau disebut dengan atmaja tama.

Setiap proses kehidupan didalam masyarakat Samin selalu dipenuhi nilai kemanusiaan yang harus dijalankan.

Nilai kemanusian yang paling ditekankan adalah nilai keadilan dan nilai kebenaran.

Peran Penting Samin Surosentiko

suku samin

Raden Kohar atau Samin Surosentiko menjadi peran penting dalam perkembangan masyarakat Samin yang saat ini sudah menyebar ke berbagai daerah.

Adanya suku Samin melalui gerakan Samin ini didasari oleh kejadian di masa lampau yang sangat memprihatinkan.

Kehidupan di zama kerajaan dahulu dipenuhi dengan tantangan yang beragam.

Sosok Samin merupakan bagian dari keluarga bangsawan sehingga terbiasa untuk dididik dengan berbagai macam ilmu luhur guna membantu masyarakat sekitar untuk hidup secara layak.

Namun, kehidupan istana yang berkecukupan kadangkala tidak berbanding lurus dengan kehidupan desa.

Hal inilah yang membuat ayah Samin keluar daei istana dan memutuskan untuk tinggal di desa.

Ayah Samin yang tidak terbiasa hidup kekurangan, akhirnya memutuskan menjadi perompak dan penjudi, namun hasilnya tetap diberikan kepada rakyat kecil.

Lambat laun si Samin tidak setuju dengan cara ayahnya dalam membantu rakyat.

Akhirnya beliau memutuskan untuk merantau dan menikah dengan gadis desa tempat perantauannya.

Keluarga Samin termasuk dalam keluarga yang berkecukupan karena memiliki ladang dan tanah yang cukup luas.

Namun, pada suatu waktu terjadilah krisis ekonomi yang membuat kehidupan desa sedikit kacau balau.

Samin memutuskan untuk bertapa selama 3 hari.

Sepulang dari bertapa, Samin mendapatkan jimat kalimasada dari Pandawa.

Berbekal dari ilmu yang didapatkan, Samin mulai mengajarkan ajarannya yang penuh dengan falsafah hidup.

Banyak warga sekitar yang mengikuti dan percaya dengan ajaran Samin karena dianggap akan memberikan kemakmuran dalam kehidupan mereka.

Setelah masyarakat mulai melakukan ajaran yang diberikan Samin, kehidupan masyarakat desa Blora mulai membaik.

Selain mengajarkan ilmu falsafah, Samin juga membebaskan masyarakat dari jeratan pajak yang diberlakukan oleh kaum Belanda.

Hingga pada akhirnya Samin wafat di Padang sekitar tahun 1914 masehi.

Sistem Kepercayaan Suku Samin

kepercayaan suku samin

Sistem kepercayaan yang dianut oleh suku Samin adalah agama Islam.

Namun, mereka tetap menjalankan semua falsafah hidup yang diajarkan oleh Samin.

Falsafah suku Samin sebenatnya tidak jauh berbeda dengan falsafah hidup suku Jawa.

Hal ini dikarenakan lokasi penyebaran pertama ajaran Samin berada di Jawa Tengah.

Keunikan dan keistimewaan yang dimiliki suku Samin merupakan bagian dari ragam kebudayaan Indonesia yang patut dilestarikan.

Dari cerita lahirnya suku ini memberikan gambaran kepada Kita bahwa lahirnya sebuah suku bisa dari sebuah ajaran budi luhur yang terus berkembang.

Ajaran yang dianut oleh masyarakat Samin juga mencerminkan sikap yang baik dan patut dicontoh oleh generasi muda.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply