Mengenal Suku Sunda Lebih Dekat

Suku Sunda – Keberagaman suatu bangsa dapat dilihat dari berbagai ras dan suku yang mendiami suatu daerah atau negara.

Perbedaah yang ada tidak untuk membuat batasan antara satu suku dengan suku yang lain atau antara individu yang berbeda.

Indonesia memiliki ragam suku mulai dari suku Aceh, suku Sunda, suku Jawa hingga suku Papua.

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki keberagaman suku dari ujung barat hingga ujung timur.

Dalam satu pulau saja terdiri dari berbagai macam suku yang berbeda, misalnya di pulau Jawa tidak hanya dihuni oleh suku Jawa saja melainkan juga ditinggali oleh suku Sunda tepatnya di wilayah Jawa bagian barat.

Bagaimanakah keistimewaan orang Sunda? Mari simak penjelasan berikut!

Asal-Usul nama Sunda

sejarah suku sunda

Nama Sunda sendiri mulai dikenal pada zaman kerajaan Tarumanegara sekitar tahun 397 M sebagai ibukota kerajaan.

Nama tersebut diberikan oleh raja Purnawarman. Seiring berjalannya waktu, kerajaan Tarumanegara mulai mengalami kemunduran sehingga penguasa selanjutnya yakni Tarusbawa mengganti nama kerajaan tersebut menjadi kerajaan Sunda.

Masyarakat dari kerajaan Sunda pada akhirnya disebut dengan suku Sunda seperti yang dikenal hingga sekarang.

Kata ‘Sunda’ menurut ahli bernama Rouffaer menyebutkan akar katanya berasal dari bahasa Sansekerta ‘Suddha’ atau ‘Sund’ yang berarti berkilau putih atau terang.

Sedangkan pada bahasa Jawa Kuno dan Bali kata ‘Sunda’ memiliki arti suci, murni, tidak bernoda, bersih, waspada, pangkat, air dan tumpukan.

Kata ‘Sunda’ juga diyakini masyarakat sekitar bahwa suku Sunda harus berkarakter kasundan yakni bageur/baik, bener/benar, pinter/cerdas, cageur/sehat, wanter/berani dan singer/mawas diri. Lima karakter kasundan sudah menjadi pegangan masyarakat Sunda dari kerajaan Salakanagara, Tarumanegara, Padjajaran hingga saat ini.

Baca Juga : Suku di Indonesia

Sistem Kepercayaan dan Mata Pencaharian Suku Sunda

suku sunda

Masyarakat suku Sunda sebagian besar menganut kepercayaan Islam sebagai agama mereka.

Namun masih ada kepercayan lain sebagai minoritas yakni agama Kristen, katolik hingga sunda wiwitan.

Sunda wiwitan sendiri merupakan agama leluhur yang masih dipertahankan hingga saat ini oleh beberapa komunitas di wilayah pedesaan misalnya di daerah Banten dan Kuningan.

Mata pencaharian sebagian besar suku Sunda adalah bertani atau berladang.

Tanah yang ada di masyarakat Sunda tergolong subur sehingga bisa ditanami segala macam tanaman.

Selain sebagai petani, saat ini mata pencaharian orang Sunda mulai lebih variatif yakni menjadi pedagang atau pengusaha.

Usaha yang dijalankan suku Sunda saat ini lebih banyak ke usaha kecil dan sederhana seperti toko kelontong, penjual makanan keliling, warung makan hingga usaha pangkas rambut.

Salah satu usaha orang Sunda yang dikenal di berbagai kota adalah warmindo atau warung makan indomie.

Usaha ini sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Bahasa Suku Sunda Sehari-hari dan Makanan Khas

makanan khas suku sunda

Anda pasti sudah mengerti bukan, bahwa orang Sunda pastinya akan menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan sehari-hari.

Namun, tidak semua masyarakat Sunda menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa keseharian khususnya bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan sudah memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian.

Meskipun ada beberapa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa keseharian, namun eksistensi bahasa Sunda masih tetap terjaga. Bahasa Sunda sendiri terdiri dari beberapa dialek.

Ada 6 dialek dalam bahasa Sunda yakni dialek barat(Banten), selatan (Priangan), utara (Bogor dan sekitarnya), timur laut (Kuningan, Cirebon), tengah timur (Majalengka, Indramayu) dan tenggara(Ciamis).

Makanan khas dari suku Sunda sangat beranekaragam, diantaranya yakni pepes, tutug oncom, lalapan, sayur lodeh, sayur asem, sambal kecombrang, teri pete dan lain-lain.

Salah satu makanan tradisional yang eksis hingga sekarang adalah sambal kecombrang. Sambal ini banyak digunakan sebagai menu andalan resto Sunda tidak terkecuali restonya para artis.

Seni Suku Sunda Yang Masih Eksis

Kesenian merupakan salah satu warisan leluhur yang patut dijaga dari waktu ke waktu termasukoleh generasi milenial seperti Anda.

suku Sunda juga memiliki warisan kesenian dari leluhur mereka yang tetap terjaga hingga saat ini seperti:

1. Wayang golek

kesenian suku sunda

Ragam kesenian yang dimiliki suku Sunda salah satunya adalah wayang golek. Berbeda halnya dengan wayang kulit, wayang golek dimainkan oleh lakon boneka kayu yang dikendalikan seorang dalang.

Bagi Anda yang berminat untuk memainkan wayang golek, Anda harus memiliki keahlian dalam menirukan berbagai macam karakter suara.

Wayang golek biasanya dipertontonkan pada berbagai acara mulai dari pesta perkawinan hingga acara hiburan di kampung-kampung.

Namun, saat ini pementasan wayang golek juga dijadikan sebagai sarana edukasi yang menyenangkan. Hal ini dikarenakan cerita atau kisah yang akan ditampilkan bisa dari cerita masa kini.

2. Seni tari

kesenian suku sunda

Ada beragam jenis tarian dari suku Sunda yang mungkin sudah tidak asing bagi Anda seperti tari jaipong, topeng dan merak. Ketiga tarian ini sangat populer di masyarakat Indonesia hingga mancanegara.

Salah satu tarian yang sering dimainkan oleh masyarakat Sunda adalah tari Jaipong.

Tarian ini menjadi ciri khas orang Sunda atau maskotnya seni tari Sunda.

Tari jaipong merupakan pengembangan dari tari ketuk tilu dengan iringan alat musik degung.

Tarian ini biasanya dimainkan untuk beberapa acara seperti pesta pernikahan hingga selamatan kampung.

3. Seni musik

kesenian suku sunda

Suku Sunda tidak hanya memiliki seni tari dan wayang golek saja sebagai kesenian daerah, tetapi juga memiliki seni musik daerah yang tidak kalah eksis.

Jika tidak ada seni musik yang mengiringi setiap pementasan, tentunya suasana yang dirasakan terasa sepi bukan? Alat musik khas orang Sunda diantaranya yakni degung, kecapi, suling, angklung, karinding dan calung.

Alat musik daerah yang ada juga mendukung lagu-lagu daerah yang dimiliki oleh masyakat Sunda seperti mojang priangan, es lilin, tokecang, manuk dadali hingga bubuy bulan.

Dari beberapa lagu yang disebutkan, pasti ada yang pernah diajarkan kepada Anda saat di bangku sekolah bukan? Manakah lagu yang paling Anda kuasai?

Rumah Adat Suku Sunda

rumah adat suku sunda

Ragam yang ada pada orang Sunda tidak hanya meliputi kesenian, agama dan bahasanya saja, tetapi ciri khas dari suku Sunda juga bisa dilihat dari tempat tinggal atau rumah adat mereka.

Apakah Anda tahu apa nama rumah adat orang Sunda?

Rumah adat atau rumah tradisional orang Sunda memiliki nama yang berbeda-beda.

Hal ini dikarenakan nama rumah adat didasarkan pada pintu rumah dan bentuk atapnya.

Bentuk atap rumah Sunda antara lain seperti Jolopong, Suhunan, badak heuay, tadong anjing, jubleg nangkub, perahu kemurep, buka pongpok dan capit gunting.

Diantara beberapa jenis atap rumah tradisional Sunda, Anda akan banyak menjumpai atap jenis Jalopong di rumah masyarakat sekitar.

Atap jenis ini tergolong paling sederhana yakni terdiri dari 2 bidang atap dengan jalur suhunan yang diletakkan di tengah sebagai pemisah.

Panjang batang suhunan dibuat sejajar dengan sisi bawah atap, sedangkan pada ujung suhunan dibuat tegak lurus.

Pemilihan atap Jolopong yang banyak digunakan oleh suku Sunda hingga sekarang juga dikarenakan efisiensi interiornya.

Bentuk atap Jolopong memiliki ciri khas adanya ruang depan atau tepas, ruang tengah/patengahan/rumah imah, ruang samping atau pangkeng, serta ruang belakang (terdiri dari pawon/dapur dan padaringan/penyimpanan beras)

Selain rumah Sunda atap Jolopong, secara garis besarnya rumah adat Sunda dibuat dengan bentuk panggung yang memiliki tinggi 0.5 meter hingga 1 meter.

Jika Anda mengamati rumah adat Sunda yang sudah berumur tua, biasanya akan menemukan bagian kolong dengan tinggi rata-rata mencapai 1.8 meter. Apakah fungsi kolong tersebut?

Kolong pada rumah adat Sunda sangat berperan penting sebagai tempat untuk memelihara binatang seperti kuda dan sapi.

Selain itu, digunakan pula untuk menyimpan alat pertanian seperti bajak, garu, cangkul dan sebagainya.

Dikarenakan bentuk rumah panggung, maka Anda harus menaiki sebuah tangga untuk menuju ke rumah utama. Tangga tersebut disebut dengan Golodog.

Nilai Filosofi yang ada pada rumat adat suku Sunda yakni penghormatan kepada alam sekitar.

Penghormatan ini diwujudkan dengan cara tidak digunakannya paku besi maupun alat modern dalam rumah adat Sunda.

Hal ini sebagai wujud mencintai dan melestarikan alam dan lingkungan.

Sebagai pengganti dari paku besi, masyarakat suku Sunda menggunakan paseuk atau tiang bambu sebagai penguat dan ijuk dari sabut kelapa.

Atap rumah Sunda juga menggunakan bahan dari alam berupa daun rumia dan daun kelapa.

Pada bagian dinding dan lantai biasanya menggunakan kayu maupun palupuh.

Sistem Kekerabatan Suku Sunda

suku sunda

Sistem kekerabatan yang dianut oleh orang-orang suku Sunda adalah sistem bilateral yakni garis keturunannya dari kedua belah pihak yakni bapak dan ibu.

Peranan tertinggi dalam keluarga adalah bapak sebagai kepala keluarga.

Agama Islam sebagai mayoritas kepercayaan yang dianut juga menjadi peran penting yang mempengaruhi setiap adat istiadat dalam kehidupan orang Sunda.

Jika dalam suku Jawa juga menganut sistem kekerabatan 7 turunan, suku Sunda juga memiliki sistem kekerabatan yang disebut pancakaki yakni hubungan saudara secara vertical dan horizontal. Ada 3 jenis sebutan yang harus Anda ketahui yakni:

Saudara sekandung atau vertical

Adapun sebutannya seperti anak, cucu/ euncu, buyut/ piut, bao, canggah wareng/ jangga wareng, udeg2, gantungsiwur/ kaitsiwur. Sebutan diatas hampir mirip dengan sebutan dalam sistem kekerabatan oleh suku Jawa.

Saudara tidak langsung atau horizontal

Adapun sebutannya seperti bibi, paman atau uwak, anak paman/ bibi, anak saudara kakek dan nenek, anak dari saudara piut dan sebagainya. Sistem kekerabatan kedua ini juga masih digunakan hingga sekarang.

Saudara tidak langsung maupun langsung vertical

Adapun sebutannya seperti keponakan dari anak adik, keponakan dari anak kakak dan sebagainya. Sistem kekerabatan ini jika dalam suku Sunda masih dianggap saudara meskipun garis keturunannya cukup jauh.

Sistem kekerabatan pada suku Sunda masih dipegang teguh oleh masyarakatnya hingga di zaman milenial seperti sekarang ini.

Hal ini dilakukan untuk menjaga eksistensi keberadaan masyarakat Sunda yang dikenal kaya akan budaya dan sistem kekerabatan yang kuat.

Informasi diatas mengenai seluk beluk suku Sunda diharapkan memberikan gambaran lebih jelas kepada Anda tentang salah satu suku di Indonesia yang masih eksis hingga sekarang.

Meskipun sudah ada di era milenial, sebaiknya Anda sebagai generasi muda tetap menjaga kelestarian dan kebudayaan daerah agar identitas Indonesia sebagai bhinneka tunggal ika tetap terjaga.

Demikian tadi pembahasan dan rangkuman tentang suku sunda. Semoga bermanfaat,

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply