Mengenal Serba-Serbi Suku Toraja

Suku Toraja – Wilayah yang luas menjadikan Indonesia memiliki beragam suku bangsa. Hampir di setiap pulau yang ada, pasti memiliki suku yang berbeda-beda.

Anda pasti mengetahui suku Toraja bukan? Suku ini merupakan salah satu suku yang ada di Pulau Sulawesi dan terkenal karena budayanya yang masih kental hingga saat ini. Untuk mengetahui lebih banyak tentang suku ini, simak ulasan di bawah ini.

Sejarah Toraja

Suku Toraja tinggal di daerah pegunungan Sulawesi Selatan bagian utara. Toraja berasal dari kata To Riaja yang artinya orang yang tinggal atau berdiam di pegunungan.

Ada pula yang menyebutkan jika Toraja berasal dari kata “To Riajang” yang berarti orang yang tinggal di wilayah Barat. Sebutan tersebut digunakan pertama kali oleh masyarakat suku Bugis Lawu dan suku Bugis Sidendereng.

Sumber lain mengatakan bahwa Toraja berasal dari kata To Raya, To artinya orang dan Raya artinya besar atau bangsawan.

Hingga saat ini populasi suku Toraja diperkirakan kurang lebih 1 juta jiwa dan sekitar setengah dari populasi tersebut masih tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Mamasa, dan Kabupaten Toraja Utara.

Mayoritas masyarakat suku Toraja menganut agama Kristen.

Baca Juga : Suku Di Indonesia

Filosofis Hidup Masyarakat Toraja

filosofi suku toraja

Tallu Lolona merupakan falsafah kehidupan leluhur yang digunakan oleh masyarakat suku Toraja.

Arti dari falsafah tersebut adalah tiga kehidupan yaitu kehidupan lingkungan, kehidupan manusia, dan kehidupan hewan.

Falsafah tallu lolona ini digunakan sebagai landasan berfikir dan sistem pengetahuan oleh masyarakat Tana Toraja.

Hubungan yang harmonis antar sesama makhluk dan dengan yang kuasa selalu dikembangkan oleh masyarakat suku Toraja.

Mereka mendasarkan hubungan tersebut pada nilai keutuhan yang saling menghidupkan.

Maka dari itu terciptalah kehidupan yang ideal, yang saling memberi keuntungan antar manusia, lingkungan, dan hewan.

Selain tallu lolona, masyarakat Tana Toraja juga mempunyai filosofis lain yang disebut tau.

Filosofis tersebut memiliki empat pilar utama yang dijadikan arah pandangan hidup masyarakat Toraja.

Empat pilar tersebut adalah Sugi’ artinya kaya, Barani artinya berani, Manarang artinya pintar, dan Kinawa artinya berhati mulia.

Ketika sudah bisa mengamalkan keempat pilar tersebut, seorang Toraja bisa disebut sebagai tau atau manusia.

Filosofi tau ini bisa digunakan untuk mencerminkan dan mengukur tingkat kedewasaan manusia dalam budaya suku Toraja.

Upacara Adat di Toraja

upacara adat suku toraja

1. Upacara Rambu Solo

Upacara adat ini merupakan upacara kematian yang diselenggarakan di Tana Toraja.

Umumnya, upacara adat ini terdiri dari 2 rangkaian acara yaitu pemakaman dan kesenian.

Kedua proses tersebut dilaksanakan dengan sakral sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur mereka yang telah meninggal.

Rante atau proses sebelum pemakaman biasanya dilaksanakan di halaman yang ada pada kompleks rumah adat suku Toraja yaitu rumah tongkonan. Berikut beberapa ritual yang dilakukan pada proses upacara adat ini.

  • Ma’Tudan Mebalun merupakan proses pembungkusan jasad orang yang meninggal.
  • Ma’Roto merupakan proses penghiasan peti yang akan digunakan jenazah menggunakan benang perak dan benang emas.
  • Ma’Popengkalo Alang merupakan prosesi pengarakan jenazah menuju tempat persemayaman dengan jenazah telah dibungkus dalam sebuah lumbung
  • Ma’Palao atau Ma’Pasonglo merupakan proses pengarakan jenazah dari kompleks rumah tongkonan ke Lakkian atau area pemakaman.

Untuk prosesi kesenian sendiri terdapat beberapa bentuk kesenian Toraja yang dilaksanakan.

Kesenian ini dilakukan sebagai penghormatan dan doa bagi orang yang meninggal serta untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.

Berikut kesenian-kesenian yang dilaksanakan.

  • Arak-arakan hewan yang akan dijadikan kurban yaitu kerbau.
  • Pertunjukan Unnosong, Pa’Dali-Dali, Pa’Pompan atau musik daerah lainnya.
  • Tarian adat suku Toraja seperti Pa’Doni, Pa’Badong, Pa’Silaga Tedong, Pa’Papanggan, Pa’Randing, dan Pa’Passailo.
  • Adu hewan kurban yaitu kerbau sebelum disembelih.
  • Pelengkap prosesi upacara adat kematian yaitu penyembelihan kerbau sebagai hewan kurban.

Kerbau yang digunakan bukanlah kerbau biasa, harganya bisa mencapai 10 hingga 50 juta bahkan lebih per ekornya.

Jenis kerbau tersebut yaitu Tedong Bonga atau kerbau bule.

Karenanya, upacara kematian di Tana Toraja ini dikenal sebagai upacara yang mahal.

Cara penyembelihan kerbaunya juga sedikit menyeramkan yaitu menebas leher kerbau dalam sekali tebasan.

2. Upacara Ma’ Nene

Masyarakat suku Toraja mengadakan upacara ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur mereka yang sudah meninggal.

Upacara ini bisa dibilang cukup unik karena ritual yang dilakukan berupa pembersihan dan penggantian pakaian jasad leluhur yang telah meninggal.

Upacara ini diadakan setiap 3 sampai 4 tahun sekali.

Mereka datang ke makam para leluhur kemudian melakukan semacam ritual adat dan pembacaan doa secara bersama dilanjutkan mengeluarkan jasad yang akan dibersihkan.

Kemudian jasad-jasad dibersihkan menggunakan kuas.

Selanjutnya mengganti pakaian leluhur dengan pakaian baru.

Prosesi ini tidak membutuhkan waktu yang lama yaitu sekitar setengah jam.

Setelah jasad dibersihkan dan diganti pakaian, jasad dimasukkan kembali ke dalam pekuburannya.

Kemudian dilakukan doa dan makan bersama sebagai ritual penutup.

Ritual penutup tersebut juga sebagai tempat silturrahmi antar keluarga yang masih satu leluhur.

Baca Juga : Suku Bugis

3. Upacara adat Rompo Bobo Bonnang

Upacara ini adalah upacara pernikahan yang paling sederhana di suku Toraja.

Keluarga mempelai pria datang ke rumah mempelai perempuan kemudian menyampaikan maksud kedatangannya.

Kemudian dilanjutkan perjamuan acara.

4. Upacara adat Rampo Karo Eng

Upacara ini hampir sama dengan Rompo Bobo Bonnang, berbeda diperjamuannya saja. Sebelum perjamuan makan, rombongan mempelai pria akan diminta untuk menunggu di lumbung terlebih dahulu.

5. Upacara adat Rompo Allo

Upacara ini merupakan upacara pernikahan yang paling mewah bagi masyarakat Toraja.

Pesta perayaannya bisa diadakan berhari-hari dengan acara yang meriah.

Biasanya sebagai jamuan utama dalam acaa penikahan, keluarga mempelai wanita akan menghidangkan daging babi.

Rumah Adat Toraja

rumah adat suku toraja

Ruah adat suku Toraja memiliki keunikan dibentuknya yaitu berbentuk seperti perahu, rumah ini sering disebut dengan tongkonan.

Diberi nama tongkonan sebab dahulu tempat ini digunakan sebagai tempat duduk dan berdiskusi para bangsawan Toraja.

Selain itu, tongkon juga memiliki arti menduduki atau tempat duduk.

Terdapat 3 struktur bangunan dari tongkonan yang mencerminkan adat dan kepercayaan masyarakat Toraja, yaitu:

1. Rattingbuana

Merupakan ruang yang berfungsi untuk menyimpan benda pusaka yang dianggap berharga dan memiliki kesakralan. Karena untuk menyimpan barang-barang sakral, ruang ini berada di bagian atas rumah tongkonan.

2. Kale Banua

Merupakan bagian tengah dari rumah yang berfungsi sebagai tempat berkumpul. Tempat ini masih dibagi menjadi 3 bagian lagi yaitu

  • Tengalok, tempat tidur tamu dan tempat untuk anak-anak
  • Sali, tempat kumpul keluarga dan tempat makan bersama
  • Sambung, tempat yang biasa digunakan oleh kepala keluarga

3. Sulluk Banua

Difungsikan sebagai tempat hewan peliharaan dan menyimpan alat-alat pertanian. Ruangan ini berada di bagian paling bawah dari rumah tongkonan.

Tongkonan juga memiliki pakem hiasan yang wajib digunakan di setiap rumah yang ada, yaitu:

  1. Hiasan dinding

Hiasan dinding yang digunakan terbuat dari tanah liat dan berupa ukiran.

Ukiran tersebut menggunakan 4 warna dasar yaitu hitam yang melambangkan kematian, putih melambangkan kesucian dan kebersihan, merah melambangkan kehidupan, dan kuning melambangkan kekuasaan dan anugerah Tuhan.

  1. Tanduk kerbau

Hiasan ini biasanya dipasang menjulang ke atas di bagian depan tongkonan. Tanduk kerbau ini melambangkan tingkatan status sosial dan kemewahan. Tingginya strata sosial kelompok adat ditunjukkan dari banyaknya jumlah tanduk yang tersusun di tongkonan.

Baca Juga : Suku Lingon

Pakaian Adat Toraja

pakaian adat suku toraja

1. Sepa Tallung Buku

Pakaian adat ini pernah menjadi perhatian dunia dalam ajang Manhut International di Korea Selatan pada tahun 2011.

Baju adat yang hanya dikenakan oleh laki-laki ini memiliki panjang selutut dan dilengkapi dengan sejumlah aksesoris seperti berikut.

  • Kandure, dekorasi berupa manik-manik yang dipasang pada bagian dada, ikat kepala, dan ikat pinggang.
  • Gayang, sejenis senjata berupa parang yang diselipkan pada bawahan sarung.
  • Lipa, berupa sarung sutera dengan motif beragam.

2. Baju Pokko

Pakaian adat ini dikenakan oleh kaum perempuan di suku Toraja.

Apabila Sepa Tallung Buku berupa pakaian panjang, Baju Pokko ini memiliki lengan yang pendek dan didominasi dengan warna putih, kuning serta laksana merah.

Sampai saat ini, baju pokko masih dilestarikan oleh masyarakat Toraja.

Yaitu dengan mewajibkan para PNS perempuan di Kabupaten Tana Torajaguna untuk memakai baju pokko pada hari Sabtu.

Begitu juga dengan para pria diwajibkan untuk menggunakan sepa tallung buku.

3. Kandore

Selain sepa tallung buku dan baju pokko, ada juga kandore.

Baju tersebut merupakan pakaian adat suku Toraja yang diperuntukkan kaum wanita.

Kandore dihiasi manik-manik di bagian dada, ikat pinggang, ikat kepala dan gelang.

4. Kain tenun Toraja

Kain tenun khas Toraja termasuk ke dalam unsur baju adat Toraja yang hingga saat ini masih digunakan oleh masyarakat Toraja.

Kain tenun ini juga menjadi incaran para wisatawan yang berkunjung.

Kain tenun ini memiliki peran penting bagi masyarakat Tana Toraja, khususnya wilayah Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Melambangkan kasih sayang dengan keluarga yang telah meninggal.

4. Sarung tenun Toraja

Sarung tenun ini biasanya digunakan oleh seluruh tetua adat dalam memimpin upacara kematian di Kecamatan Rantepao.

Sarung yang dipakai umumnya berwarna putih, yang mengindikasikan status kebangsawanan seseorang.

Pekuburan Adat Suku Toraja

perkuburan adat suku toraja

Terdaoat 5 macam bentuk pekuburan di Suku Toraja, yaitu:

1. Kuburan gantung

Kuburan ini berada di tebing-tebing bebatuan. Jenazah disimpan di dalam peti kemudian disusun di rak-rak yang telah dibuat pada tebing.

2. Kuburan goa

Sama seperti kuburan gantung, jenazah juga dimasukkan ke dalam peti.

Bedanya peti jenazah tersebut diletakkan di dalam goa pekuburan bukan di tebing bebatuan.

Kuburan ini banyak dijumpai di Tampang Allo Sangalla dan Londa.

3. Kuburan liang atau batu

Kuburan liang jarang digunakan, karena dalam pembuatan kuburan ini bisa memakan waktu dan biaya yang mahal.

Biasanya digunakan oleh orang Toraja yang mempunyai dana yang mencukupi dan status sosial tinggi.

Liang dibuat dengan cara membuat lubang pada batu besar yang ada di gunung.

4. Kuburan passilliran atau pohon

Pohon tarra’ merupakan pohon yang digunakan untuk passilliran ini.

Pohon dilubangi untuk menyimpan jenazah.

Biasanya yang dikuburkan pada pohon ini adalah bayi yang meninggal dibawah usia 6 bulan.

5. Kuburan patane

Kuburan jenis ini memiliki bentuk seperti rumah pada umumnya, kebanyakan berbentuk tongkonan.

Kuburan patane merupakan kuburan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat suku Toraja untuk menguburkan saudara mereka yang meninggal.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply