Tari Piring yang Epic dari Suku Minangkabau

Ketika ada yang menyebut Sumatra, tempat pertama yang sering muncul di benak adalah Danau Toba. Tapi, itu bukan satu-satunya daya tarik di Sumatra.

Bagaimana kalau berkelana ke barat? Sumatera Barat adalah rumah bagi puluhan situs yang mempesona, wisata kuliner yang lezat, dan kekayaan budaya yang menarik. Dan salah satu yang mengagumkan adalah Tari Piring.

Tak hanya di tanah air, tarian ini juga dikenal luas di negara-negara tetangga lho. Tarian asli Indonesia ini banyak disukai orang luar negeri karena tarian ini dianggap memiliki gerakan yang energik, dinamis, dan gerakannya tidak monoton, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.

Bagi Anda yang mungkin ingin lebih mengenal tarian tradisional yang epic ini, berikut adalah uraian lengkapnya.

Asal dan Sejarah

tari piring

Tari Piring tercatat dalam sejarah sudah ada sejak abad ke-12 M, dan diyakini lahir dari budaya asli suku Minangkabau yang tinggal di Sumatra Barat, tepatnya di Kota Solok.

Tarian Piring dulunya merupakan tarian sakral yang dilakukan oleh penduduk setempat segera setelah panen besar, sebagai ungkapan kebahagiaan dan rasa terima kasih kepada para Dewa yang telah memberikan panen berlimpah.

Sebagai informasi, agama Islam kala itu belum masuk ke Pulau Sumatra, sehingga sebagain besar penduduknya masih menyembah Dewa-Dewa dalam agama Budha dan Hindu.

Bahkan beberapa adalah Animisme (menyembah patung atau benda-benda yang di-Tuhankan).

Ritual khusus ini dilakukan dengan membawa sesaji (berupa makanan lezat yang dipersembahkan untuk para Dewa) yang disajikan di atas piring sambil melakukan gerakan memutar atau mengayun piring dan menari.

Menurut tradisi saat itu, tarian piring hanya boleh dilakukan oleh para wanita muda yang belum menikah.

Para penari mengenakan pakaian tradisional yang indah dan berperilaku lembut untuk menghadapi para Dewa. Busana yang digunakan terutama dalam pola merah dan emas terang yang diyakini sebagai warna keberuntungan dan kekayaan.

Menurut adat, jumlah total penari dalam Tari Piring kuno haruslah berupa angka ganjil, seperti 3, 7, atau lebih.

Tarian ini terus berkembang selama masa pemerintahan Sriwijaya, yang membuatnya terkenal di seluruh Sumatera Barat.

Namun setelah Sriwijaya ditundukkan oleh Kerajaan Majapahit pada abad ke-14, beberapa penduduk termasuk para penari ikut pindah dari Sriwijaya ke Melayu.

Para pengungsi ini tiba di Malaysia dan Brunei Darussalam yang memiliki latar belakang budaya berbeda dari budaya asli di Minang.

Karena perbedaan ini, tarian piring Minang kemudian berubah sesuai dengan kebiasaan orang Melayu. Itu sebabnya tarian piring juga ada di Malaysia.

Fungsi Tari Piring

fungasi tari piring

Pada sekitar abad ke-16, Islam mulai masuk ke Pulau Sumatra, dan secara tidak langsung berpengaruh besar terhadap perkembangan Tari Piring.

Penyebaran Islam yang mulai merata dan banyaknya masyarakat yang menganut Islam menjadikan tujuan utama tarian piring berubah drastis.

Tarian suku Minangkabau ini tidak lagi dimaksudkan sebagai tarian ritual untuk pemujaan para dewa, tapi hanya sebagai hiburan untuk para raja dan pejabat penting.

Tapi karena tarian ini semakin populer di kalangan orang Minang, akhirnya tarian juga sering dilakukan di berbagai acara hiburan rakyat. Juga sebagai persembahan dalam pernikahan di mana sepasang pengantin dianggap sebagai raja & ratu sehari.

Dan dalam perjalanan sejarahnya, tarian piring kontemporer mengalami cukup banyak perubahan baru, mulai dari pola, iringan musik, koreografi, hingga komposisi pemain.

Seorang seniman Minang tersohor bernama Huriah Adam adalah orang yang telah memberikan kontribusi besar terhadap popularitas tarian ini di masa sekarang.

Baca Juga : Tari Saman

Gerakan Menari

gerakan tari piring

Berbagai gerakan dalam tarian piring adalah perpaduan antara gerak tubuh penari yang indah, akrobatik, dan magis. Secara keseluruhan, gerakan dalam tarian ini sebenarnya menceritakan tentang tahapan kegiatan dalam budidaya tanaman padi yang menjadi mata pencaharian masyarakat adat Minang sejak lama.

Untuk Tari Piring yang sempurna, ada sekitar 20 gerakan tari yang harus dilakukan oleh para penari. Namun untuk acara-acara sederhana, gerakan yang dilakukan tidak sebanyak ini. Berikut adalah beberapa gerakannya:

1. Salam

Pertunjukan dimulai setelah musisi laki-laki memukul gong untuk memberi tanda. Dan kemudian para penari memasuki panggung dengan memberikan salam hormat kepada para tamu/penonton/pengantin sebanyak tiga kali sebagai tanda kehormatan.

Tarian dimulai dengan para penari yang menggerakan (mengayun) piring di kedua tangan dengan arah ke kanan atau ke kiri sesuai dengan hentakan musik.

Gerakan ini dilakukan dengan cepat dan dinamis, tapi piring tetap tidak lepas dari genggaman. Di part selanjutnya, para penari akan menunjukkan keterampilan dalam memainkan piring di tangannya dengan berbagai gerakan.

Dibutuhkan keterampilan untuk menahan piring dan mengatur ekspresi wajah agar tetap tenang. Jika di masa lalu piring-piring diisi dengan sesajen, Tari Piring masa kini hanya menggunakan satu lilin di atas masing-masing piring. Di beberapa pertunjukan bahkan dengan piring kosong.

2. Gerakan Bela Diri

Jika tarian menggunakan penari laki-laki, biasanya diselipkan gerakan seni bela diri tradisional Minangkabau, yaitu piring saling diadu satu sama lain agar berdentang indah. Tapi kadan-kadang, para penari juga mengenakan cincin di kedua jari tengah untuk menghasilkan suara denting.

3. Lempar Piring

Di beberapa part, para penari akan melempar piring tinggi ke udara, dan menangkapnya tepat dengan satu tangan, inilah yang disebut dengan gerakan akrobatik. Pada Tari Piring yang lebih ekstrim, piring-piring akan dilempar ke lantai dengan keras hingga pecah.

Kemudian disusul para penari terus tampil di atas potongan piring tanpa alas kaki. Ajaibnya, para penari seolah tidak merasakan sakit atau cedera karena piring yang mereka injak.

Inilah yang dimaksud dengan gerakan magis, yang kemudian menjadi daya tarik terbesar dan membuat tarian ini menjadi lebih terkenal.

4. Gerakan Lain

Gerakan lain dalam tarian piring termasuk pasambahan, singanjuo lalai, gerakan seperti mencangkul, menyemai, membuang sampah, menyiang, bertanam, mencabut padi, gerakan melepas lelah, membawa padi, gerakan gotong royong, mengantar juadah, menampih padi, dll.

Baca Juga : Tari Kecak

Iringan Musik

iringan musik tari piring

Iringan musik dalam Tari Piring awalnya harus diiringi dengan menggunakan rebana dan gong tradisional. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang menuntut agar musik yang dimainkan harus lebih menarik, alat musik tradisional Minangkabau yang disebut Talempong dan Saluang akhirnya digunakan untuk menambah dinamika.

Saluang adalah alat musik yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara dtiup seperti suling. Ssedangkan Talempong adalah instrumen perkusi khas Minang, yang dibuat dari kuningan dan dimainkan dengan cara dipukul.

Alat musik lain termasuk rapa’i, tasa, sarunai, dan bansi. Di beberapa acara, bahkan iringan musik ditambah bass dan keyboard untuk membuat musik kontemporer.

Musik dalam tarian piring menggambarkan rasa kebahagiaan, kebersamaan, dan antusiasme yang tenang.

Kostum Penari

kostum penari tari piring

Kostum/busana penari dalam Tari Piring adalah baju tradisional Sumatra Barat. Namun, busana untuk pria dan wanita sangat berbeda. Berikut perbedaannya:

1. Kostum Penari Pria

Penari pria mengenakan baju adat bernama Rang Mudo, yaitu kemeja lengan lebar yang dihiasi renda emas (atau biasa disebut missia). Untuk bagian bawah adalah celana dengan ukuran besar yang bagian tengahnya memiliki warna senada dengan Rang Mudo. Dalam bahasa Sumatra, celana ini bernama Saran Galembong.

Bagian pinggang penari pria dibungkus dengan Sisampek, yaitu kain songket yang dililit dari pinggang hingga lutut. Dan dilengkapi dengan ikat pinggang yang terbuat dari songket juga dengan rumbai-rumbai di bagian ujung (disebut juga Cawek Pinggang).

Baca Juga : Tari Jaipong

Sedangkan bagian kepala, penari pria mengenakan penutup kepala segitiga yang terbuat dari songket khas pria Minangkabau (disebut juga Deta).

2. Kostum Penari Perempuan

Penari perempuan mengenakan baju kurung yang terbuat dari kain beludru dan kain satin, dengan seledang songket di sisi kiri tubuh.

Untuk bagian kepala, penari wanita menggenakan penutup kepala wanita khas Minangkabau yang terbuat dari bahan songket, yang bentuknya mirip tanduk kerbau, atau biasa disebut Tikuluak Pandu Balapak. Asesoris lainnya adalah kalung gadang, anting, dan kalung rambai.

Selain di Sumatra, tarian ini juga telah dipertunjukkan di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Pekanbaru, Medan, dll.

Tari Piring juga telah merambah dunia internasional dan telah tampil di beberapa festival budaya di Malaysia, Singapura, Serbia, Jepang, serta beberapa negara di Eropa untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply