Tari Saman : Tarian Tradisional Paling Indah di Indonesia

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak seni, salah satunya adalah seni tari. Seni tari Indonesia berasal dari berbagai daerah, yang masing-masing memiliki pola dan ciri khas tersendiri.

Masing-masing ciri khas ini sering dipengaruhi oleh adat dan budaya sekitar. Dan salah satu seni tari unik asli Indonesia adalah Tari Saman. Berikut adalah semua informasi penting yang perlu Anda ketahui tentang Saman.

Apa Itu Tari Saman?

pengertian tari saman

Saman adalah salah satu tarian Aceh yang paling populer di Indonesia, dan biasa ditarikan pada acara-acara penting dan khusus. Pada bulan November 2011, UNESCO menyatakan bahwa Tarian Saman adalah “Situs Warisan Budaya Takbenda yang Membutuhkan Perlindungan Mendesak”.

Pada tahun 2017, Tari Aceh ini berhasil memecahkan rekor MURI dengan menampilkan sebanyak 2.262 penari di lapangan Stadion Seribu Bukit, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Jika Anda ingat, Saman juga pernah digunakan sebagai tarian pembuka pada Asian Games di SUGBK Jakarta pada 18 Agustus 2018, dengan jumlah penari sebanyak 1.600 pelajar SMA/SMK se-Jakarta.

Dengan gerakan indah dari koreografer kondang bernama Denny Malik, Tarian Saman saat itu berhasil menghipnotis semua mata, tak hanya masyarakat Indonesia, tapi juga mancanegara.

Tari Saman dipilih dalam acara besar ini karena gerakannya yang kompak dan cepat akan menonjolkan bahwa Indonesia adalah negara gotong royong yang tegas dan kuat.

Asal Usul

Sejarah tari saman

Tarian saman berasal dari kelompok etnis Gayo (ras tertua) yang tinggal di pinggir pantai Provinsi Aceh, Pulau Sumatra, pada abad ke-13.

Pada awalnya, tarian ini hanya dianggap sebagai tarian rakyat biasa yang sering dimainkan remaja-remaja putra setelah pulang mengaji atau sekolah, yang saat itu disebut dengan Pok Ane.

Nama “Saman” diperoleh dari salah seorang ulama Islam terbesar di Aceh bernama Syech Saman, pada sekitar abad ke-16 M. Syech Saman yang saat itu melihat orang-orang Aceh sangat tertarik dengan seni tari ini akhirnya ia berniat menyebarkan pesan Islam lewat tari.

Dalam gerakan tari dan tepuk-tepuk para penari, Syech Saman memasukkan puisi dan lagu-lagu Islami yang bermakna dan memuji Allah SWT. Saat itu, para penari berlatih tarian di halaman masjid, agar tak ketinggalan waktu solat.

Sedangkan pertunjukannya sering diadakan di bawah Meunasah (sejenis panggung surau).

Tak lama setelah itu, Syech Saman juga menambahkan puisi tentang perjuangan, karena orang-orang Aceh terlibat dalam sebuah konflik perang. Puisi perjuangan ini bertujuan untuk menambah semangat juang rakyat Aceh.

Baca Juga : Tari Piring

Fungsi Tari Saman

fungsi tari saman

Meski pada awalnya tidak terlalu mendapat perhatian di wilayah-wilayah lain karena komunikasi dan informasi yang terbatas dari dunia luar, namun Saman terus digunakan dan berkembang di Aceh.

Semakin banyak diminati, Saman akhirnya berfungsi sebagai tarian reguler di hari-hari penting dalam budaya adat masyarakat Aceh dan terutama untuk memperingati hari keagamaan.

Dalam perkembangannya, Saman kemudian menjadi tarian yang biasa dimainkan pada acara-acara yang bersifat formal dan khusus, seperti kunjungan tamu antara distrik dan negara bagian, atau pembukaan festival dalam dan luar negeri.

Semakin dikenal luas, saat ini Saman bahkan sering dijadikan hiburan budaya dalam acara-acara rakyat biasa seperti pesta pernikahan, ulang tahun, pesta khitan, dll.

Gerakan Tari

gerakan tari saman

Di luar negeri, tarian saman lebih dikenal dengan nama “Tarian Seribu Tangan”. Hal ini karena gerakan dalam tari saman memang lebih didominasi oleh gerakan tangan yang sangat cepat.

Gerakan tangan yang rumit dan terkoordinasi di antara para penari membuat tarian ini sangat menarik untuk dilihat, dan telah memukau pemirsa domestik dan asing. Ada tiga nama dalam gerakan tangan Saman, yaitu:

  1. Cilok: gerakan ujung jari telunjuk yang seolah-olah mengambil sebuah benda ringan, seperti mengambil sejumput garam.
  2. Tepok: gerakan tangan dalam berbagai posisi, misalnya horizontal atau baling-baling.
  3. Cerkop: kedua tangan saling berhimpit dan searah.

Selain tangan, tarian Saman juga terdiri dari gerak tubuh dan kepala. Jika diperhatikan, gerakan yang dihasilkan mirip seperti gelombang, di mana beberapa penari memiringkan badan ke kiri atau kanan (singkeh), beberapa bergerak ke belakang / depan (lingang), dan beberapa yang lain membungkukan badan hingga 450 derajat (tilt).

Tarian biasanya dimulai dengan gerakan lambat dan semakin cepat seiring meningkatnya tempo secara bertahap dan akhirnya berhenti tiba-tiba. Gerakan yang dianggap sebagai puncak dari semua gerakan adalah ketika seluruh penari mengangkat tangan ke atas dan saling berpegangan tangan dengan teman-teman di sebelahnya.

Iringan Musik

tari saman

Ciri khas tarian Saman adalah tidak menggunakan alat musik. Sebagai gantinya, harmoni gerakan didasarkan pada suara tepukan dan narasi.

Selain suara tepuk tangan, tepuk dada, tepuk bahu dan paha, tarian saman juga memiliki satu orang yang membaca narasi dalam bahasa Arab dan Gayo.

Pembaca narasi haruslah memiliki suara yang kuat dan lantang, karena suara yang lemah tidak akan lebih kencang dari suara tepuk-tepuk penari. Berikut adalah 5 istilah narasi/nyanyian/syair dalam pertunjukan Tarian Saman:

  1. Rengum: disebut juga dengan pembukaan atau mukaddimah (dalam bahasa Islam). Rengum adalah tiruan bunyi (salam pembuka) dari pembaca narasi, yang akan langsung disambung dengan kalimat selanjutnya. Kalimat selanjutnya ini biasanya berisi pujian kepada seseorang atau sesuatu, tergantung acara.
  2. Dering: suara seluruh penari yang mengikuti ucapan pembaca narasi setelah rengum.
  3. Redet: sebuah syair singkat yang dinyanyikan salah satu penari di bagian tengah tari.
  4. Syek: syair yang dinyanyikan oleh pembaca narasi dengan suara lantang, tinggi, dan melengking, yang juga merupakan aba-aba perubahan gerak.
  5. Saur: lagu/syair yang dinyanyikan secara serempak oleh semua penari setelah dinyanyikan oleh pembaca narasi.

Baca Juga : Tari Kecak

Jumlah Penari

tari saman

Pada umumnya, jumlah penari dalam Tari Saman adalah 8-20 pemain pria saja/wanita saja, yang berlutut di lantai dan membuat berbagai jenis gerakan tubuh.

Tapi di beberapa acara tertentu, jumlah penari juga bisa lebih dari 20 orang. Beberapa informasi menyebutkan bahwa jumlah pemain haruslah ganjil, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Sheikh: adalah orang yang biasanya posisinya berada di tengah-tengah barisan, yaitu orang yang bertugas membaca narasi atau syair-syair.
  2. Lifters: adalah penari yang posisinya paling dekat dengan Sheikh, yang bertugas membantu Sheikh, baik dalam syair-syair yang dinyanyikan atau dalam gerakan.
  3. Penjepit: biasanya berada di nomor 2-7 dan nomor 11-16, yang bertugas mendukung gerakan sesuai dengan arahan Sheikh.
  4. Pendukung: adalah dua penari yang berada di bagian paling ujung (kiri dan kanan), yang bertugas menjaga posisi barisan agar tetap lurus dan utuh.

Kostum Tari Saman

kostum tari saman

Dalam tarian Saman, para penari mengenakan kostum/busana khas Aceh yang indah, yang terdiri dari tiga bagian berikut ini:

  1. Bagian Kepala

Di bagian kepala, para penari menggunakan sebuah ikat kepala berupa lipatan kain hitam yang awalnya berbentuk persegi panjang. Namun, seiring perkembangan, ikat kepala ini memiliki bahan dan bentuk beraneka macam, beberapa bahkan disulam dengan benang, seperti sunting kepies.

  1. Bagian Badan

Di bagian badan, para penari menggunakan baju kerawang atau baju tradisional dengan bordir Gayo, yang menggambarkan simbol alam dan moral.

Baju kerawang mempunyai warna dasar hitam dan disulam dengan benang berwarna hijau, merah, dan putih. Sedangkan sulaman untuk bagian pinggang adalah kekait dan kedawek. Dan bagian bawah adalah celana kain dengan kain sarung dilipat di bagian luar.

  1. Bagian Tangan

Tarian Saman yang menonjolkan gerakan tangan mengharuskan penari menggunakan sarung tangan berwarna sama, dan dilengkapi dengan topeng gelang (kain yang dililitkan pada kedua pergelangan tangan penari).

Baca Juga : Tari jaipong

Jenis-Jenis Tari Saman

jenis tari saman

Dari sejak kemunculannya, tercatat ada 5 jenis tarian Saman, yaitu:

  1. Saman Jejunten: Saman yang ditarikan saat malam hari, dengan posisi duduk di atas pohon kelapa yang telah ditebang.
  2. Saman Njik: Saman yang biasa dilakukan oleh para petani pada saat istirahat di sela-sela kegiatan menggirik padi.
  3. Saman Umah Sara (Ngerje): Saman yang digunakan sebagai hiburan pada pesta pernikahan, dengan penari laki-laki muda.
  4. Bejamu Besaman: Saman yang sering dilakukan pada hari-hari tertentu dan dengan menghadirkan tamu dari kampung lain. Bejamu Besaman dibagi menjadi 2: Saman Sara Ingi dan Saman Roa Lo Roa Ingi. Sara Ingi berarti semalam suntuk, yang biasa dilakukan pada hari-hari keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad dan hari raya Idul Adha atau Idul Fitri. Sedangkan Roa Lo Roa Ingi berarti dua hari dua malam, biasanya dilakukan untuk acara khusus diluar keagamaan, misalnya pesta pernikahan yang digelar 2 hari berturut-turut.
  5. Saman Bale Asam: Saman yang dilakukan dalam suatu perlombaan, biasanya saat siang hari dan di sebuah lapangan atau tempat terbuka lainnya.

Seni dan budaya telah menjadi bagian besar dari Indonesia sejak zaman kuno. Dan Tari Saman adalah salah satu warisan budaya paling menonjol yang diturunkan dari generasi ke generasi, tidak hanya membanggakan secara estetika, tapi juga memiliki kisah sejarah yang menawan dan perlu dilestarikan.

Tari Saman : Tarian Tradisional Paling Indah di Indonesia

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply