Tembang Macapat

 Tembang Macapat – Tembang Macapat adalah salah satu tembang atau lagu daerah yang paling populer di Pulau Jawa. Tembang atau puisi tradisional Jawa yang menceritakan tentang kehidupan manusia.

Folisofinya adalah menggambarkan tentang seorang manusia yang dari lahir, mulai belajar di masa kanak-kanak, saat sudah dewasa, sampai meninggal dunia.

Tembang ini juga mempunyai sebutan tembang cilik “kecil”. Tembang macapat sendiri memiliki karakteristik yang berbeda dari setiap jenis tembang tersebut. Ciri-ciri tersebut diantaranya adalah dari Guru Lagu, Guru Gatra dan Guru Wilangan.

Meskipun macapat telah disebut dengan puisi tradisional Jawa, namun ada beberapa budaya daerah seperti Sasak, Bali, Madura dan Sunda juga bisa kita temukan tembang macapat dengan nama yang lain.

Selain itu, macapat juga pernah ditemukan di dalam kebudayaan Banjarmasin dan Kebudayaan Palembang.

Pengertian Tembang Macapat

 Tembang Macapat

Macapat secara etimologi diartikan sebagai Maca Pat-Pat “Jawa” sedangkan dalam bahasa Indonesia diartikan dengan Membaca Empat-Empat.

Pengertian tersebut mengarah kepada cara membaca yang terjadi pada tiap empat Guru Wilangan.

Selain itu, ada juga yang mengartikan bahwasannya Pat adalah merujuk jumlah dari sandangan atau diakritis yang di dalam Aksara Jawa relevan dalam penembangan macapat tersebut.

Pengertian macapat yang lainnya bisa kita dapat di dalam Serat Mardawalangu karya dari Ranggawarsita. Menurut Serat Mardawalangu, macapat diartikan sebagai singkatan dari frasa Maca-Pat-Lagu atau “melakukan nada keempat”.

Disebut juga dengan frasa maca-ro-lagu, maca-sa-lagu, dan maca-tri-lagu. Dikatakan bahwa maca-sa-lagu menjadi yang tertua, konon diciptakan oleh para dewa yang diturunkan kepada Pandhita Walmiki serta diperbanuak oleh Sang Pujangga Istana Yogiswara dari Kediri.

Kategori yang sekarang disebut dengan Tembang Gedhe. Maca-pro juga termasuk type Tembang Gedhe yang dimana jumlah dari bait per pupuh bisa kurang dari empat, sementara jumlah dari suku kata dalam setiap baitnya tidak selalu sama serta diciptakan oleh Yogiswara.

Sementara itu, Maca-tri adalah menjadi kategori yang ketiga serta termasuk kedalam tembang tengahan.  Konon jenis tembang ini diciptakan oleh Resi Wiratmaka.

Pandita Istana Janggala serta disempurnakan oleh Pangeran Panjil Inokartapati dan saudaranya.

Yang terakhir adalah Maca-pat-lagu yang mewakili macapat atau disebut dengan tembang cilik. Tembang ini diciptakan oleh Kanjeng Sunan Bonang serta diturunkan kepada semua wali.

Sejarah Tembang Macapat

 Tembang Macapat

Tembang macapat mempunyai sejarah yang cukup rumit untuk diketahuinya.

Sedangkan secara umu sejarah macapat adalah ketika merujuk kepada pendapat dari Pegeud yang diketahui tercipta pada akhir masa dari Kerajaan Majapahit atau sejak hadirnya pengaruh dari Walisongo.

Hanya saja, pendapat dari Pegeud bisa dikatakan kalau hanya berlaku untuk tembang macapat di wilayah Jawa Tengah, sebab di wilayah Jawa Timur dan Bali, sejarah macapat sudah dimulai sejak sebelum datangnya Agama Islam.

Kajian Ilmiah telah menyebutkan bahwa ada dua pendapat yang berbeda mengenai keberadaan macapat ini. Jika pendapat yang pertama mengatakan bahwa macapat lebih tua daripada tembang gede.

Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan sebaliknya, kecuali pendapat itu ada pada pendapat yang lain tentang timbulnya macapat yang berdasarkan perkembangan bahasa.

Sedangkan yang berpendapat bahwa macapat lebih mudah dari Tembang Gede beranggapan bahwa tembang macapat timbul pada waktu pengaruh kebudayaan Hindu yang semin menipis serta rasa kebangsaan mulai tumbuh pada zaman Majapahit akhir.

Lahirnya macapat yang beruntung dengan kidung, muncullah tembang gede yang berbahasa Jawa pertengahan, dan berikut muncul lagi tembang yang berhasa Jawa Baru serta di zaman Sukarta awal, timbullah tembang gede kawi miring.

Bentuk gubahan berbahasa Jawa baru yang banyak digemari adalah tembang kidung dan macapat. Proses pemunculan bermula dari lahirnya karya-karya berbahasa Jawa pertengahan yang biasanya di sebut dengan kitab-kitab kidung.

Kemudian muncullah karya-karya berbahasa baru yang berupa kitab-kitab suluk serta kitab-kitab niti. Kitab suluk serta kitab nitu memberikan sumbangan yang sangatlah besar terhadap perkembangan macapat.

Contoh Tembang Macapat

Yang biasanya digunakan untuk acara ritual seperti misalkan tembang kidung rahayu yang ditembangkan untuk meminta keselamatan serta dijauhkan dari bencana musibah. Berikut ini adalah contoh syairnya :

Anak kidung rumeksa ing wengi…

Teguh hayu luputa ing lara…

Laputa bilahi kabeh…

Jin setan datan purun…

Paneluhan tan ana wani…

Miwah panggawe ala…

Gunane wong luput…

Geni atemahan tirta…

Maling adoh tan ana ngarah maring kami…

Tuju dudukm pan sirna… (Anomin, tanpa tahun : 1).

Tembang macapat ini sering kali dilakukan di beberapa acara seperti wungon yang ditarakan oleh orang Jawa, di waktu kelahiran bayi atau banyenan atau upacara jagong bayi di rumah orang yang baru melahirkan.

Tujuan dilakukan tembang ini adalah supaya bayi yang dilahirkan diberikan keselamatan serta kesehatan. Acara ini bahkan dilakukan hingga 35 hari “untuk sebagian orang saja”.

Yang digunakan untuk nembang biasanya dari serat ambiya, serat makukuhan, serat rama dan lain-lain.

Seiring dengan berjalannya waktu tembang ini digunakan sebagai sarana ritual yang pada akhirnya mucullah sebuah kesenian, yang disebut dengan Langen Mandrawanara dai keratin Kesultanan Yogyakarta serta Langendriyan di Surakarta.

Dengan menggunakan tembang macapat sebagai pengganti dialog tokoh wayang yang keluar di setiap adegannya. Lagu serta cengkok di nyanyian kedua genre seni tersebut berbeda dengan cengkok atau lagu macapat.

Pengertian Guru Lagu, Guru Gatra dan Guru Wilangan

 Tembang Macapat

  • Guru Lagu

Guru Lagu adalah persamaan bunyi sajak pada akhir kata dalam setiap larik “baris”.

  • Guru Gatra

Guru Gatra adalag banyaknya jumlah larik “baris” di dalam satu bait.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan adalah banyaknya jumlah suku kata “wanda” dalam setiap larik atau baris.

Untuk mempermudah membedakan guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang-tembang atau lagu macapat yang tadi, maka bisa dibuat tabel di bawah ini :

No Nama Tembang 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Maskumambang 12i 6a 8i 8a
2 Pucung 12u 6a 8i 12a
3 Megatruh 12u 8i 8u 8i 8o
4 Gambuh 7u 10u 12i 8u 8o
5 Mijil 10i 6o 10e 10i 6i 6u
6 Kinanthi 8u 8i 8a 8i 8a 8i
7 Asmaradana 8i 8a 8e/o 8a 7a 8u 8a
8 Durma 12a 7i 6a 7a 8i 5a 7i
9 Pangkur 8a 11i 8u 7a 12u 8a 8i
10 Sinom 8a 8i 8a 8i 7i 8u 7a 8i 12a
11 Dhandhanggula 10i 10a 8e 7u 9i 7a 6u 8a 12i 7a

Jenis Jenis Tembang Macapat

 Tembang Macapat

1. Tembang Maskumambang

Tembang maskumambang adalah menceritakan sebuah filosofi kehidupan manusia dari awal manusia diciptakan.

Sosok manusia yang masih berupa embrio di dalam kandungan ibu, yang masih belum di ketahui tentang jati dirinya dan belum juga diketahui apakah dia anak laki-laki atau anak perempuan.

Dari segi pandangan lain tembang macapat maskumambang berasal dari kata “mas” dan “kumambang”. Asal dari kata “mas” yang berasal dari kata premas yang berarti Punggawa dalam upacara Shaministis.

Kata “kumambang” berasal dari kata kambang dengan sisipan -um. Kambang sendiri berasal dari kata ambang yanga berarti terapung. Kambang juga berarti kamwang yang berarti kembang.

Ambang berkaitan juga dengan ambangse yang berarti menembang. Dengan demikian maskumambang bisa diartikan punggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis, mengucapkan mantra atau lafal dengan menembang disertai dengan sajian bunga.

Di dalam Serat Purwaukara, maskumambang adalah Ulam Toya yang berarti ikan air tawar, sehingga terkadang diisyaratkan dengan lukisan atau ikan yang berenang.

Watak dari maskumambang memiliki gambaran perasaan yang sedih atau kedukaan, serta suasana hati yang sedang dalam keadaan nelangsa.

Contoh dari Tembang Macapat Maskumambang “12i, 6a, 8i, 8o”.

Wong tan manut pitutur wong tuwo ugi…

Ha nemu duraka…

Ing donya tumekeng akhir…

Tan warung kasurang-surang…

Tembang maskumambang yang ada di atas menceritakan kehidupan seseorang yang tidak mematuhi nasehat dari orang tua, maka dia hidupnya akan menderita dan sengsara di dunia dan akhirat.

Berikut ini adalah penjelesan mengenai aturan dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang maskumambang :

  • Guru Lagu

Guru Lagu adalah i, a, i, o. artinya adalah akhir suku kata di setiap kalimat yang bervokal i, a, i, o.

  • Guru Gatra

Guru Gatra adalah 4. Artinya adalah tembang maskumambang memiliki 4 larik atau baris di setiap kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan adalah 12, 6, 8, 8. Artinya adalah kalimat yang pertama berjumlah 12 suku kata. Kalimat yang kedua berjumlah 6 suku kata. Di kalimat yang ketiga berjumlah 8 suku kata dan kalimat yang keempat berjumlah 8 suku kata.

2. Tembang Pocung atau Pucung

Kata pocung atau pucung berasal dari kata “pocong” yang menggambarkan ketika seseorang yang sudah meninggal yang dikafani atau sudah dipocongi sebelum di kuburkan.

Filosofi dari tembang macapat pocung menunjukkan tentang sebuah ritual saat melepaskan kepergian seseorang.

Dari segi padang yang lain ada juga menafsirkan pucung adalah biji kepayang “pengium edule”. Di dalam serat Purwaukara, tembang pucung mempunyai arti kudhuping gegodhongan “kuncup dedaunan” yang biasanya tampak segar.

Ucapan cung dalam kata tembang pucung lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya lucu, yang bisa menimbulkan kesegaran, misalkan kacung dan kucung.

Biasanya tembang macapat pucung digunakan untuk menceritakan lelucon atau berbagai nasehat. Pocung juga menceritakan tentang kebebasan dan tindakan sesuka hati, sehingga pucung biasanya digunakan dalam suasana yang santai.

Contoh Tembang Pocung 12u, 6a, 8i, 12a”

Ngelmu iku kelakone kanthi laku… (u)

Lekase lawan kas…(a)

Tegese nyantosani…(i)

Setya budya pengekesing dur angkara…(a)

Berikut ini penjelasan tentang aturan dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang macapat pocung.

  • Guru Lagu

Guru Lagu adalah u, a, i, a. Artinya adalah akhir dari suku kata pada setiap kalimat harus bervokal u, a, i, a.

  • Guru Gatra

Guru Gatra adalah 4. Artinya adalah tembang ini memiliki 4 larik kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan adalah 12, 6, 8, 12. Artinya adalah di setiap kalimat memiliki suku kata berjumlah 12, 6, 8, 12. Pada kalimat yang pertama berjumlah 12 suku kata, kalimat yang kedua berjumlah 6 suku kata. Kalimat yang ketiga berjumlah 8 suku kata. Dan kalimat yang keempat berjumlah 12 suku kata.

3. Tembang Gambuh

Kata Gambuh mempunyai arti menyambungkan. Filosofi tembang gambung menceritakan tentang perjalanan hidup dari seseorang yang sudah bertemu dengan pasangan hidup yang sudah cocok.

Keduanya di pertemukan untuk menjalin sebuat ikatan yang lebih kuat dan sakral yaitu dengan pernikahan. Sehingga keduanya akan memiliki kehidupan yang langgeng.

Dari segi pandang yang lainnya, tembang gambuh adalah terbiasa, ronggeng tahu serta nama tumbuhan.

Berkaitan dengan hal yang ini, tembang gambung mempunyai watak atau biasanya digunakan dalam suasana yang sudah pasti atau tidak ragu. Artinya adalah kesiapan pergerakan maju menuju medan yang sebenarnya.

Watak dari tembang gamabung menggambarkan tentang keramah tamahan dan tentang sebuah persahabatan. Tembang ini biasanya digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita tentang kehidupan.

Contoh Tembang Gambuh “7u, 10u, 12i, 8u, 8o”

Lan sembah sungkem ipun…

Maring Hyang Sukma elinga sireku…

Apan titah sadaya amung sademi…

Tan welangsira andhaku…

Kabeh kagungan Hyang Manon…

Berikut ini adalah penjelasan tentang aturan dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan.

  • Guru Lagu

Guru Lagu “u, u, i, u, o”. artinya adalah akhir dari suku kata di setiap kalimat harus bervokal “u, u, i, u, o”.

  • Guru Gatra

Guru Gatra “5”. Artinya adalah tembang gambuh yang memiliki 5 larik atau baris kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan “7, 10, 12, 8, 8”. Artinya adalah di kalimat yang pertama berjumlah 7 suku kata. Kalimat yang kedua berjumlah 10 suku kata. di kalimat yang ketiga berjumlah 12 suku kata. dan seterusnya.

4. Tembang Mijil

Tembang Mijil memiliki filosofi yang melambangkan bentuk sebuah benih atau biji yang lahir di dunia ini.

Mijil menjadi lambang dari awal mula dari perjalanan seseorang anak manusia di dunia yang penuh fana. Dia begitu lemah dan suci sehingga masih membutuhkan perlindungan.

Dari segi pandangan yang lain Mijil adalah keluar. Selain itu berhubungan juga dengan wijil yang memiliki arti yang sama dengan pintu atau lawang. Lawang juga sejenis tumbuh-tumbuhan yang aromanya wangi bunganya.

Watak tembang mijil adalah menggambarkan keterbukaan yang pas untuk mengeluarkan sebuah cerita-cerita, nasehat dan asrama.

Contoh Tembang Mijil “10i, 6o,10e, 10i, 6i, 6o” 

Dedalane guna lawan sekti…

Kudu andhap asor…

Wani ngalah dhuwur wekasane…

Tumungkala yen dipundukanni…

Ruruh sarwa wasis…

Samubarangipun…

Tembang mijil yang ada di atas menceritakan mengenai bagaimana menjadi sosok orang yang baik, ramah dan rendah hati.

Berikut ini adala penjelasan yang mengenai aturan guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang mijil.

  • Guru Lagu

Guru Lagu “i, o, e, o, i, i, o”. Artinya adalah di akhir suku kata dari setiap kalimat bervokal “i, o, e, o, i, i, o”.

  • Guru Gatra

Guru Gatra “6”. Artinya adalah tembang macapat mijil memiliki 6 larik atau baris kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan “10, 6, 10, 10, 6, 6”. Artinya adalah di kalimat yang pertama berjumlah 10 suku kata. di kalimat yang kedua berjumlah 6 suku kata. di kalimat yang ketiga berjumlah 10 suku kata dan seterusnya.

  1. Tembang Kinanthi

Kinanthi berasal dari kata “kanthi” berarti menuntun atau menggandeng. Tembang macapat khinanti mempunyai filosofi hidup yang mengisahkan sebuah kehidupan seorang anak yang masih membutuhkan tuntunan supaya bisa menjadi orang yang lebih baik di dunia ini.

Seorang anak yang tidak hanya membutuhkan tuntunan untuk belajar berjalan, akan tetapi tuntunan harus secara penuh. Tuntunan itu meliputi berbagai adat dan norma yang berlaku, supaya bisa dipatuhi serta dijalankan dengan baik.

Watak dari tembang kinanthi adalah menggambarkan sebuah perasaan yang senang, nasehat, kasih sayang dan teladan yang baik.

Watk dari tembang kinanthi adalah menggambarkan sebuah perasaan yang senang, kasih sayang, nasehat dan teladan yang baik. Tembang kinanthi digunakan juga untuk menyampaikan suatu kisah atau cerita yang berisi tentang kasih sayang dan nasehat yang baik.

Contoh Tembang Kinanthi “ 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i”

Kukusing dupa kumelun…

Ngeningken tyas kang apekik…

Kawengku sagung jajahan…

Nanging saget angikipi…

Sang resi kanake puta…

Kang anjog saking wiyati…

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aturan guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang kinanthi.

  • Guru Lagu

Guru Lagu “u, i, a, i, a, i”. Artinya adalah di akhir suku kata dari setiap kalimat bervokal u, i, a, i, a, i.

  • Guru Gatra

Guru Gatra “6”. Artinya adalah tembang macapat kinanthi memiliki 6 larik atu baris di setiap kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan “8, 8, 8, 8, 8, 8,”. Artinya adalah di kalimat yang pertama berjumlah 8 suku kata. kalimat yang kedua berjumlah 8 suku kata dan seterusnya.

  1. Tembang Dhandhanggula

Kata dai Dhandhanggula berasal dari kata “dandang” dan “gula” yang artinya adalah sesuatu yang manis. Folisofi tembang macapat dhandanggula menggambarkan tentang kehidupan pasangan baru yang berbahagia karena sudah berhasil mendapatkan pasangan yang dicita-citakan.

Kehidupan yang manis adalah suatu yang dirasakan bersama keluarga yang terasa begitu membahagiakan. Dari segi pandangan yang lain tembang dhandhanggula di ambil dari Raja Kediri yang bernama Prabu Dhandhanggendis yang terkenal setela Raja Prabu Jayabaya.

Di dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula berarti ngenjeng-ajeng kasean yang mempunyai arti yang menanti-nati sebuah kebaikan.

Watak dari tembang dhandhanggula adalah menggambarkan sifat yang lebih universal, luwes dan bisa merasuk ke dalam hati.

Tembang dhandhanggula bisa digunakan untuk menuturkan sebuah kisah dalam berbagai hal serta di kondisi apapun.

Contoh dari Tembang Dhandhanggula “10i, 10a, 8e, 7u, 9i, 7a, 6u, 8a, 12i, 7a”.

Sinengkutung sagunging prawali…

Janma tuhu sekti mandra guna…

Wali sanga nggeh arane…

Sunan ampel kang kaping kalih…

Tri Sunan Bonang ika…

Sunan Giri catur…

Syarifudin Sunan Derajat…

Angelenggahi urutan gangsal sayekti…

Iku ta warnanira…

Berikut ini adalah penjelan yang mengenai aturan dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang macapat dhandhanggula.

  • Guru Lagu

Guru Lagu “i, a, e, u, i, a, u, a, i,a”. Artinya adalah akhir dari suku kata di setiap kalimat harus bervokal “i, a, e, u, i, a, u, a, i,a”.

  • Guru Gatra

Guru Gatra “10”. Artinya adalah tembang dhandhanggula yang memiliki 10 larik atau baris kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan “10, 10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, 7”. Artinya adalah di kalimat yang pertama berjumlah 10 suku kata. Kalimat yang kedua berjumlah 10 suku kata. Kalimat yang ketiga berjumlah 8 suku kata. kalimat yang ke empat berjumlah 7 suku kata dan seterusnya.

  1. Tembang Pangkur

Tembang pangkur berasal dari kata “mungkur” yang mempunyai arti meninggalkan atau pergi. Tembang pangkur mempunyai filosofi yang menggambarkan kehidupan yang seharusnya bisa menjauhi berbagai hawa nafsu serta angkara murka.

Di saat mendapatkan sesuatu yang buruk hendaknya pergi untuk menjauhinya serta meninggalkan yang buruk. Tembang macapat Pangkur menceritakan tentang seseorang yang sudah siap untuk meninggalkan segala sesuatu yang sifatnya duniawi serta mencoba mendekatkan diri  kepada Allah.

Dari segi pandang yang lain, tembang pangkur berasal dari kata pungguwa di dalam kalangan kependetaan seperti tercantum di dalam piagam-piagam Bahasa Jawa Kuno.

Di dalam Serat Purwaukara, tembang pangkur mempunyai ekor atau buntut. Karena tembang pangkur terkadang diberi sasmita atau isyarat tut pungkur yang berarti mengekor, tut wuntat dan tut wuri berari mengikuti.

Watak dari tembang pangkur menggambarkan karakter yang kuat, gagah, perkasa serta hati yang besar. Tembang pangkur juga cocok digunakan untuk mengisahkan kisah pahlawan, peperangan dan perjuangan.

Contoh dari Tembang Pangkur “8a, 11i, 8u, 7a, 8i, 5a, 7i”

Muwah ing sabarang karya…

Ingprakara gedhe kelawan cilik…

Papat iku datan kantun…

Kanggo sadina-dina…

Lan ing wengi Negara miwah ing dusun…

Kabeh kang padha ambegan…

Papat iku nora lali…

Berikut ini adalah penjelasan yang mengenai aturan guru lagu, guru gatra, dan guru wilangan dari tembang macapat pangkur.

  • Guru Lagu

Guru Lagu “a, i, u, a, i, a, i”. Artinya adalah di akhir suku kata dari setiap kalimat harus bervokal “a, i, u, a, i, a, i”.

  • Guru Gatra

Guru Gatra “7”. Artinya adalah tembang pangkur memiliki 7 larik atau baris kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan “8, 11. 8, 7, 8, 5, 7”. Artinya adalah kalimat yang pertama berjumlah 8 suku kata. kalimat yang kedua berjumlah 11 suku kata, dan seterusnya.

  1. Tembang Durma

Tembang Durma mempunyai arti pemberian. Tembang macapat durma mengandung filosofi tentang kehidupan yang suatu saat bisa mengalami selisihan, duka serta kekurangan akan sesuatu.

Tembang macapat durma mengajarkan supaya dalam hidup manusia ini bisa saling melengkapi dan meberi satu sama lain, sehingga kehidupan bisa seimbang.

Saling tolong menolong kepada siapa saja secara hati yang iklas merupakan nilai kehidupan yang harus selalu dijaga.

Dari segi lain tembang durma berasal dari kata Jawa klasih yang mempunyai arti harimau, dengan begitu tembang durma mempunyai watak atu biasanya digunakan dalam suasana yang seram.

Bisa dikatakan tembang macapat durma seperti lagu yang digunakan pada saat akan maju perang, bisa disimpulkan tembang macapat durma juga mempunyai watak yang keras, tegas dan penuh dengan amarah yang bergejolak.

Contoh dari Tembang Durma “ 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i”

Ayo kanca gugur gunung bebarengan…

Aja ana kang mangkir…

Amrih kasembadan…

Tujuan pembangunan…

Pager apik dalan resik…

Latar gumelar…

Wisma asri kaeksi…

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aturan guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang macapat durma.

  • Guru Lagu

Guru Lagu “a, i, a, a, i, a, i”. Artinya adalah di akhir suku kata di setiap kalimat yang bervokal “a, i, a, a, i, a, i”.

  • Guru Gatra

Guru Gatra “7”. Artinya adalah tembang durma memiliki 7 larik atau baris kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan “12, 7, 6, 7, 8, 5, 7”. Artinya adalah di kalimat yang pertama berjumlah 12 suku kata. Di kalimat yang kedua berjumlah 7 suku kata, dan seterusnya.

  1. Tembang Megatruh

Kata Megatruh berasal dari kata “megat” dan “roh”. Artinya adalah putusnya roh atau sudah terlepas roh dari tubuh manusia. Filosofi yang terkandung di tembang megatruh adalah tentang perjalanan kehidupan manusia yang sudah selesai di dunia ini.

Dari segi pandang yang lain megatruh berasal dari awalan “am”, pegat dan ruh. Di dalam serat Purwaukara, megatruh memiliki arti mbucal kan sarwa ala “membuang apa-apa yang bersifat jelek”.

Kata pegat ada hubungannya dengan pegat yang berarti istana atau tempat tinggal. Pamegat atau pemegat berarti jabatan. Samgat atau samget berati jabatan yang ahli atau guru agama.

Bisa disimpulkan tembang megatruh memiliki arti petugas yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan yang jahat. Watak megatruh adalah tentang kedukaan dan kesedihan. Biasanya menceritakan mengenai rasa putus asa dan kehilangan harapa.

Contoh dari Tembang Megatruh “12u, 8i, 8u, 8i, 8o”

Kabeh iku mung manungso kang pinujul…

Marga duwe lahir lan batin…

Jroning urip iku mau…

Isi ati klawan budi…

Iku pirantine ewong…

Berikut ini penjelasan mengenai aturan guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang megatruh.

  • Guru Lagu

Guru Lagu adalah u, i, u, i, o. artinya adalah akhir suku kata dari setiap kalimatnya harus bervokal u, i, u, i, o.

  • Guru Gatra

Gutu Gatra “5”. Tembang megatruh memiliki 5 larik atau baris kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan “12, 8, 8, 8, 8”. Artinya adalah kalimat yang pertama berjumlah 12 suku kata. kalimat yang kedua berjumlah 8 suku kata. kalimat yang ketiga berjumlah 8 suku saka dan seterusnya.

  1. Tembang Sinom

Tembang Asmaradana berasal dari kata “asmara” yang berarti cinta kasih. Filosofi tembang asmarandana adalah mengenai perjalanan hidup manusi yang sudah waktunya untuk memadu cinta kasih dengan pasangan hidup.

Dari segi pandangan lain Asmaradana berasal dari kata dhana dan asmara. Dhana berasal dari kata dahana yang artinya adalah api. Sedangkna asmara adalah nama dewa percintaan.

Asmaradana berkaitan dengan kejadian hangusnya Dewa Asmara yang disebabkan oleh sorotan mata ketiga dari Dewa Siwa seperti yang dituliskan dalam Kakawin Smaradhana karya dari Mpu Darmaja.

Dalam Serat Purwaukara Smaradhana diberi arti remen ing paweweh, artinya adalah suka memberi. Watak dari Asmarandana adalah menggambarkan cinta kasih, asmara serta piluh atau rasa sedih.

Contoh Tembang Asmarandana “8i, 8a, 8e, 7a, 8a, 8u, 8a”

Lumrah tumrap wong ngaurip…

Dumunung sadhengah papan…

Tan ngrasa cukup butuhe…

Ngenteni rejeki tiba…

Lamun tanpa makarya…

Sengara bisa kepethuk…

Kang mengkono bundhelana…

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aturan dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang asmarandana.

  • Guru Lagu

Guru Lagu adalah i, a, e, a, a, u, a. Artinya adalah akhir suku kata dari setiap kalimat yang bervokal i, a, e, a, a, u, a.

  • Guru Gatra

Guru Gatra adalah 7. Artinya adalah tembang asmarandana memiliki 7 larik atau baris kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan 8, 8, 8, 7, 8, 8, 8. Artinya adalah kalimat yang pertama berjumlah 8 suku kata. kalimat yang kedua berjumlah 8 suku kata. kalimat yang ketiga berjumlah 8 suku kata. kalimat yang ke empat berjumlah 7 suku kata. dan seterusnya.

Tembang macapat hingga sekarang masih sangat populer. Di sekolah juga masih diajarkan bahkan ada juga diperlombakan. Hal ini sesuatu yang sangat baik untuk menjaga dan kita lestikan bersama-bersama.

Demikian pengertian tembang macapat secara lengkap, kurang lebihnya mohon maaf. Apabila ada kesalahan kata mohon di maafakan. Mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

  1. Tembang Asmaradana

Tembang Asmaradana berasal dari kata “asmara” yang berarti cinta kasih. Filosofi tembang asmarandana adalah mengenai perjalanan hidup manusi yang sudah waktunya untuk memadu cinta kasih dengan pasangan hidup.

Dari segi pandangan lain Asmaradana berasal dari kata dhana dan asmara. Dhana berasal dari kata dahana yang artinya adalah api. Sedangkna asmara adalah nama dewa percintaan.

Asmaradana berkaitan dengan kejadian hangusnya Dewa Asmara yang disebabkan oleh sorotan mata ketiga dari Dewa Siwa seperti yang dituliskan dalam Kakawin Smaradhana karya dari Mpu Darmaja.

Dalam Serat Purwaukara Smaradhana diberi arti remen ing paweweh, artinya adalah suka memberi. Watak dari Asmarandana adalah menggambarkan cinta kasih, asmara serta piluh atau rasa sedih.

Contoh Tembang Asmarandana “8i, 8a, 8e, 7a, 8a, 8u, 8a”

Lumrah tumrap wong ngaurip…

Dumunung sadhengah papan…

Tan ngrasa cukup butuhe…

Ngenteni rejeki tiba…

Lamun tanpa makarya…

Sengara bisa kepethuk…

Kang mengkono bundhelana…

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aturan dari guru lagu, guru gatra dan guru wilangan dari tembang asmarandana.

  • Guru Lagu

Guru Lagu adalah i, a, e, a, a, u, a. Artinya adalah akhir suku kata dari setiap kalimat yang bervokal i, a, e, a, a, u, a.

  • Guru Gatra

Guru Gatra adalah 7. Artinya adalah tembang asmarandana memiliki 7 larik atau baris kalimat.

  • Guru Wilangan

Guru Wilangan 8, 8, 8, 7, 8, 8, 8. Artinya adalah kalimat yang pertama berjumlah 8 suku kata. kalimat yang kedua berjumlah 8 suku kata. kalimat yang ketiga berjumlah 8 suku kata. kalimat yang ke empat berjumlah 7 suku kata. dan seterusnya.

Tembang macapat hingga sekarang masih sangat populer. Di sekolah juga masih diajarkan bahkan ada juga diperlombakan. Hal ini sesuatu yang sangat baik untuk menjaga dan kita lestikan bersama-bersama.

Demikian pengertian tembang macapat secara lengkap, kurang lebihnya mohon maaf. Apabila ada kesalahan kata mohon di maafakan. Mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Untuk artikel lebih banyak baca juga

 

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply