Wayang Semar

Wayang Semar – Tokoh Wayang yang mempunyai karakter fisik yang lucu, bahkan bisa dibilang cukuplah aneh. Tetapi, di dalam cerita pewayangan, ternyata Tokoh Semar mendapatkan posisi yang terhotmat di dalam karakternya.

Semar adalah seorang nasihat dan sekaligus pengasuh para ksatrian, selain itu, karakter dari Semar adalah tokoh dengan karakter yang jujur, sederhana, tulus, cerdas, cerdik, berpengetahuan dan memiliki mata batin yang sangat tajam.

Pengertian Wayang Semar

Wayang Semar

Tokoh Semar selalu hadir di setiap cerita pewayangan, apapun judul serta episodenya. Di selalu ada untuk menghibur. Tokoh Semar digambarkan mempunyai tubuh yang gemuk serta tidak jelas laki-laki atau perempuan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah.

Di kalangan masyarakat Jawa, Tokoh dari Wayang Semar selain sebagai fakta historis juga menggambarkan arti yang simbolis serta mitologis tentang ke Esaan.

Hal ini adalah simbol dari pengejawatahan ekspresi, pengertian serta persepsi tentang ketuhanan. Menurut sejarawan Bapak Sobirin, dahulu Sang Hyang Wenang menciptakan Hang Tigo yang berupa telur.

Cangkangnya menjadi Togog, serta putihnya menjadikan Semar, sedangkan kuningannya menjadi Batara Guru.

Pada umumnya, masyarakat mengenal Semar adalah putra dari Sang Hyang Wisesa yang dimana memiliki anugerah Mustika Manik Astagina dan delapan daya.

Yang dimaksud dengan delapan daya adalah tidak pernah lapar, tidak pernah mengantuk, tidak pernah sedih, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah sakit, tidak pernah capek, tidak pernah kedinginan dan tidak pernah kepanasan.

Sejarah Wayang Semar

Wayang Semar

Sejarawan Bapak Prof. Dr. Slamet Muljana mengatakan bahwa Tokoh Semar yang pertama kali ditemukan di dalam sebuah karya sastra pada zaman Kerajaan Majahit yang berjudul Sudamala.

Sudamala sendiri selain dalam sebuah bentuk kakawin, dan dipat sebagai relief di dalam Candi Sukug yang berangka 1439 Masehi.

Tokoh Semar ini adalah abdi atau hamba tokoh utama dalam kisah Sahadewa yang merupakan sosok dari keluarga Pandawa.

Tentunya , Semar bukan hanyalah sebagai pengikut semata, melainkan juga sebagai penghibur lara dalam mencairkan suasana yang sedang tegang.

Pada saat kerajaan-kerajaan Islam yang mulai berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dimulai digunakan sebagai media untuk dakwah.

Salah satunya adalah kisah dari Mahabarata dimana kisah tersebut sangat melekat di benak masyarakat Pulau Jawa.

Salah satu ulama yang menggunakan wayang sebagai media dakwah adalah Sunan Kanjeng Kalijaga. Dalam dakwanya, semar masih tetap ada, bahkan lebih didominasi dibandingkan dengan kisah Sudamala.

Kemudian di era selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat, di mana para Pujangga Jawa mulai mengisahkan tentang semar yang bukan sebaik rakyat jelata saja, melainkan jelmaan dari Batara Ismaya adalah kakaknya Batara Gurus atau rajanya Para Dewa.

Banyak sekali versi yang mengkisahkan asal usul Semar, namun sebagian besar mengatakan bahwa semar merupakan jelmaan dari Dewa.

Seperti yang sudah dituliskan dalam naskah dari Serat Kanda yang mengisahkan penguasaan kayangan adalah Sang Hyang Nurrasa yang memiliki dua putra yang bernama Sang Hyang Wenang dan Sanghyang Tunggal.

Karena Sang Hayang Tunggal paras wajahnya jelek, maka tahta kahyangan turun ke Sang Hyang Wenang.

Kemudian, tahta diwariskan lagi ke putranya yang bernama Batara Guru sampai Sang Hyang Tunggal menjadi pengasuh para ksatriaan turunan Batara Guru yang bernama Semar.

Siapa yang tak kenal dengan Semar ? Tokoh yang selalu muncul di setiap kisah pewayangan, apapun itu kondisi dan apapun itu judulnya, semar selalu ada.

Lalu siapa Semar sebenarnya ? di kalangan masyarakat Jawa, semar ternya tokoh wayang yang bukan hanya sebagi fakta hitorisnya saja, melainkan lebih ke mitologi dan simbolis tentang ke Esa-an.

Di mana adalah simbol dari pengertian, pengejawantahan ekspresi, persepsi tentang ke Tuhanan yang lebih menuju konsep spiritual.

Bisa dikatakan bahwa orang Jawa sejak pada zaman prasejarah adalah masyarakat yang religius dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Filosofi Wayang Semar

Wayang Semar

Di setiap pementasan pewayangan, Semar selalu melontarkan kata-kaya yang bijak dan sifatnya lebih umum. Sehingga kata-kata bijak pada Semar bisa kita terima oleh siapapun dan kapanpun itu. Berikut ini ada beberapa kata-kat bijak atau filosofi dari Semar :

  • Sura Dira Jayaningrat, Leburing Dening Pangastuti

Untuk filosofi Semar yang ini adalah semua sifat keras hati, sifat picik dan angkara murka di dalam dirinya hanyalah bisa dikalahkan dengan sikap sabar, lembut hati dan bijaksana.

Di ibaratkan api yang tidak bisa dipadamkan dengan api, perlu dengan air untuk memadamkannya. Begitu juga dengan sifatnya yang buruk kita, kita harus rendam dengan sifat baik kita, dengan cara rendah hati, sabar dan kebijaksanaan.

  • Urip Iku Urup

Filosofi semar mempunyai arti dalam Bahasa Indonesia adalah hidup itu menghidupi. Hidup manusia itu harus bisa memberikan manfaat kepada semua orang di sekitar lingkungan kita.

Disinilah arti mengapa baiknya hidup itu untuk menghidupi. Supaya hidup kita lebih berarti, maka kita harus bermanfaat bagi semua orang di lingkungan sekitar kita.

  • Datan Sering Lamun Ketaman, Datang Susah Lamun Kelangan

Kata bijak dari Semar yang satu ini mempunyai makna, bahwa janganlah terlalu bersedih pada saat mengalami musibah yang menimpa kepada kita dan janganlah sedih jika kita sedang kehilangan sesuatu.

Karena semua yang ada di dunia ini akan kembali kepadanya, ini adalah hakikat hidup yang sebenarnya.

Ada juga filosofi Semar yang dilontarkan pada setiap mengawali dialognya “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito dan langgeng…” yang mempunyai arti diam, berusaha dan bergerak, makan, walaupun itu sedikit, dan abadi.

Maksudnya dari kata-kata yang bijak Semar itu kurang lebih yaitu daripada diam “mbergegeg”, lebih baik berusaha untuk dilepas “ugeg-ugeg”, mecari makanan “hmel-hmel”, walaupun hasilnya sedikit “sak ndulit” tapi akan terasa abadi “langgeng”.

Beberapa filosofi Semar yang ada di atas sering kali dilontarkan dalam pementasan wayang, biasanya pada saat akhir atau penutupan cerita dan digunakan sebagai arti pesan moral dan makna kehidupan.

Sifat, Watak dan Karakter dari Wayang Semar

Wayang Semar

Tokoh Wayang Semar digambarkan mempunyai karakter fisik yang lucu dan dibilang cukup aneh. Karena mempunyai karakter fisik yang sangatlah unik, hal inilah yang akan dijadikan simbol dari kehidupan oleh Masyarakat Jawa.

Namun di dalam cerita pewayangannya, Tokoh Wayang Semar mendapatkan peran yang terhormat di dalam karakternya.

Semar adalah seorang penasihat dan sekaligus pengasuh para ksatriaan. Watak Tokoh Semar didalam cerita pewayangan yaitu tulus, jujur, cerdik, cerdas, berpengetahuan dan memiliki mata batin yang amat tajam.

Semar juga memiliki wajah yang selalu tersenyum, namun di sisi yang lain Semar juga mempunyai payudara yang layaknya seorang perempuan.

Hal ini menjadikan simbol sebagai pria dan seabagai wanita. Selain itu Semar adalah penjelmaan dari Dewan namun hidup sebagai rakyat jelanta, hal ini diartikan sebagai simbol atas dan bawahan.

Di dalam cerita pewayangan, semar mepurakan putra dari Sang Hyang Wisesa, dimana Hyang diberikan anugerah yang berupa benda mustika manik astagina, yang memiliki 8 daya yaitu :

  • Tidak pernah mengantuk
  • Tidak pernah lapar
  • Tidak pernah sedih
  • Tidak pernah jatuh cinta
  • Tidak pernah menderita sakit
  • Tidak pernah merasakan capek
  • Tidak pernah merasa kedinginan
  • Tidak pernah merasa kepanasan

Wayang Semar di Nusantara

Wayang Semar

Pada zaman kerajaan-kerajaan Islam yang mulai berkembang di Pulau Jawa, pewayangannya pun mulai digunakan sebagai media dakwah.

Salah satunya adalah kisah Mahabarata yang dimana kisah tersebut sudah sangat populer di kalangan masyarakat Jawa.

Salah satu Ulama yang memanfaatkan wayang yang sebagai media untuk berdakwah adalah Sunan Kalijaga. Di dalam dakwahnya, Semar selalu dihadirkan dan bahkan lebih dominan dibandingkan dengan kisa Sudamala.

Kemudian pada era selanjutnya kepopuleran Semar tambah semakin meningkat, para pujangga Jawa mulai mengkisahkan Semar yang bukan sebagai rakyat jelanta saja, melainkan juga sebagai jelmaan Batara Ismaya yang merupakan kakak dari Batara Guru alias raja Para Dewa.

Pada umumnya, masyarakat Jawa mengenal Semar yang sebagai Putra dari Sang Hyang Wisesa yang dimana mempunyai anugerah Mustika Ratu Manik Astagina serta delapan daya.

Delapan daya itu diantaranya adalah tidak pernah lapar, tidak pernah mengantuk, tidak pernah sedih, tidak pernah jatuh cinta, tidak pernah sakit, tidak pernah capek, tidak pernah kedinginan dan tidak pernah kepanasan.

Pasangan Punakawan

Wayang Semar

Punakawan sudah pasti muncul di dalam kisah pewayangan dari Provinsi Jawa Tengah. Semar selalu hadir dan ditemani oleh anak-anaknya yang bernama Petruk, Gareng dan Bagong.

Namun tahuka kalian, bahwa sesungguhnya Petruk, Gareng dan Bagong bukanlah anak kadung Semar. Gareng adalah putra dari seorang pendeta yang mengalami kutukan serta sudah dibebaskan oleh semar.

Sedangkan Petruk adalah putra dari seorang Raja bangsawan yang bernama Gandharwa dan Bogong tercipta dari bayangan Semar itu senditi karena sabda sakti dari Resi Manumasa.

Pewayangan Sunda mengisahkan urutan anak Semar adalah Dawala, Cepot dan Gareng. Sementara di dalam kisah pewayangan di Provinsi Jawa Timur, Semar hanyalah didampingi oleh satu orang anak saja yang bernama Bagong dan memiliki anak yang bernama Besut.

Keistimewaan Wayang Semar

Wayang Semar

Semar adalah salah satu seorang Tokoh wayang ciptaan dari pujangga lokal. Meskipun statusnya yang hanyalah sebagai hamba atau abdi, namun budi pekertinya dan keluhurannya sama dengan Prabu Kresna yang di dalam kisah Mahabarata.

Di dalam perang Bharatayudha yang versi aslinya, penasehat dari pihak Pandawa adalah seorang Krisna seorang. Namun di dalam kisah pewayangannya, jumlahnya menjadi dua serta yang satunya adalah Semar.

Pada umumnya, di dalam pementasan wayang yang mengisahkan tentang Ramayana, pada dalang juga menghadirkan Semar yang sebagai seorang pengasuh keluarga Sri Rama atau Sugriwa.

Sehingga tokoh wayang Semar selalu hadir di setiap acara pementasan wayang, tidak peduli dengan teman dan judul yang hendak diceritakan.

Di dalam kisah wayang, Semar ditampilakn dengan peran seorang pengasuh dari golongan ksatriaan, sedang tokoh Togog berperan sebagai pengasuh para raksasa.

Hal ini bisa disimpulkan bahwa anak asuh dari Semar selalu mengalahkan anak asuh dari Togog. Semua ini sebenarnya hanyalah simbol belaka. Semar ini menjadi gambar dari perpaduan antara rakyat yang kecil dengan Dewa Kahyangan.

Kesaktian Wayang Semar

Wayang Semar

Sebagaimana penjelmaan dari siapa saja, Semar dikenal juga sangatlah bijaksana dan arif. Semar bisa bersosialisasi dengan siapa saja, baik dari kalangan atas ataupun kalangan bawah. Selain itu juga tanggap terhadap perubahan zaman.

Namun jika menumukan ketidakadilan serta tindakannya yang sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegasnya melakukan tindakan persuasif, tidakan preventif dan tindakan represif.

Bisa dikatakan kalau semar ini selalu rela melakukan apa saja demi amanatnya yang diterima dari Sang Maha Kuasa. Walau semer hanyalah rakyat biasa dan menjadi Punakawan diantara para ksatriaan dan raja, tetapi semar mempunyai kesaktiann yang melebihi Batara Guru yang rajanya para dewa.

Semar selalu bisa menghadapi kesaktian Batara Guru yang selalu mengganggu Pandawa Lima pada saat dalam asuhan semar.

Kesaktian semar yang sangat ampuh dan unik adalah “Kentut”. Kentut berasal dari dalam diri semar sendiri, dimana senjata tersebut sifatnya dari pribadinya Semar. Senjata ini tidak digunakan untuk membunuh, melainkan untuk menyadarkan seseorang.

Suatu kisah, semar menggunakan senjata kentutnya pada saat melawan resi yang terkalahkan oleh Pandawa Lima.

Dimana pertarungan ini berakhir dengan tidak ada yang kalah serta tidak ada yang menang dan pada akhirnya semuanya sadar kembali dalam perwujudan semula.

Semar sendiri mengeluarkan senjata kentutnya ini ketika benar-benar dalam keadaan yang mendesak dan tidak bisa lagi mengatasi masalah dengan senjata yang lain.

Kesaktian Semar Menurut Agama Islam

Wayang Semar

Semar diketahui sebagai ilmu alam ghaib yang digunakan untuk memikat seorang baik itu seorang pria maupun seorang wanita, supaya bisa tertarik kepada pengguna semar mesem.

Dengan menggunakan semar mesem asli dipercaya untuk memikat seorang wanita yang sekatika akan jatuh cinta serta tertarik kepadanya.

Oleh karena itu semar sangatlah populer di Indonesia terutama di Pulau Jawa, bahkan sekarang populer sampai di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

Banyak sekalai versi berbeda tentang bagaimana menggunakan semar mesem untuk memikat sesorang. Ada yang menggunakan mantra ajian bacaan doa jawa.

Ritual seperti puasa sampai perantara aji-aji benda pusaka seperti keris serta ada sebagian yang diperjual belikan di online dengan harga yang murah dan ada juga harganya yang mahal.

Lalu bagaimana teknit memikat seseorang memakai semar mesem menurut agama islam ? islam mengajarkan supaya seseorang hanyalah meminta kepada Allah SWT, seperti yang sering kali kita baca pada surat Al-Fatihah ayat 5 :

Yang artinya adalah (Hanyalah kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan).

Jadi seandainya Anda tertarik dan jatuh cinta kepada seseorang, alangkah baikanya untuk langsung berdoa kepada Allah SWT.

Jika Anda tidak bisa berdoa menggunakan bahasa arab maka berdoalah menggunakan bahasa Indonesia atau bisa juga bahasa Jawa dengan khusyuk dan tenang.

Yang pastinya janganlah melakukan nazar, yang mana seperti “jika dia bisa menjadi istriku maka aku akan berbuat baik seperti sedekah, puasa dan lain-lain”.

Hal ini adalah sifat bakhil yang dimana hanya mau melakukan kebaikan dengan syarat tertentu padahal amalan yang dilakukan untuk dirinya sendiri, maka alangkah baiknya jika melakukan sebuah kebaik, kemudian meminta dan selalu berdoa kepada Allah SWT.

Asal Usul Dan Kelahiran Semar

Wayang Semar

Ada banyak versi, yang menjelaskan tentang asal-usul tokoh semar. Ada banyak orang yang mengutip tokoh semar merupakan jelmaan dari Dewa. Diantaranya adalah :

  • Naskah Serat Kanda

Asal usul wayang semar dalam serat kanda diceritakan. Ada yang memerintah kayangan yang bernama Sanghyang Nurrasa yang mempunyai dua anak putra dengan nama Sanghyang Wenang dan Sanghyang Tunggal.

Tahta kayangan diwariskan untuk Sanghyang Wenang, karena Sanghyang Tunggal mempunyai wajah yang buruk. Kemudian tahta kayangan diwariskan kepada putra Sanghyang Wenang yang bernama Batara Guru.

Tokoh semar merupakan Sanghyang Tunggal, pada akhirnya menjadi pembimbing para ksatriaan dari Batara Guru.

  • Naskah Pramayoga

Dalam naskah pramayoga diceritakan bahwa, Sanghyang Tunggal anak dari Sanghyang Wenang. Selanjutnya Sanghyang Tunggal yang menikah dengan Dewi Rakti, dia merupakan seorang putri dari raja jin kepiting yang bernama Sanghyang Yuyut.

Dari pernikahan Sanghyang Tunggal dan Dewi Rakti, lahirnya yang disebut dengan mustika, wujudnya telur yang berubah menjadi dua orang anak laki-laki.

Kemudian kedua anak ini yang bernama Manikmaya yang kulitnya putih dan Ismaya yang kulitnya hitam. Sanghyang Tunggal tidak yakin untuk mengirimkan tahta kayangan yang diwariskan ke Manik Maya dan kemudian disampaikan ke Batra Guru.

Sementara Ismaya berhak atas kedudukannya sebagai penguasa alam “Sunyaruri” tempat tinggal golongan yang baik.

Ismaya juga mempunyai putra sulung yang bernama Batara Wungkuham. Kemudian Wungkuham mempunyai anak bulat, yang bernama Jangga Smarasanta yang disingkat dengan Semar.

Cucu Ismayah lah, yang menjadikan pengasuh dari Batra Guru dengan nama Resi Manumanasa yang kemudian dikelolah hingga anak cucunya. Kesimpulannya adalah Semar cucu dari Ismaya.

  • Naskah Purwacarita

Di dalam tulisan purwacerita, Sanghyang Tunggal diterima oleh Dewi Rekatawati, dia adalah putri dari Sanghyang Rekatama.

Dari pernikah ini, lahirlah sebuah sebutir telur yang bercayaha, karena kesal Sanghyang Tunggal membanting telur tersebut, kemudian pecah menjadi 3 bagian yaitu cangkang telur, kuning telur fan putih telur. Yang kemudian menjelma menjadi anak laki-laki :

  • Yang berasal dari kuning telur yang dinamakan dengan manikmaya.
  • Berasal dari cangkang telur yang diberi nama antaga
  • Dan berasal dari putih telur yang diberi nama ismaya.

Pada suatu hari, Antaga dan Ismaya bertengkar untuk merebutkan tahta khayangan dan pada akhirnya mengadakan sayembara untuk mengambil gunung.

Antaga berusaha untuk melahap gunung tersebut hanya dengan satu kali telan, sehingga bisa menyebabkan mulutnya lebar dan robek.

Sedangkan Ismaya menggunakan cara, dengan dimakan dikit demi sedikit, dan akhirnya tidak bisa dikeluarkan dari perutnya, sehingga tubuhnya menjadi bulat.

Sanghyang tunggal, mengetahui kejadian tersebut dan akhirnya marah atas apa yang dilakukan anak tersebut, dan atas keserakahan mereka.

Pada akhirnya Manik Mayalah yang diangkat menjadi Raja Khayangan serta bergelar Batra Guru. Sedangkan Antaga dan Ismaya diturunkan ke bumi serta menggunakan nama Togog dan Semar.

  • Naskah Purwakanda

Di ceritakan dalam naskah Purwakanda, Sanghyang Tunggal mempunyai empat orang anak, yaitu, Batra Puguh, Batra Manan, Batara Pungguh, Batara Sumba.

Tahta kayangan yang akan diserahkan kepada Batara Sumba, namun mebuta ke tiga saudaranya yang notabenenya sebagai kakak yang dari Batra Sumba tidaklah terima. Akhirnya Batara Sumba diculik serta di siksa, bahkan sampai dikeluarkan oleh 3 saudaranya.

Kemudian, Sanghyang Tunggal mengetahui perilaku putranya, akhirnya akan ketiga putrnya dikutuk menjadi buruk rupa. Karena membantah, mereka diganti nama menjadi :

  • Pungguh diganti menjadi nama Semar
  • Sedangkan Batara Puguh diganti menjadi nama Togong.

Namun, Batara Manan mendapatkan pengampunan, karena dia hanyalah ikut-ikutan saja dengan kedua kakaknya. Batara Manan mempunyai gelar Batara Narada yang diperoleh oleh Batara Guru.

Demikian penjelasan tentang Wayang Semar secara lengkap. Apabila ada kesalahan kata mohon untuk di maafkan, mudah-mudahan artikel ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Baca Juga Pembahasan lain seputar pendidikan di symbianplanet.net

 

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply